Seminar Kebangsaan Kalla Institute: Kebijakan Pendidikan Kunci Restorasi Nasionalisme
Senin, 15 Agustus 2022 - 18:57 WIB
loading...
Kalla Institute menggelar Seminar Kebangsaan di Auditorium Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolalido, Senin (15/8/2022). Foto: Istimewa
A
A
A
MAKASSAR - Kebijakan pendidikan disebut menjadi kunci restorasi semangat nasionalisme. Hal itu mengemuka dalam seminar kebangsaan yang digelar Kalla Institute dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia, serta menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa Kalla Institute.
Dalam seminar itu, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan , Andi Januar Jaury Dharwis mengungkapkan, kebijakan pemerintah di bidang pendidikan sangat diperlukan untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Sebab SDM unggul akan menjunjung tinggi nasionalisme.
Baca juga:Buruan Daftar, Penerimaan Mahasiswa Baru Kalla Institute Ditutup September
"Kebijakan bidang pendidikan itu bisa keluar dari sebuah kebijakan yang dihasilkan oleh Presiden dan DPR, serta Pemda dan DPRD. Kalau salah satu instrumennya tidak berkualitas, kira kira seperti apa hasilnya?" ungkap Januar.
Jaury mengemukakan bahwa sikap nasionalisme, khususnya bagi remaja juga sangat penting agar mereka tidak menjadi pribadi yang apatis. Apalagi, tak sedikit dari mereka yang akan menjadi calon pemilih dalam pemilihan umum.
"Sikap nasionalisme para pemilih pemula ini harus mereka wujudkan dalam keterlibatan menyeleksi calon pemimpin bangsa. Turut juga meng-guidance lingkungan sekitar untuk memberikan kepercayaan produk-produk yang berkualitas, jangan produk-produk yang pragmatisme," tuturnya.
Masifnya informasi global dari ruang digital, kata dia, menjadi tantangan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme dan sikap patriotisme di kalangan remaja. Oleh karena itu, dia meminta agar pemerintah menyusun strategi untuk memaksimalkan penguatan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan.
"Inilah diperlukan filter di sini karena paham-paham nasionalisme itu kan cair, tidak ada yang baku. Bergantung kebutuhan masing-masing negara. Ada yang menganggap nasionalisme itu identitas, tetapi di sisi lain, dianggap rendah bangsa lain," jelas dia.
Di lain sisi, dia berujar jika nasionalisme yang berlebihan, apalagi tak disertai nilai ketuhanan dan kemanusiaan, justru bisa mempertajam perbedaan. Sehingga, juga sangat penting untuk memahami nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa untuk menahan laju globalisasi masif yang tidak sedikit yang bertentangan dengan adat ketimuran.
"Lagi-lagi, nasionalisme yang melekat pada diri kita menjadi filter dan Pancasila menjadi menjadi benteng untuk mengurai semua disrupsi tentang pembauran idealisme dan globalisasi," tandasnya.
Baca juga:Bus Cahaya Bone Layani Rute Parepare Khusus Demi Pendukung PSM Makassar
Praktisi Pendidikan, Tawakkal Kahar mengungkapkan, memahami nasionalisme sebenarnya bukan perkara sulit, yang sulit adalah untuk menerapkan nilai-nilai nasionalisme itu dalam kehidupan sehari-hari.
"Tidak bisa tercapai Indonesia maju kalau semangat nasionalisme tidak ada. Tapi negara juga harus memberi janji untuk memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakatnya," ungkap dia.
Dia berujar, membangun semangat nasionalisme di dunia pendidikan saat ini sudah mulai tercermin melalui program sekolah penggerak dan kurikulum merdeka belajar yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan profil pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter yang diawali dengan kepala sekolah dan guru yang unggul.
"Di sekolah penggerak ada kurikulum merdeka dan ini sangat tepat untuk merestorasi semangat nasionalisme. Bakat dan minat siswa sangat dihargai, bukan hanya di ekstrakurikuler, tapi juga di intrakurikuler. Pemilihan mata pelajaran siswa disesuaikan oleh minat dan bakatnya," tutur Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar ini.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Maros, Kamaluddin Nur menambahkan, saat ini ada banyak contoh sikap yang menunjukkan kurangnya rasa nasionalisme. Hal itu sangat jelas terlihat di kehidupan sehari-hari.
Misalnya saja, seringnya remaja mencampur bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari, kurangnya kesadaran untuk memasang bendera merah putih di depan rumah, ataupun perkantoran, hingga sikap acuh tak acuh dalam pelbagai persoalan bangsa.
Baca juga:Kalla Startup Hunt Seri ke-3 Bahas Peluang Bisnis Sektor Transportasi dan Logistik
Hal seperti ini tentu jadi perhatian kita semua, bagaimana seharusnya anak-anak diberi bekal pendidikan kebangsaan dan politik supaya bisa memahami bahwa generasi muda itu bisa membangun bangsa," katanya.
