Legenda Roti Lauw, Makanan Jalanan Cikini-Gondangdia yang Ada Sebelum Indonesia Merdeka
Minggu, 29 Mei 2022 - 07:40 WIB
loading...
Berdiri sejak 1940 Roti Lauw menjadikan menu sarapan warga di Jabodetabek. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Gerombolan gerobak roti berwarna putih menyelimuti jalanan Cikini - Gondangdia, Jakarta Pusat setiap paginya. Mereka merupakan pedagang roti Lauw yang melegenda.
Rutinitas pagi itu kerap dilakukan para pedagang gerobak Roti Lauw sebelum nantinya berdagang dan berkeliling ke pelosok permukiman Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Depok menjajakan roti. Tak hanya rakyat, pelanggan Roti Lauw juga bahkan pemimpin negara. Baca juga: Filosofi Roti Buaya, Lambangkan Sifat Hewan yang Hanya Kawin Sekali Sepanjang Hidup
Setiap harinya, roti ini menjadi pilihan santapan Presiden di Istana Kepresidenan Bogor, bahkan sesekali muncul saat jamuan kenegaraan bersama dengan para tamu negara. Berdiri sejak 1940, Roti Lauw telah ada jauh sebelum Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaannya.
Memanfaatkan kebiasaan masyarakat Eropa yang gemar makan roti di pagi hari. Lau Tjoan To atau Junus Jahja mengawali usahanya dengan membuat rotinya sendiri dan menjualnya dengan gerobak ke beberapa jalanan di sekitar Cikini - Gondangdia.Bagi Lau hal itu tidaklah sulit, mengingat dirinya merupakan keturunan dari Lau Lok Soei yang merupakan master pembuat roti.
Kian lama, Roti Lauw mulai digemari warganya, hingga puncaknya terjadi 1948 ketika bisnis ini berkembang.Lau kemudian membuka toko roti di Gondangdia yang hingga kini masih bertahan. Tidak heran roti ini menjadi salah satu koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Meski saat ini toko roti tengah berkembang, namun Roti Lauw masih bertahan dengan marketing sederhananya.
Rasanya yang khas dan cita rasa tinggi menjadi salah satu keunggulannya. Termasuk di tahun 80-an, saat publik Jakarta mendambakkan Roti Tan Ek Tjoan, Roti Lauw justru berkembang pesat dengan menjamurnya beberapa toko roti.Selain karena cita rasanya, Roti Lauw terkenal dengan keawetannya yang tetap empuk meski tersimpan 3 hari.
Rutinitas pagi itu kerap dilakukan para pedagang gerobak Roti Lauw sebelum nantinya berdagang dan berkeliling ke pelosok permukiman Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Depok menjajakan roti. Tak hanya rakyat, pelanggan Roti Lauw juga bahkan pemimpin negara. Baca juga: Filosofi Roti Buaya, Lambangkan Sifat Hewan yang Hanya Kawin Sekali Sepanjang Hidup
Setiap harinya, roti ini menjadi pilihan santapan Presiden di Istana Kepresidenan Bogor, bahkan sesekali muncul saat jamuan kenegaraan bersama dengan para tamu negara. Berdiri sejak 1940, Roti Lauw telah ada jauh sebelum Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaannya.
Memanfaatkan kebiasaan masyarakat Eropa yang gemar makan roti di pagi hari. Lau Tjoan To atau Junus Jahja mengawali usahanya dengan membuat rotinya sendiri dan menjualnya dengan gerobak ke beberapa jalanan di sekitar Cikini - Gondangdia.Bagi Lau hal itu tidaklah sulit, mengingat dirinya merupakan keturunan dari Lau Lok Soei yang merupakan master pembuat roti.
Kian lama, Roti Lauw mulai digemari warganya, hingga puncaknya terjadi 1948 ketika bisnis ini berkembang.Lau kemudian membuka toko roti di Gondangdia yang hingga kini masih bertahan. Tidak heran roti ini menjadi salah satu koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Meski saat ini toko roti tengah berkembang, namun Roti Lauw masih bertahan dengan marketing sederhananya.
Rasanya yang khas dan cita rasa tinggi menjadi salah satu keunggulannya. Termasuk di tahun 80-an, saat publik Jakarta mendambakkan Roti Tan Ek Tjoan, Roti Lauw justru berkembang pesat dengan menjamurnya beberapa toko roti.Selain karena cita rasanya, Roti Lauw terkenal dengan keawetannya yang tetap empuk meski tersimpan 3 hari.

Lihat Juga :