Kisah Pilu Anak Belia di Kobar, Tak Bisa Jalan dan Bicara
Selasa, 30 Juni 2020 - 07:41 WIB
loading...
A
A
A
Hingga dikaruniai anak iapun tak berdaya melihat kondisinya. Mau meminta bantuan kepada pemerintah ia menyadari bahwa administrasi kependudukannya tidak diurus. Sehingga sulit untuk berurusan apalagi semua mensyaratkan adanya Kartu Tanda Penduduk (KTP) setempat atau administrasi kependudukan lainnya.
"Saya sadar ini salah, tapi saya juga bingung mau mengurus takutnya saya di sini hanya menumpang sewaktu-waktu jika digunakan oleh pemiliknya saya pasti akan pindah lagi. Di sini saya hanya numpang tinggal kalau ada uang saya bayar kalau tidak juga tidak apa-apa kata pemiliknya," tutur Paidi.
(Baca juga: Tangisnya Pecah Saat Sujud di Kaki Dokter, Ini Ungkapan Hati Risma )
Bahkan ia juga tak melapor ke RT setempat terkait keberadaannya, padahal sudah sembilan tahun tinggal dikontrakan tersebut. Iapun menyadari jika selama ini tidak pernah tersentuh bantuan karena tidak mengurus administrasi kependudukan. Namun dalam hati kecilnya ia akan sangat bersyukur jika ada yang membantu untuk kesembuhan anaknya karena ia juga memiliki hak atas masa depan yang baik.
Tanda-tanda adanya kelainan sebenarnya tidak dirasakan namun pada saat usia kehamilan enam bulan ketuban pecah. "Katanya ketuban pecah tapi apakah benar atau tidak saya kurang tau, hanya itu saja keanehan yang saya alami," timpal Sri Utami.
Secara fisik memang tidak normal tetapi Ikhsana Nurmalia ini mengerti apa yang dikomunikasikan orang hanya tidak bisa berbicara. "Kami hanya pasrah mas, mau bagaimana lagi, tetapi harapan kami jika memang bisa sembuh pasti akan sangat bahagia," harapnya.
"Saya sadar ini salah, tapi saya juga bingung mau mengurus takutnya saya di sini hanya menumpang sewaktu-waktu jika digunakan oleh pemiliknya saya pasti akan pindah lagi. Di sini saya hanya numpang tinggal kalau ada uang saya bayar kalau tidak juga tidak apa-apa kata pemiliknya," tutur Paidi.
(Baca juga: Tangisnya Pecah Saat Sujud di Kaki Dokter, Ini Ungkapan Hati Risma )
Bahkan ia juga tak melapor ke RT setempat terkait keberadaannya, padahal sudah sembilan tahun tinggal dikontrakan tersebut. Iapun menyadari jika selama ini tidak pernah tersentuh bantuan karena tidak mengurus administrasi kependudukan. Namun dalam hati kecilnya ia akan sangat bersyukur jika ada yang membantu untuk kesembuhan anaknya karena ia juga memiliki hak atas masa depan yang baik.
Tanda-tanda adanya kelainan sebenarnya tidak dirasakan namun pada saat usia kehamilan enam bulan ketuban pecah. "Katanya ketuban pecah tapi apakah benar atau tidak saya kurang tau, hanya itu saja keanehan yang saya alami," timpal Sri Utami.
Secara fisik memang tidak normal tetapi Ikhsana Nurmalia ini mengerti apa yang dikomunikasikan orang hanya tidak bisa berbicara. "Kami hanya pasrah mas, mau bagaimana lagi, tetapi harapan kami jika memang bisa sembuh pasti akan sangat bahagia," harapnya.
Lihat Juga :