Kisah Surawisesa, Penerus Takhta Kerajaan Pajajaran Minta Perlindungan Portugis
Sabtu, 25 Juni 2022 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Perjanjian antara Pajajaran di bawah Surawisesa dengan Portugis ini mendatangkan kecemasan dari Kerajaan Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana. Kecemasan mengacu pada Selat Malaka yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara.
Menurut Trenggana, dengan jatuhnya Sunda dan Malaka dikuasai Portugis, secara otomatis akan melumpuhkan sektor maritim kerajaan di Nusantara. Terlebih Selat Malaka sebagai urat nadi kehidupan ekonomi Kerajaan Demak akan terputus.
Bersatunya Demak dan Cirebon
Sultan Trenggana menghimpun kekuatan dan melakukan segala cara untuk bisa mengantisipasinya. Pernikahan politik dengan Cirebon, menjadikan Demak dan Cirebon memiliki hubungan yang kuat.
Kelak dua kerajaan inilah yang akhirnya menyerbu ke daerah kekuasaan Portugis. Gabungan pasukan Demak - Cirebon inilah yang menjadi kekuatan untuk menyerang Banten wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, pintu utama Selat Sunda. Sebelum pasukan ini datang di Banten, telah terjadi huru - hara yang dilakukan Pangeran Hasanuddin dan para pengikutnya.
Serangan tersebut membuat masyarakat ketakutan, bahkan Bupati Banten dan keluarga besarnya kala itu terpaksa memutuskan mengungsi ke ibu kota Pakuan Pajajaran. Di tahun 1527 Masehi, pasukan gabungan Demak - Cirebon inilah berhasil merebut Pelabuhan Kalapa dari tangan Pajajaran.
Penaklukan ini tidak karena pasukan yang dipimpin Fatahillah menggunakan meriam yang tidak dimiliki oleh pasukan Pajajaran. Sehingga pasukan dari Pakuan berhasil dipukul mundur. Portugis saat itu sebenarnya ingin membantu, bahkan armada yang dipimpin Francisco de Sa yang mendapat tugas dari atasannya untuk membangun proyek benteng diangkat menjadi Gubernur di India.
Keberangkatan armada pasukan pun telah disiapkan, total ada 6 kapal berangkat dari Goa India. Tetapi sesampainya di tengah perjalanan armada ini diterpa badai di Teluk Benggala, sehingga harus memakan waktu lebih lama untuk tiba di Sunda.
Menurut Trenggana, dengan jatuhnya Sunda dan Malaka dikuasai Portugis, secara otomatis akan melumpuhkan sektor maritim kerajaan di Nusantara. Terlebih Selat Malaka sebagai urat nadi kehidupan ekonomi Kerajaan Demak akan terputus.
Bersatunya Demak dan Cirebon
Sultan Trenggana menghimpun kekuatan dan melakukan segala cara untuk bisa mengantisipasinya. Pernikahan politik dengan Cirebon, menjadikan Demak dan Cirebon memiliki hubungan yang kuat.
Kelak dua kerajaan inilah yang akhirnya menyerbu ke daerah kekuasaan Portugis. Gabungan pasukan Demak - Cirebon inilah yang menjadi kekuatan untuk menyerang Banten wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, pintu utama Selat Sunda. Sebelum pasukan ini datang di Banten, telah terjadi huru - hara yang dilakukan Pangeran Hasanuddin dan para pengikutnya.
Serangan tersebut membuat masyarakat ketakutan, bahkan Bupati Banten dan keluarga besarnya kala itu terpaksa memutuskan mengungsi ke ibu kota Pakuan Pajajaran. Di tahun 1527 Masehi, pasukan gabungan Demak - Cirebon inilah berhasil merebut Pelabuhan Kalapa dari tangan Pajajaran.
Penaklukan ini tidak karena pasukan yang dipimpin Fatahillah menggunakan meriam yang tidak dimiliki oleh pasukan Pajajaran. Sehingga pasukan dari Pakuan berhasil dipukul mundur. Portugis saat itu sebenarnya ingin membantu, bahkan armada yang dipimpin Francisco de Sa yang mendapat tugas dari atasannya untuk membangun proyek benteng diangkat menjadi Gubernur di India.
Keberangkatan armada pasukan pun telah disiapkan, total ada 6 kapal berangkat dari Goa India. Tetapi sesampainya di tengah perjalanan armada ini diterpa badai di Teluk Benggala, sehingga harus memakan waktu lebih lama untuk tiba di Sunda.
Lihat Juga :