Legenda Roti Lauw, Makanan Jalanan Cikini-Gondangdia yang Ada Sebelum Indonesia Merdeka
Minggu, 29 Mei 2022 - 07:40 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, dibandingkan roti isi lainnya, Roti memiliki karakter kuat, yakini rasa roti yang padat, keras, dan berwarna kecoklatan yang membuat siapapun kembali ke masa lalu. Karenanya tidak heran, roti buaya milik Roti Lauw menjadi salah satu roti terbaik. Campuran kayu manis, gula merah, dan taburan kacang wijen menjadi pembeda roti ini dengan roti lainnya.
Tidak heran, lewat Roti Buaya, Lauw masih bertahan hingga kini dan menjadi pilihan utama setiap acara lamaran maupun perkawinan masyarakat betawi. Kini Roti Lauw dikelola oleh generasi ketiga keluarga Lau Tjoan To, masih menjaga cita rasanya sebagai roti jadul. Baca juga: Sejarah Sekolah Polwan di Ciputat, Pencetak Perwira Perempuan Polri
Ronico Yuswari, penerus generasi kedua Lauw Bakery, menuturkan resep dan tampilan roti dari dahulu hingga kini masih sama. Hanya dirinya melakukan inovasi sehingga hadir banyak pilihan rasa, seperti keju, mocca, pisang keju, kacang, dan masih banyak lainnya.
Selain itu, mereka juga merambah ke pusat perbelanjaan, salah satunya di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sayang minimnya literasi dan kurangnya marketing membuat penikmat roti alami penurunan dari generasi menengah atas, kini menjadi masyarakat menengah ke bawah.
Tidak heran, lewat Roti Buaya, Lauw masih bertahan hingga kini dan menjadi pilihan utama setiap acara lamaran maupun perkawinan masyarakat betawi. Kini Roti Lauw dikelola oleh generasi ketiga keluarga Lau Tjoan To, masih menjaga cita rasanya sebagai roti jadul. Baca juga: Sejarah Sekolah Polwan di Ciputat, Pencetak Perwira Perempuan Polri
Ronico Yuswari, penerus generasi kedua Lauw Bakery, menuturkan resep dan tampilan roti dari dahulu hingga kini masih sama. Hanya dirinya melakukan inovasi sehingga hadir banyak pilihan rasa, seperti keju, mocca, pisang keju, kacang, dan masih banyak lainnya.
Selain itu, mereka juga merambah ke pusat perbelanjaan, salah satunya di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sayang minimnya literasi dan kurangnya marketing membuat penikmat roti alami penurunan dari generasi menengah atas, kini menjadi masyarakat menengah ke bawah.
(ams)
Lihat Juga :