Para Camat di Surabaya, Belajarlah Cara Menekan COVID-19 ke Tandes
Jum'at, 03 Juli 2020 - 07:06 WIB
loading...
A
A
A
“Mereka keliling Kampung Tangguh itu tidak hanya waktu pagi hari, tapi saat malam juga berkeliling untuk mengunjungi mana RW yang belum maksimal penerapan protokol kesehatan itu didatangi,” jelasnya.
(Baca juga: Wajib Rapid Test Sebelum UTBK, Calon Mahasiswa Menjerit )
Mereka juga mengedepankan cara berkomunikasi saat memberikan pemahaman kepada Satgas di Kampung Tangguh tentang protokol kesehatan. Selanjutnya masing-masing Satgas atau perangkat RT/RW setempat itu kemudian meneruskan kepada warganya. Misalnya, memberikan pemahaman kepada warga bahwa COVID-19 bukanlah penyakit yang memalukan. Sehingga ketika ada orang yang terpapar, warga tidak mengucilkan malah saling mensupport.
“Kita kasih pemahaman dulu kepada warga, kita kasih arahan, yang terpenting itu kuncinya. Kita tiga pilar setiap seminggu sekali selalu evaluasi kegiatan termasuk bersama dua Kepala Puskesmas,” jelasnya.
Bahkan, katanya, sering ada permasalahan yang menyangkut kasus COVID-19, tiga pilar ini terjun langsung bersama Kepala Puskesmas ke lapangan. Ia mencontohkan, dahulu ada warga yang dinyatakan hasil rapid test reaktif, namun warga itu enggan untuk isolasi di hotel meski kondisi rumahnya kurang layak. Alhasil, camat bersama tiga pilar dan puskesmas harus terjun langsung untuk memberikan pemahaman kepada pihak keluarga agar mau isolasi di hotel.
“Akhirnya saya turun didampingi kepala Puskesmas, saya kasih pemahaman ke suaminya dan dia akhirnya bisa kita bawa isolasi ke hotel. Intinya selama kita bisa menguwongkan (menghargai) orang, kita datangi ke rumahnya, Insya Allah tidak ada masalah,” jelasnya.
(Baca juga: Wajib Rapid Test Sebelum UTBK, Calon Mahasiswa Menjerit )
Mereka juga mengedepankan cara berkomunikasi saat memberikan pemahaman kepada Satgas di Kampung Tangguh tentang protokol kesehatan. Selanjutnya masing-masing Satgas atau perangkat RT/RW setempat itu kemudian meneruskan kepada warganya. Misalnya, memberikan pemahaman kepada warga bahwa COVID-19 bukanlah penyakit yang memalukan. Sehingga ketika ada orang yang terpapar, warga tidak mengucilkan malah saling mensupport.
“Kita kasih pemahaman dulu kepada warga, kita kasih arahan, yang terpenting itu kuncinya. Kita tiga pilar setiap seminggu sekali selalu evaluasi kegiatan termasuk bersama dua Kepala Puskesmas,” jelasnya.
Bahkan, katanya, sering ada permasalahan yang menyangkut kasus COVID-19, tiga pilar ini terjun langsung bersama Kepala Puskesmas ke lapangan. Ia mencontohkan, dahulu ada warga yang dinyatakan hasil rapid test reaktif, namun warga itu enggan untuk isolasi di hotel meski kondisi rumahnya kurang layak. Alhasil, camat bersama tiga pilar dan puskesmas harus terjun langsung untuk memberikan pemahaman kepada pihak keluarga agar mau isolasi di hotel.
“Akhirnya saya turun didampingi kepala Puskesmas, saya kasih pemahaman ke suaminya dan dia akhirnya bisa kita bawa isolasi ke hotel. Intinya selama kita bisa menguwongkan (menghargai) orang, kita datangi ke rumahnya, Insya Allah tidak ada masalah,” jelasnya.
Lihat Juga :