Hancurkan Pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram, Amangkurat II Serahkan Pesisir Jawa ke VOC Belanda
Kamis, 02 Juni 2022 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Situasi menjadi kacau, saat kekuasaan Cakraningrat I digantikan anaknya yang bergelar Cakraningrat II. Ternyata, anak Cakraningrat I ini memiliki sifat yang sama buruk dengan Amangkurat I. Kejam dan semena-mena terhadap rakyat.
Alhasil, di lingkup wilayah kekuasaannya sendiri, yakni Madura, Cakraningrat II tidak pernah mendapatkan simpati rakyat. Ditambah, dia lebih banyak berada di Mataram, bersama dengan sultan lalim Amangkurat I.
Pertama-tama, Trunojoyo melawan pamannya sendiri, yakni Cakraningrat II. Dia berhasil merebut takhta Madura, saat pamor Cakraningrat II luntur. Wilayah kekuasaannya pun bertambah hingga Bangkalan dan Sumenep.
Baca: Sunan Panggung, Sufi Tanah Jawa yang Dihukum Mati karena Dianggap Sesat
Dia kemudian mendapat gelar Panembahan Madura. Pada masa jayanya inilah, dia mulai berani melancarkan kritik dan banyak menentang kekuasaan Amangkurat I. Sejak itu, cap pemberontak pun langsung melekat pada dirinya.
Pemberontakan Trunojoyo dimulai dengan menguasai wilayah Jawa Timur. Dia mendapat bantuan dari putra mahkota Amangkurat I, yakni Pangeran Adipati Anom. Juga dari Kraeng Galengsong dari Bugis, dan Pangeran Giri.
Yang menarik dan penting dicatat juga adalah persekutuan Trunojoyo dengan Pangeran Adipati Anom. Dalam kerja sama itu, Adipati Anom menawarkan kepada Trunojoyo wilayah Madura dan sebagain Jawa Timur.
Baca: Kebengisan Amangkurat II Eksekusi Mati Trunojoyo: Kepala Dipenggal, Diinjak, Ditumbuk
Dukungan terhadap pemberontakan Trunojoyo juga meluas dari Kesultanan Banten dan Cirebon. Dengan kekuatan yang sangat besar itulah, Trunojoyo menyerang Mataram dan berhasil menduduki Keraton Kerta, pada 1677.
Dalam serangan itu, Amangkurat I berhasil meloloskan diri. Bersama permaisurinya Kanjeng Ratu Kencana, kedua putri dan adik Pangeran Puger, mereka membawa pusaka Keraton Mataram dan berlindung kepada Belanda di Batavia.
Benda pusaka Mataram, terdiri dari Keris Mahesa Nular, dan Tombak Kiai Plered, kemudian diserahkan kepada Pangeran Puger yang kelak menjadi Paku Buwana I. Amangkurat I, meninggal di Desa Wonoyoso, Banyumas, pada 13 Juli 1677.
Baca: Tragedi Raden Ayu Lembah dan Jatuhnya Kekuasaan Amangkurat III di Kartasura
Alhasil, di lingkup wilayah kekuasaannya sendiri, yakni Madura, Cakraningrat II tidak pernah mendapatkan simpati rakyat. Ditambah, dia lebih banyak berada di Mataram, bersama dengan sultan lalim Amangkurat I.
Pertama-tama, Trunojoyo melawan pamannya sendiri, yakni Cakraningrat II. Dia berhasil merebut takhta Madura, saat pamor Cakraningrat II luntur. Wilayah kekuasaannya pun bertambah hingga Bangkalan dan Sumenep.
Baca: Sunan Panggung, Sufi Tanah Jawa yang Dihukum Mati karena Dianggap Sesat
Dia kemudian mendapat gelar Panembahan Madura. Pada masa jayanya inilah, dia mulai berani melancarkan kritik dan banyak menentang kekuasaan Amangkurat I. Sejak itu, cap pemberontak pun langsung melekat pada dirinya.
Pemberontakan Trunojoyo dimulai dengan menguasai wilayah Jawa Timur. Dia mendapat bantuan dari putra mahkota Amangkurat I, yakni Pangeran Adipati Anom. Juga dari Kraeng Galengsong dari Bugis, dan Pangeran Giri.
Yang menarik dan penting dicatat juga adalah persekutuan Trunojoyo dengan Pangeran Adipati Anom. Dalam kerja sama itu, Adipati Anom menawarkan kepada Trunojoyo wilayah Madura dan sebagain Jawa Timur.
Baca: Kebengisan Amangkurat II Eksekusi Mati Trunojoyo: Kepala Dipenggal, Diinjak, Ditumbuk
Dukungan terhadap pemberontakan Trunojoyo juga meluas dari Kesultanan Banten dan Cirebon. Dengan kekuatan yang sangat besar itulah, Trunojoyo menyerang Mataram dan berhasil menduduki Keraton Kerta, pada 1677.
Dalam serangan itu, Amangkurat I berhasil meloloskan diri. Bersama permaisurinya Kanjeng Ratu Kencana, kedua putri dan adik Pangeran Puger, mereka membawa pusaka Keraton Mataram dan berlindung kepada Belanda di Batavia.
Benda pusaka Mataram, terdiri dari Keris Mahesa Nular, dan Tombak Kiai Plered, kemudian diserahkan kepada Pangeran Puger yang kelak menjadi Paku Buwana I. Amangkurat I, meninggal di Desa Wonoyoso, Banyumas, pada 13 Juli 1677.
Baca: Tragedi Raden Ayu Lembah dan Jatuhnya Kekuasaan Amangkurat III di Kartasura
Lihat Juga :