Kisah Tasripin, Konglomerat Semarang yang Ditakuti Serdadu Belanda Gara-gara Uang Koin Ratu Willem
Minggu, 15 Mei 2022 - 07:06 WIB
loading...
A
A
A
Tasripin pun memiliki kapal untuk mengirim kopra kapas ke negara-negara Asia saat pelabuhannya masih ada di sepanjang Kali Semarang.
Karena kaya raya, Tasripin pun dikenal dekat dengan Ratu Belanda Willem alias Wilhelmina. Sejumlah uang koin diberikan Ratu kepada Tasripin.
Pada kedua sisinya bergambar wajah Ratu Willem. Atas pemberian hadiah itu, ia kemudian memasang beberapa uang koin hadiah Ratu Willem di lantai rumahnya.
"Ia orang Jawa yang ditakuti Belanda. Serdadu Belanda tidak berani masuk ke rumahnya. Serdadu itu melihat ada gambar Ratu Belanda di lantai rumahnya. Kalau dia injak sama saja melecehkan simbol negaranya," sebut Buntoro.
Tasripin wafat pada tanggal 9 Agustus 1919, pada usia 85 tahun. Hal itu dimuat di Koran Bataviaasch Nieuwsblad 1919.
Tasripin juga mempunyai beberapa istri, anaknya antara lain bernama Amat Tasan yang mengalami masa-masa munculnya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI).
Setelah kematian Amat Tasan, bisnis keturunan Tasripin masih berjalan meskipun popularitasnya menurun. Sekitar 1950-an, sebuah badan usaha bernama Tasriepien Concern masih ada di Semarang.
"Keturunan-keturunan Tasripin kerap memakai suku kata Tas pada nama mereka. Tas Sekti misalnya, yang merupakan mertua dari Menteri Agama Republik Indonesia era Orde Baru, Munawir Sjadzali," katanya.
Masjid Tasripin
Di kawasan Kampung Kulitan ada masjid tingkat dua bercat hijau itu berdiri kokoh. Masjid bernama At-Taqwa itu merupakan saksi sejarah kejayaan Tasripin, warga pribumi terkaya di Kota Semarang pada zaman penjajahan Belanda.
Masjid At-Taqwa atau yang lebih dikenal warga dengan sebutan masjid Tasripin ini menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang.
Menurut keterangan warga sekitar, masjid tersebut dibangun oleh Tasripin sebagai tempat beribadah keluarganya juga para pekerjanya.
Karena kaya raya, Tasripin pun dikenal dekat dengan Ratu Belanda Willem alias Wilhelmina. Sejumlah uang koin diberikan Ratu kepada Tasripin.
Pada kedua sisinya bergambar wajah Ratu Willem. Atas pemberian hadiah itu, ia kemudian memasang beberapa uang koin hadiah Ratu Willem di lantai rumahnya.
"Ia orang Jawa yang ditakuti Belanda. Serdadu Belanda tidak berani masuk ke rumahnya. Serdadu itu melihat ada gambar Ratu Belanda di lantai rumahnya. Kalau dia injak sama saja melecehkan simbol negaranya," sebut Buntoro.
Tasripin wafat pada tanggal 9 Agustus 1919, pada usia 85 tahun. Hal itu dimuat di Koran Bataviaasch Nieuwsblad 1919.
Tasripin juga mempunyai beberapa istri, anaknya antara lain bernama Amat Tasan yang mengalami masa-masa munculnya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI).
Setelah kematian Amat Tasan, bisnis keturunan Tasripin masih berjalan meskipun popularitasnya menurun. Sekitar 1950-an, sebuah badan usaha bernama Tasriepien Concern masih ada di Semarang.
"Keturunan-keturunan Tasripin kerap memakai suku kata Tas pada nama mereka. Tas Sekti misalnya, yang merupakan mertua dari Menteri Agama Republik Indonesia era Orde Baru, Munawir Sjadzali," katanya.
Masjid Tasripin
Di kawasan Kampung Kulitan ada masjid tingkat dua bercat hijau itu berdiri kokoh. Masjid bernama At-Taqwa itu merupakan saksi sejarah kejayaan Tasripin, warga pribumi terkaya di Kota Semarang pada zaman penjajahan Belanda.
Masjid At-Taqwa atau yang lebih dikenal warga dengan sebutan masjid Tasripin ini menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang.
Menurut keterangan warga sekitar, masjid tersebut dibangun oleh Tasripin sebagai tempat beribadah keluarganya juga para pekerjanya.
Lihat Juga :