Kisah Iswahyudi yang Gagal Jadi Dokter dan Masuk Angkatan Udara Belanda, Perintis TNI-AU
Selasa, 16 Agustus 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Untuk menuntaskan opsesinya, Iswahyudi pindah ke Militaire Luchtvaart Opleiding School, penerbangan Belanda di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Iswahyudi menyelesaikan pendidikan di sekolah penerbangan itu pada 1941 dan sukses meraih predikat Klein Militaire Brevet.
Pada saat itu perang dunia kedua meletus. Dalam sekejap, Asia Tenggara jatuh ke tentara Jepang. Bangsa Nipon itu pun menduduki Indonesia. Oleh pemerintah Hindia Belanda, Iswahyudi direkrut dan dilarikan ke Australia. Baca juga: Dalang Pembunuhan Sadis Bendahara KONI di Bogor Ternyata Oknum TNI AU
Di Australia, putra terbaik asal Kota Surabaya ini diberikan pelatihan menerbangkan pesawat. Iswahyudi dipersiapkan untuk ikut dalam operasi-operasi udara militer Belanda dan sekutunya. Namun, Iswahyudi diam-diam menolak penugasan ini. Sebagai jalan keluar, pada 1943, ia memilih kabur pulang ke Indonesia dengan menggunakan perahu karet.
Tiba di Surabaya, bukan tanpa tantangan dan risiko. Ia bahkan sempat ditahan oleh otoritas setempat kala itu, lantaran dicurigai sebagai mata-mata Belanda. Beruntung, ia berhasil bebas atas bantuan teman temannya. Bahkan Iswahyudi diterima sebagai pegawai pemerintah Kota Surabaya, yang saat itu di bawah kendali Jepang.
Dinamika perang kian cepat. Jepang akhirnya menyerah kalah setelah Kota Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh bom atom. Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1946. Bersamaan dengan itu, Iswahyudi dan para pemuda yang lain berjuang mempertahankan Kota Surabaya dan merebut kantor-kantor yang masih dikuasai Jepang. Iswahyudi memimpin para pemuda memasang bendera merah putih di Kantor Jawatan Kereta Api.
Pada Desember 1945, Iswahyudi bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan di Yogyakarta. Di sini dia diangkat sebagai pembantu utama Adisucipto karena kecakapannya.
Pada saat itu perang dunia kedua meletus. Dalam sekejap, Asia Tenggara jatuh ke tentara Jepang. Bangsa Nipon itu pun menduduki Indonesia. Oleh pemerintah Hindia Belanda, Iswahyudi direkrut dan dilarikan ke Australia. Baca juga: Dalang Pembunuhan Sadis Bendahara KONI di Bogor Ternyata Oknum TNI AU
Di Australia, putra terbaik asal Kota Surabaya ini diberikan pelatihan menerbangkan pesawat. Iswahyudi dipersiapkan untuk ikut dalam operasi-operasi udara militer Belanda dan sekutunya. Namun, Iswahyudi diam-diam menolak penugasan ini. Sebagai jalan keluar, pada 1943, ia memilih kabur pulang ke Indonesia dengan menggunakan perahu karet.
Tiba di Surabaya, bukan tanpa tantangan dan risiko. Ia bahkan sempat ditahan oleh otoritas setempat kala itu, lantaran dicurigai sebagai mata-mata Belanda. Beruntung, ia berhasil bebas atas bantuan teman temannya. Bahkan Iswahyudi diterima sebagai pegawai pemerintah Kota Surabaya, yang saat itu di bawah kendali Jepang.
Dinamika perang kian cepat. Jepang akhirnya menyerah kalah setelah Kota Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh bom atom. Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1946. Bersamaan dengan itu, Iswahyudi dan para pemuda yang lain berjuang mempertahankan Kota Surabaya dan merebut kantor-kantor yang masih dikuasai Jepang. Iswahyudi memimpin para pemuda memasang bendera merah putih di Kantor Jawatan Kereta Api.
Pada Desember 1945, Iswahyudi bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan di Yogyakarta. Di sini dia diangkat sebagai pembantu utama Adisucipto karena kecakapannya.
Lihat Juga :