Harganas Tingkat Provinsi Sulsel, Momentum Fokus Turunkan Angka Stunting
Kamis, 28 Juli 2022 - 15:32 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian meningkatkan kinerja pengelola dalam program Bangga Kencana, dan meningkatkan kepedulian keluarga Indonesia dalam penurunan stunting. "Oleh karena itu, tema Harganas ke-29 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan ini adalah ayo cegah stunting agar keluarga bebas stunting," sebutnya.
Lebih jauh, Rita membeberkan jika Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman stunting. Prevalensi stunting nasional saat ini masih cukup tinggi, yakni 24,4 persen, sementara Sulsel masih di atas rata-rata nasional, yakni 27,4 persen.
"Pemerintah pusat telah menargetkan prevalensi stunting turun dari 30,8 persen tahun 2018 dan 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 14 persen di tahun 2024," ungkapnya.
Deputi Bidang Pelatihan, penelitian dan pengembangan (Lalitbang) BKKBN , M.Rizal Damanik, menambahkan dengan persentase tersebut, bisa dimaknai bahwa dari 100 kelahiran, ada 24 bayi yang masuk dalam kategori stunting. Stunting menjadi persoalan karena dampak yang ditimbulkannya berkelanjutan dan jangka panjang.
"Bayi yang terlahir stunting ini tidak langsung meninggal dunia. Kalau meninggal dunia, bisa langsung dikebumikan. Tapi dia akan hidup dengan segala kekurangan dan keterbatasan," ujar Rizal.
Kekurangan gizi kronis yang menyebabkan bayi menjadi stunting, kata dia, akan memberikan dampak yang cukup serius. Salah satunya terganggunya pertumbuhan organ tubuh, seperti jantung, paru-paru, organ reproduksi, sampai pada perkembangan sel otak.
"Itu sebabnya, bayi stunting pasti pendek tapi yang pendek belum tentu stunting. Pendek karena pertumbuhan tungkai pahanya tidak maksimal karena kurang mengonsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium," urainya.
Lebih jauh, Rita membeberkan jika Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman stunting. Prevalensi stunting nasional saat ini masih cukup tinggi, yakni 24,4 persen, sementara Sulsel masih di atas rata-rata nasional, yakni 27,4 persen.
"Pemerintah pusat telah menargetkan prevalensi stunting turun dari 30,8 persen tahun 2018 dan 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 14 persen di tahun 2024," ungkapnya.
Deputi Bidang Pelatihan, penelitian dan pengembangan (Lalitbang) BKKBN , M.Rizal Damanik, menambahkan dengan persentase tersebut, bisa dimaknai bahwa dari 100 kelahiran, ada 24 bayi yang masuk dalam kategori stunting. Stunting menjadi persoalan karena dampak yang ditimbulkannya berkelanjutan dan jangka panjang.
"Bayi yang terlahir stunting ini tidak langsung meninggal dunia. Kalau meninggal dunia, bisa langsung dikebumikan. Tapi dia akan hidup dengan segala kekurangan dan keterbatasan," ujar Rizal.
Kekurangan gizi kronis yang menyebabkan bayi menjadi stunting, kata dia, akan memberikan dampak yang cukup serius. Salah satunya terganggunya pertumbuhan organ tubuh, seperti jantung, paru-paru, organ reproduksi, sampai pada perkembangan sel otak.
"Itu sebabnya, bayi stunting pasti pendek tapi yang pendek belum tentu stunting. Pendek karena pertumbuhan tungkai pahanya tidak maksimal karena kurang mengonsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium," urainya.
Lihat Juga :