Kisah Pangeran Diponegoro, Dilawan Rakyat yang Lapar Akibat Ulah Pejabat Culas
Senin, 06 Juni 2022 - 05:41 WIB
loading...
A
A
A
Pada saat yang sama, pasokan makanan semakin menipis. Pejabat-pejabat lokal yang semula mendukung Pangeran Diponegoro, berbalik menentangnya. Banyak yang mengungsi ke wilayah yang berada kendali benteng Belanda, karena dirasa lebih terjamin dan kesempatan ekonomi lebih baik.
Bahkan, saat masa terakhir perang, ada kasus-kasus warga di daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro, berbalik melawan pejabat-pejabat culas pendukung Pangeran Diponegoro, dan menghabisi mereka karena begitu besar hasrat penduduk akan perdamaian.
Kebijakan para komandan benteng Belanda, barangkali ikut berpengaruh. Mereka berhasil merebut hati penduduk setempat, dengan menjanjikan pemberian pajak gratis, hewan penghela, dan benih gratis jika mereka mau pindah ke wilayah Belanda.
Baca juga: Memalukan! 2 Kubu Mahasiswa PMII Bentrok di Kantor Bupati Bulukumba
Termasuk kebijakan Belanda juga adalah menurunkan pajak, mengurangi kewajiban kerja bakti, serta menaikkan upah buruh harian di sekitar benteng untuk mendorong para petani dan keluarga mereka tetap betah tinggal di dekat benteng.
Hasilnya, akhir September 1829 di tahun keempat perang, perlawanan terorganisasi terhadap Belanda di daerah-daerah yang subur pangan di Jawa Tengah, bagian selatan berakhir. Ikatan rasa saling percaya dan kerja sama antara pasukan Pangeran Diponegoro, dan penduduk desa setempat sudah rusak.
Bahkan, saat masa terakhir perang, ada kasus-kasus warga di daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro, berbalik melawan pejabat-pejabat culas pendukung Pangeran Diponegoro, dan menghabisi mereka karena begitu besar hasrat penduduk akan perdamaian.
Kebijakan para komandan benteng Belanda, barangkali ikut berpengaruh. Mereka berhasil merebut hati penduduk setempat, dengan menjanjikan pemberian pajak gratis, hewan penghela, dan benih gratis jika mereka mau pindah ke wilayah Belanda.
Baca juga: Memalukan! 2 Kubu Mahasiswa PMII Bentrok di Kantor Bupati Bulukumba
Termasuk kebijakan Belanda juga adalah menurunkan pajak, mengurangi kewajiban kerja bakti, serta menaikkan upah buruh harian di sekitar benteng untuk mendorong para petani dan keluarga mereka tetap betah tinggal di dekat benteng.
Hasilnya, akhir September 1829 di tahun keempat perang, perlawanan terorganisasi terhadap Belanda di daerah-daerah yang subur pangan di Jawa Tengah, bagian selatan berakhir. Ikatan rasa saling percaya dan kerja sama antara pasukan Pangeran Diponegoro, dan penduduk desa setempat sudah rusak.
Lihat Juga :