Kisah Wasiat RMP Sosrokartono, Guru Spiritual yang Menguatkan Bung Karno Pimpin Republik Indonesia
Senin, 20 Juni 2022 - 16:03 WIB
loading...
A
A
A
Bangsa Indonesia masih perlu perjuangan lama untuk benar-benar mewujudkan Indonesia merdeka. Sementara dalam perjuangan itu akan penuh warna pertengkaran, kekacauan dan jatuhnya banyak korban. Sosrokartono menyatakan akan selalu siap membantu. “Tetapi Bung Karno mesti eling (Ingat) terus. Meskipun Bung Karno sudah menjadi Presiden Republik Indonesia, masih memerlukan petunjuk dan nasihat,” kata Soskroartono seperti dikutip dari “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.
Dalam setiap mengambil langkah dan tindakan, Bung Karno banyak mengikuti nasihat serta arahan guru spiritualnya. Termasuk kepada Abdurachim, guru spiritual Bung Karno lain, yang berasal dari Banten dan bertempat tinggal di wilayah Petojo Selatan, Jakarta. Maelwi Saelan pada Januari 1967 mengaku pernah diperintah Bung Karno mengunjungi Abdurachim yang dikabarkan sedang sakit keras.
Abdurachim menyampaikan pesan untuk Bung Karno agar tidak mencemaskan sakitnya. Sakit itu menurut Abdurachim ujian dari yang Maha Kuasa. Guru spiritual Bung Karno itu juga bercerita bahwa dirinya dengan Bung Karno memiliki hubungan batin yang dekat. Hubungan it seperti halnya hubungan batin antara Bung Karno dengan Sosrokartono. Karenanya jika Bung Karno bersedih, dirinya juga ikut sedih. Sebaliknya ketika sang Proklamator itu gembira, dirinya juga ikut bergembira.
Sebelum meninggal dunia pada 28 Maret 1967, Abdurachim sempat bertemu Bung Karno di guesthouse istana. Pertemuan itu merupakan pertemuan yang terakhir. Abdurachim sempat menyarankan Bung Karno untuk ikhlas menyerahkan kepemimpinan bangsa Indonesia kepada yang lain. Bung Karno yang menurutnya sudah tua, yakni berusia 65 tahun dan sakit-sakitan, sebaiknya berkonsentrasi dengan kesehatan dan banyak mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.
“Bung Karno harus lebih serius mengurus kesehatan dan berusaha berobat ke luar negeri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Abdurachim seperti tertulis dalam “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”. Setelah memimpin Indonesia selama 22 tahun, kekuasaan Presiden Soekarno berakhir pada tahun 1967. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Dalam setiap mengambil langkah dan tindakan, Bung Karno banyak mengikuti nasihat serta arahan guru spiritualnya. Termasuk kepada Abdurachim, guru spiritual Bung Karno lain, yang berasal dari Banten dan bertempat tinggal di wilayah Petojo Selatan, Jakarta. Maelwi Saelan pada Januari 1967 mengaku pernah diperintah Bung Karno mengunjungi Abdurachim yang dikabarkan sedang sakit keras.
Abdurachim menyampaikan pesan untuk Bung Karno agar tidak mencemaskan sakitnya. Sakit itu menurut Abdurachim ujian dari yang Maha Kuasa. Guru spiritual Bung Karno itu juga bercerita bahwa dirinya dengan Bung Karno memiliki hubungan batin yang dekat. Hubungan it seperti halnya hubungan batin antara Bung Karno dengan Sosrokartono. Karenanya jika Bung Karno bersedih, dirinya juga ikut sedih. Sebaliknya ketika sang Proklamator itu gembira, dirinya juga ikut bergembira.
Sebelum meninggal dunia pada 28 Maret 1967, Abdurachim sempat bertemu Bung Karno di guesthouse istana. Pertemuan itu merupakan pertemuan yang terakhir. Abdurachim sempat menyarankan Bung Karno untuk ikhlas menyerahkan kepemimpinan bangsa Indonesia kepada yang lain. Bung Karno yang menurutnya sudah tua, yakni berusia 65 tahun dan sakit-sakitan, sebaiknya berkonsentrasi dengan kesehatan dan banyak mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.
“Bung Karno harus lebih serius mengurus kesehatan dan berusaha berobat ke luar negeri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Abdurachim seperti tertulis dalam “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”. Setelah memimpin Indonesia selama 22 tahun, kekuasaan Presiden Soekarno berakhir pada tahun 1967. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
(shf)
Lihat Juga :