Panasnya Persaingan Dagang di Jalur Strategis Picu Kerajaan Chola Serang Sriwijaya
Selasa, 21 Juni 2022 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Selain membangun kekuatan militer, Sriwijaya juga membangun hubungan diplomatik yang baik dengan kerajaan Chola di India. Misalnya, pada tahun 1006, saat Chola diperintah oleh Rajaraja, raja Maravijayattungavarman dari Sriwijaya membangun Vihara Chudamani di Nagapattinam.
Sayangnya, hubungan baik tidak berlangsung langgeng. Ternyata, Chola juga teropsesi untuk menjadi kerajaan yang menguasa jalur perdagangan yang sudah sekian lama dinikmati Sriwijaya. Hubungan itu semakin runyam saat Rajendra naik tahta menggantikan ayahnya. Rajendra mulai invasinya ke Asia Tenggara terutama daerah-daerah strategis yang dilintasi jalur perdagangan.
Menurut beberapa sumber, ambisi Chola untuk menghabisi Sriwijaya juga dipicu konflik antara kerajaan Khmer dan kerajaan Tambralinga. Raja Khmer, Suryavarman I meminta dukungan Rajendra dalam konfliknya dengan Tambralinga.
Di sisi lain, Tambralinga mendekati raja Sriwijaya, Sangrama Vijayatungavarman untuk meminta dukungannya. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Chola bangkit melawan Sriwijaya. Baca juga: Prasasti Waqfiyya Ungkap Dokumentasi Wakaf Dua Desa di Palestina pada Abad Ke-9
Alasan lain, seperti disampaikan sejarawan Nilakanta Sastri, dipicu oleh langkah Sriwijaya yang membatasi perdagangan Kerajaan Chola dengan Kekaisaran Cina. Jadi, ambisi Rajendra, konflik kerajaan sahabat dan persaingan perdagangan menjadi pemicu penyerangan terhadap Sriwijaya.
Pada 1025 M, Chola melancarkan serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Dikisahkan, Angkatan Laut Kerajaan Chola berlayar menuju ke timur, berlabuh di Pelabuhan Lamuri atau Kedah di Semenanjung Melayu. Dari situ, armada Chola melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka.
Armada Kerajaan Chola mengambil rute singkat dengan menyuuri pantai barat Sumatra dan berlabuh di Barus, sebuah pelabuhan di pantai barat Sumatra yang, pada waktu itu, dikendalikan oleh para pedagang Tamil.
Sayangnya, hubungan baik tidak berlangsung langgeng. Ternyata, Chola juga teropsesi untuk menjadi kerajaan yang menguasa jalur perdagangan yang sudah sekian lama dinikmati Sriwijaya. Hubungan itu semakin runyam saat Rajendra naik tahta menggantikan ayahnya. Rajendra mulai invasinya ke Asia Tenggara terutama daerah-daerah strategis yang dilintasi jalur perdagangan.
Menurut beberapa sumber, ambisi Chola untuk menghabisi Sriwijaya juga dipicu konflik antara kerajaan Khmer dan kerajaan Tambralinga. Raja Khmer, Suryavarman I meminta dukungan Rajendra dalam konfliknya dengan Tambralinga.
Di sisi lain, Tambralinga mendekati raja Sriwijaya, Sangrama Vijayatungavarman untuk meminta dukungannya. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Chola bangkit melawan Sriwijaya. Baca juga: Prasasti Waqfiyya Ungkap Dokumentasi Wakaf Dua Desa di Palestina pada Abad Ke-9
Alasan lain, seperti disampaikan sejarawan Nilakanta Sastri, dipicu oleh langkah Sriwijaya yang membatasi perdagangan Kerajaan Chola dengan Kekaisaran Cina. Jadi, ambisi Rajendra, konflik kerajaan sahabat dan persaingan perdagangan menjadi pemicu penyerangan terhadap Sriwijaya.
Pada 1025 M, Chola melancarkan serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Dikisahkan, Angkatan Laut Kerajaan Chola berlayar menuju ke timur, berlabuh di Pelabuhan Lamuri atau Kedah di Semenanjung Melayu. Dari situ, armada Chola melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka.
Armada Kerajaan Chola mengambil rute singkat dengan menyuuri pantai barat Sumatra dan berlabuh di Barus, sebuah pelabuhan di pantai barat Sumatra yang, pada waktu itu, dikendalikan oleh para pedagang Tamil.
Lihat Juga :