Detik-detik Puluhan Preman Brutal Serang Apartemen di Penjaringan, Penghuni Histeris
Senin, 12 September 2022 - 17:27 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu penghuni Apartemen Pantai Mutiara, Yusuf Rusly (68) mengatakan penyerangan ini terjadi saat sebagian besar warga masih dalam unit dan hendak beraktifitas. Baca juga: Kronologi Mencekam Puluhan Preman Serang Apartemen Mewah di Pluit
”Kejadian tadi pagi jam 05.30 WIB, lalu saya lihat dari atas banyak gerombolan datang, kurang lebih di atas ada sekitar 50 - 100 orang (preman) yang datang dan masuk kedalam,” kata Yusuf kepada SINDOnews, Senin (12/9/2022).
Menurut Yusuf, ratusan preman tersebut datang membuat anarkis dengan memecahkan kaca di kantor pengelola. Banyak yang menjadi korban kebrutalan preman tersebut. ”Semuanya, banyak satpam dipukuli, saya dengar ada lima satpam dipukuli,” ungkapnya.
Adapun dari kejadian ini, diungkapkan Yusuf banyak warga yang resah bahkan tak jarang juga banyak anak-anak yang hendak berangkat sekolah histeris melihat gerombolan preman tersebut.
”Warga sangat resah, terutama anak-anak kecil yang mau sekolah. Ada beberapa yang sampai batal mau sekolah, mereka nggak jadi sekolah, gara-gara ada banyak orang. Ini premanisme yang kurang bagus. Kan ini negara hukum, bukan negara preman,” ungkapnya.
”Kejadian tadi pagi jam 05.30 WIB, lalu saya lihat dari atas banyak gerombolan datang, kurang lebih di atas ada sekitar 50 - 100 orang (preman) yang datang dan masuk kedalam,” kata Yusuf kepada SINDOnews, Senin (12/9/2022).
Menurut Yusuf, ratusan preman tersebut datang membuat anarkis dengan memecahkan kaca di kantor pengelola. Banyak yang menjadi korban kebrutalan preman tersebut. ”Semuanya, banyak satpam dipukuli, saya dengar ada lima satpam dipukuli,” ungkapnya.
Adapun dari kejadian ini, diungkapkan Yusuf banyak warga yang resah bahkan tak jarang juga banyak anak-anak yang hendak berangkat sekolah histeris melihat gerombolan preman tersebut.
”Warga sangat resah, terutama anak-anak kecil yang mau sekolah. Ada beberapa yang sampai batal mau sekolah, mereka nggak jadi sekolah, gara-gara ada banyak orang. Ini premanisme yang kurang bagus. Kan ini negara hukum, bukan negara preman,” ungkapnya.
Lihat Juga :