"Bentuk kecintaan itu bukan hanya hormat bendera, bukan hanya kumandangkan Indonesia Raya, tapi bagaimana berpendidikan untuk memiliki ilmu dan mengaplikasikannya ke masyarakat. Itulah satu bentuk cinta tanah air," tandasnya.
Dalam seminar itu, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan , Andi Januar Jaury Dharwis mengungkapkan, kebijakan pemerintah di bidang pendidikan sangat diperlukan untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Sebab SDM unggul akan menjunjung tinggi nasionalisme.
Baca juga:Buruan Daftar, Penerimaan Mahasiswa Baru Kalla Institute Ditutup September
"Kebijakan bidang pendidikan itu bisa keluar dari sebuah kebijakan yang dihasilkan oleh Presiden dan DPR, serta Pemda dan DPRD. Kalau salah satu instrumennya tidak berkualitas, kira kira seperti apa hasilnya?" ungkap Januar.
Jaury mengemukakan bahwa sikap nasionalisme, khususnya bagi remaja juga sangat penting agar mereka tidak menjadi pribadi yang apatis. Apalagi, tak sedikit dari mereka yang akan menjadi calon pemilih dalam pemilihan umum.
"Sikap nasionalisme para pemilih pemula ini harus mereka wujudkan dalam keterlibatan menyeleksi calon pemimpin bangsa. Turut juga meng-guidance lingkungan sekitar untuk memberikan kepercayaan produk-produk yang berkualitas, jangan produk-produk yang pragmatisme," tuturnya.
Masifnya informasi global dari ruang digital, kata dia, menjadi tantangan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme dan sikap patriotisme di kalangan remaja. Oleh karena itu, dia meminta agar pemerintah menyusun strategi untuk memaksimalkan penguatan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan.
"Inilah diperlukan filter di sini karena paham-paham nasionalisme itu kan cair, tidak ada yang baku. Bergantung kebutuhan masing-masing negara. Ada yang menganggap nasionalisme itu identitas, tetapi di sisi lain, dianggap rendah bangsa lain," jelas dia.
Di lain sisi, dia berujar jika nasionalisme yang berlebihan, apalagi tak disertai nilai ketuhanan dan kemanusiaan, justru bisa mempertajam perbedaan. Sehingga, juga sangat penting untuk memahami nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa untuk menahan laju globalisasi masif yang tidak sedikit yang bertentangan dengan adat ketimuran.
"Lagi-lagi, nasionalisme yang melekat pada diri kita menjadi filter dan Pancasila menjadi menjadi benteng untuk mengurai semua disrupsi tentang pembauran idealisme dan globalisasi," tandasnya.
Baca juga:Bus Cahaya Bone Layani Rute Parepare Khusus Demi Pendukung PSM Makassar
Praktisi Pendidikan, Tawakkal Kahar mengungkapkan, memahami nasionalisme sebenarnya bukan perkara sulit, yang sulit adalah untuk menerapkan nilai-nilai nasionalisme itu dalam kehidupan sehari-hari.
"Tidak bisa tercapai Indonesia maju kalau semangat nasionalisme tidak ada. Tapi negara juga harus memberi janji untuk memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakatnya," ungkap dia.
Dia berujar, membangun semangat nasionalisme di dunia pendidikan saat ini sudah mulai tercermin melalui program sekolah penggerak dan kurikulum merdeka belajar yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan profil pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter yang diawali dengan kepala sekolah dan guru yang unggul.
"Di sekolah penggerak ada kurikulum merdeka dan ini sangat tepat untuk merestorasi semangat nasionalisme. Bakat dan minat siswa sangat dihargai, bukan hanya di ekstrakurikuler, tapi juga di intrakurikuler. Pemilihan mata pelajaran siswa disesuaikan oleh minat dan bakatnya," tutur Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar ini.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Maros, Kamaluddin Nur menambahkan, saat ini ada banyak contoh sikap yang menunjukkan kurangnya rasa nasionalisme. Hal itu sangat jelas terlihat di kehidupan sehari-hari.
Misalnya saja, seringnya remaja mencampur bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari, kurangnya kesadaran untuk memasang bendera merah putih di depan rumah, ataupun perkantoran, hingga sikap acuh tak acuh dalam pelbagai persoalan bangsa.
Baca juga:Kalla Startup Hunt Seri ke-3 Bahas Peluang Bisnis Sektor Transportasi dan Logistik
Hal seperti ini tentu jadi perhatian kita semua, bagaimana seharusnya anak-anak diberi bekal pendidikan kebangsaan dan politik supaya bisa memahami bahwa generasi muda itu bisa membangun bangsa," katanya.
"Bentuk kecintaan itu bukan hanya hormat bendera, bukan hanya kumandangkan Indonesia Raya, tapi bagaimana berpendidikan untuk memiliki ilmu dan mengaplikasikannya ke masyarakat. Itulah satu bentuk cinta tanah air," tandasnya.
(luq)
Lihat Juga :