Bakal Jadi Dirut Pertamina, Ahok Terganjal Anggota Parpol
Kamis, 11 Juni 2020 - 08:23 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, Ahok memang pantas memimpin tapi bukan di perusahaan sebesar Pertamina, melainkan lebih cocok duduk di pemerintahan untuk mendorong perbaikan regulasi perizinan, transparansi dan transformasi agar investasi energi jauh lebih baik. Fahmy pun memberikan pandangan terkait kriteria yang cocok menjadi dirut Pertamina.
“Dirut Pertamina alangkah baiknya bukan dari parpol walaupun punya track record bagus di pemerintahan. Integritas Ahok perlu dicontoh, tapi perlu kapabilitas dan pengalaman memimpin BUMN serta punya manajerial yang bagus memimpin perusahaan sebesar Pertamina,” kata dia.
Mantan Tim AntiMafia Migas ini pun mendukung langkah Erick Thohir merombak jajaran direksi hingga mengganti dirut Pertamina. Pasalnya, dirut Pertamina saat ini dianggap gagal menjadi nahkoda.
“Utamanya dalam melaksanakan program pembangunan kilang. Saya kira sulit terwujud karena jika melihat perkembangan saat ini belum menunjukkan progres signifikan,” kata dia.
Dia merinci sejumlah kilang yang hanya sebatas perjanjian di atas kertas diantaranya RDMP Kilang Cilacap bekerja sama dengan investor asal Arab Saudi, Saudi Aramco dan GRR Kilang Bontang bekerja sama dengan Overseas Oil and Gas LLC (OGG) asal Oman. (BACA JUGA: Ekonom Khawatir Iuran Tapera Miliki Motif Tersembunyi)
Menurut dia, kedua kilang tersebut gagal dibangun karena hanya sebatas perjanjian semu diatas kertas tanpa realisasi. Padahal, proyek kilang baik itu pengembangan (Refenery Development Master Plan/RDMP) dan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR) telah menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diunggulkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Namun faktanya banyak kerja sama yang hanya di atas kertas seperti RDMP Cilacap dan GRR Bontang. RDMP Cilacap saat ini terkatung-katung karena bertahun-tahun di-PHP oleh mitranya dari Saudi Aramco.
“Dirut Pertamina alangkah baiknya bukan dari parpol walaupun punya track record bagus di pemerintahan. Integritas Ahok perlu dicontoh, tapi perlu kapabilitas dan pengalaman memimpin BUMN serta punya manajerial yang bagus memimpin perusahaan sebesar Pertamina,” kata dia.
Mantan Tim AntiMafia Migas ini pun mendukung langkah Erick Thohir merombak jajaran direksi hingga mengganti dirut Pertamina. Pasalnya, dirut Pertamina saat ini dianggap gagal menjadi nahkoda.
“Utamanya dalam melaksanakan program pembangunan kilang. Saya kira sulit terwujud karena jika melihat perkembangan saat ini belum menunjukkan progres signifikan,” kata dia.
Dia merinci sejumlah kilang yang hanya sebatas perjanjian di atas kertas diantaranya RDMP Kilang Cilacap bekerja sama dengan investor asal Arab Saudi, Saudi Aramco dan GRR Kilang Bontang bekerja sama dengan Overseas Oil and Gas LLC (OGG) asal Oman. (BACA JUGA: Ekonom Khawatir Iuran Tapera Miliki Motif Tersembunyi)
Menurut dia, kedua kilang tersebut gagal dibangun karena hanya sebatas perjanjian semu diatas kertas tanpa realisasi. Padahal, proyek kilang baik itu pengembangan (Refenery Development Master Plan/RDMP) dan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR) telah menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diunggulkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Namun faktanya banyak kerja sama yang hanya di atas kertas seperti RDMP Cilacap dan GRR Bontang. RDMP Cilacap saat ini terkatung-katung karena bertahun-tahun di-PHP oleh mitranya dari Saudi Aramco.
Lihat Juga :