Keturunan HB II Minta Inggris Kembalikan Harta Rampasan Geger Sepehi
Kamis, 02 Juli 2020 - 15:45 WIB
loading...
A
A
A
Jenderal Raffles menyerbu Kraton Yogyakarta karena sejatinya dia takut dengan Sri Sultan HB II. Sang Raja tidak mau menyerahkan tahta kerajaannya dan tidak mau Yogyakarta jatuh ke tangan bangsa asing.
Mengutip Wikipedia, ucap Haris, Hamengkubuwono II sendiri sejak awal bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok.
Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799. Sri Sultan Hamengkubuwono II lahir 7 Maret 1750 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.
“Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh. Sri Sultan Hamengkubuwono II wafat pada tanggal 3 Januari 1828 dalam usia 77 tahun. Masa jabatannya yang kedua adalah yang paling singkat dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta,” paparnya.
Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC) adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen ciptaan Daendels). Sultan menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya.
“Jadi, kami para keturunan yang masih ada hingga saat ini tidak ada salahnya mengajukan ke pemerintah agar Hamengkubuwono II diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Kami telah mengajukan permohonan mendapat gelar Pahlawan Nasional sudah sejak tahun 2006. Tapi hingga saat ini belum ada kabar dari proses itu oleh pemerintah. Pihak kementerian juga tidak memberikan kabar," katanya.
Mengutip Wikipedia, ucap Haris, Hamengkubuwono II sendiri sejak awal bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok.
Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799. Sri Sultan Hamengkubuwono II lahir 7 Maret 1750 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.
“Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh. Sri Sultan Hamengkubuwono II wafat pada tanggal 3 Januari 1828 dalam usia 77 tahun. Masa jabatannya yang kedua adalah yang paling singkat dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta,” paparnya.
Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC) adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen ciptaan Daendels). Sultan menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya.
“Jadi, kami para keturunan yang masih ada hingga saat ini tidak ada salahnya mengajukan ke pemerintah agar Hamengkubuwono II diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Kami telah mengajukan permohonan mendapat gelar Pahlawan Nasional sudah sejak tahun 2006. Tapi hingga saat ini belum ada kabar dari proses itu oleh pemerintah. Pihak kementerian juga tidak memberikan kabar," katanya.
Lihat Juga :