Seminar Kebangsaan Kalla Institute: Kebijakan Pendidikan Kunci Restorasi Nasionalisme
Senin, 15 Agustus 2022 - 18:57 WIB
loading...
A
A
A
Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan profil pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter yang diawali dengan kepala sekolah dan guru yang unggul.
"Di sekolah penggerak ada kurikulum merdeka dan ini sangat tepat untuk merestorasi semangat nasionalisme. Bakat dan minat siswa sangat dihargai, bukan hanya di ekstrakurikuler, tapi juga di intrakurikuler. Pemilihan mata pelajaran siswa disesuaikan oleh minat dan bakatnya," tutur Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar ini.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Maros, Kamaluddin Nur menambahkan, saat ini ada banyak contoh sikap yang menunjukkan kurangnya rasa nasionalisme. Hal itu sangat jelas terlihat di kehidupan sehari-hari.
Misalnya saja, seringnya remaja mencampur bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari, kurangnya kesadaran untuk memasang bendera merah putih di depan rumah, ataupun perkantoran, hingga sikap acuh tak acuh dalam pelbagai persoalan bangsa.
Baca juga:Kalla Startup Hunt Seri ke-3 Bahas Peluang Bisnis Sektor Transportasi dan Logistik
Hal seperti ini tentu jadi perhatian kita semua, bagaimana seharusnya anak-anak diberi bekal pendidikan kebangsaan dan politik supaya bisa memahami bahwa generasi muda itu bisa membangun bangsa," katanya.
"Bentuk kecintaan itu bukan hanya hormat bendera, bukan hanya kumandangkan Indonesia Raya, tapi bagaimana berpendidikan untuk memiliki ilmu dan mengaplikasikannya ke masyarakat. Itulah satu bentuk cinta tanah air," tandasnya.
"Di sekolah penggerak ada kurikulum merdeka dan ini sangat tepat untuk merestorasi semangat nasionalisme. Bakat dan minat siswa sangat dihargai, bukan hanya di ekstrakurikuler, tapi juga di intrakurikuler. Pemilihan mata pelajaran siswa disesuaikan oleh minat dan bakatnya," tutur Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar ini.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Maros, Kamaluddin Nur menambahkan, saat ini ada banyak contoh sikap yang menunjukkan kurangnya rasa nasionalisme. Hal itu sangat jelas terlihat di kehidupan sehari-hari.
Misalnya saja, seringnya remaja mencampur bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari, kurangnya kesadaran untuk memasang bendera merah putih di depan rumah, ataupun perkantoran, hingga sikap acuh tak acuh dalam pelbagai persoalan bangsa.
Baca juga:Kalla Startup Hunt Seri ke-3 Bahas Peluang Bisnis Sektor Transportasi dan Logistik
Hal seperti ini tentu jadi perhatian kita semua, bagaimana seharusnya anak-anak diberi bekal pendidikan kebangsaan dan politik supaya bisa memahami bahwa generasi muda itu bisa membangun bangsa," katanya.
"Bentuk kecintaan itu bukan hanya hormat bendera, bukan hanya kumandangkan Indonesia Raya, tapi bagaimana berpendidikan untuk memiliki ilmu dan mengaplikasikannya ke masyarakat. Itulah satu bentuk cinta tanah air," tandasnya.
(luq)
Lihat Juga :