Kisah Sultan Agung Mataram 2 Kali Gagal Taklukkan Batavia, Ternyata Ini Penyebabnya
Jum'at, 18 Februari 2022 - 07:47 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Sanjaya Raja Pertama Mataram Kuno yang Miliki Hubungan dengan Sunda
Sasaran Mataram berikutnya setelah Surabaya jatuh adalah Banten yang ada di ujung Barat pulau Jawa. Akan tetapi posisi Batavia yang menjadi penghalang perlu diatasi terlebih dahulu oleh Mataram. Bulan April 1628 Kyai Rangga bupati Tegal dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu dari Mataram. Tawaran tersebut ditolak pihak VOC sehingga Sultan Agung memutuskan untuk menyatakan perang.
Serangan pertama yang dilancarkan ke Batavia pada tahun 1628, dalam serangan ini, pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baureksa. Pada 22 Agustus 1628, mulai terjadi pertempuran antara tentara Mataram dengan VOC.
Pasukan Mataram berdatangan dari berbagai daerah seperti pasukan di bawah pimpinan Sura Agul-Agul yang dibantu oleh Kiai Dipati Mandureja dan Upa Santa. Datang pula lascar orang-orang Sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Terjadi pertempuran salah satunya di Benteng Holandia. Pada akhir pertempuran, Mataram tidak berhasil menaklukkan kota Batavia.
Kegagalan pada serangan pertama disebabkan Mataram kalah persenjataan, kekurangan bahan makanan, dan jarak antara Mataram dengan Batavia yang terlalu jauh. Bahkan, pembendungan sungai yang dilakukan oleh tentara Mataram berdampak menyebarnya wabah penyakit.
Hasil ini membuat Sultan Agung murka dan menghukum mati tentara yang masih ada, seperti Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandureja.
Setelah mengalami kegagalan pada serangan pertama, maka serangan kedua ke Batavia kembali dilancarkan pada tahun 1629. Kali ini, dipimpin Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati Purbaya.
Dalam serangan kedua, Sultan Agung memerintahkan untuk mendirikan lumbung lumbung padi di daerah Tegal dan Cirebon.
Baca juga: Kisah Rakai Pikatan dan Pemindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno Dari Medang
Sasaran Mataram berikutnya setelah Surabaya jatuh adalah Banten yang ada di ujung Barat pulau Jawa. Akan tetapi posisi Batavia yang menjadi penghalang perlu diatasi terlebih dahulu oleh Mataram. Bulan April 1628 Kyai Rangga bupati Tegal dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu dari Mataram. Tawaran tersebut ditolak pihak VOC sehingga Sultan Agung memutuskan untuk menyatakan perang.
Serangan pertama yang dilancarkan ke Batavia pada tahun 1628, dalam serangan ini, pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baureksa. Pada 22 Agustus 1628, mulai terjadi pertempuran antara tentara Mataram dengan VOC.
Pasukan Mataram berdatangan dari berbagai daerah seperti pasukan di bawah pimpinan Sura Agul-Agul yang dibantu oleh Kiai Dipati Mandureja dan Upa Santa. Datang pula lascar orang-orang Sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Terjadi pertempuran salah satunya di Benteng Holandia. Pada akhir pertempuran, Mataram tidak berhasil menaklukkan kota Batavia.
Kegagalan pada serangan pertama disebabkan Mataram kalah persenjataan, kekurangan bahan makanan, dan jarak antara Mataram dengan Batavia yang terlalu jauh. Bahkan, pembendungan sungai yang dilakukan oleh tentara Mataram berdampak menyebarnya wabah penyakit.
Hasil ini membuat Sultan Agung murka dan menghukum mati tentara yang masih ada, seperti Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandureja.
Setelah mengalami kegagalan pada serangan pertama, maka serangan kedua ke Batavia kembali dilancarkan pada tahun 1629. Kali ini, dipimpin Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati Purbaya.
Dalam serangan kedua, Sultan Agung memerintahkan untuk mendirikan lumbung lumbung padi di daerah Tegal dan Cirebon.
Baca juga: Kisah Rakai Pikatan dan Pemindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno Dari Medang
Lihat Juga :