Siasat Menyerah Panglima Wangkang Bikin Pasukan Belanda Pusing
Selasa, 26 Juli 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Namun, selama masa tunggu enam bulan di Marabahan yang merupakan tempat kelahirannya itu, Wangkang mengonsolidasikan kekuatannya. Ia menghimpun kekuatan dari kaum kerabatnya, teman-temannya, dan pengikut-pengikutnya. Merasa kuat, pasukan Wangkang menyerang benteng Kween.
Pada tahun 1872, pasukan tentara Belanda yang baru didatangkan dari Batavia menyerang Benteng Mahang di Sungai Badandan, tempat pasukan Wangkang berlindung. Benteng Mahang diberondong tentara Belanda dengan meriam hingga hancur berantakan. Pasukan Panglima Wangkang terpaksa lari ke hutan.
Dalam pertempuran yang berlangsung hampir sehari penuh itu, Panglima Wangkang gugur. Oleh pendampingnya yang setia, yakni Panglima Mahmud dan Panglima Odi, mayat Wangkang disembunyikan di bawah semak belukar. Baca juga: Bela Rakyat yang Menderita Kerja Rodi, Pangeran Kornel Berani Tantang Daendls
Karena sebelum pertempuran itu meletus, Belanda kembali mengumumkan bagi siapa saja yang dapat menangkap Wangkang hidup atau mati, akan diberikan hadiah ribuan Gulden.
Mayat Wangkang yang masih utuh itu, kemudian dimakamkan di Marabahan, Kampung Bentok (Tengah), saat ini dikenal sebagai Jalan Panglima Wangkang RT IX Kelurahan Marabahan Kota.
Menurut cerita, jenazahnya tidak dimandikan dan tidak menggunakan peti mati. Hal itu dilakukan sesuai wasiatnya, "Kalau saya mati, mayat saya jangan dimandikan, karena setiap saya berangkat menyerang Belanda, saya sudah berwudhu dan saya rela mati melawan Belanda".
Pada tahun 1872, pasukan tentara Belanda yang baru didatangkan dari Batavia menyerang Benteng Mahang di Sungai Badandan, tempat pasukan Wangkang berlindung. Benteng Mahang diberondong tentara Belanda dengan meriam hingga hancur berantakan. Pasukan Panglima Wangkang terpaksa lari ke hutan.
Dalam pertempuran yang berlangsung hampir sehari penuh itu, Panglima Wangkang gugur. Oleh pendampingnya yang setia, yakni Panglima Mahmud dan Panglima Odi, mayat Wangkang disembunyikan di bawah semak belukar. Baca juga: Bela Rakyat yang Menderita Kerja Rodi, Pangeran Kornel Berani Tantang Daendls
Karena sebelum pertempuran itu meletus, Belanda kembali mengumumkan bagi siapa saja yang dapat menangkap Wangkang hidup atau mati, akan diberikan hadiah ribuan Gulden.
Mayat Wangkang yang masih utuh itu, kemudian dimakamkan di Marabahan, Kampung Bentok (Tengah), saat ini dikenal sebagai Jalan Panglima Wangkang RT IX Kelurahan Marabahan Kota.
Menurut cerita, jenazahnya tidak dimandikan dan tidak menggunakan peti mati. Hal itu dilakukan sesuai wasiatnya, "Kalau saya mati, mayat saya jangan dimandikan, karena setiap saya berangkat menyerang Belanda, saya sudah berwudhu dan saya rela mati melawan Belanda".
(don)
Lihat Juga :