Sultan Trenggono, Raja Demak yang Berhasil Lumpuhkan Kekuatan Majapahit
Selasa, 14 Desember 2021 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai penguasa, Pate Rodim memiliki banyak prajurit, sekitar 30.000 di Jawa dan 10.000 di Palembang. Ia terus-menerus berperang melawan Guste Pate dan pate Tuban. Ia telah kehilangan banyak orang akibat perang, kemiskinan, sehingga harus memohon perlindungan dari Malaka.
Pada zaman Sultan Trenggono, Demak mencapai puncak kejayaannya. Hampir seluruh Pulau Jawa menjadi wilayah kekuasannya. Belum lagi kerajaan-kerajaan di luar Jawa seperti Madura, Sumatera dan Kalimantan.
Pencapaian Demak pada masa pemerintahan Sultan Trenggono pun sangat banyak, termasuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 1527.
Sebelum Sultan Trenggono naik tahta, sebenarnya terjadi persaingan ketat antara dirinya dan kakak tirinya Raden Kikin. Waktu itu Raden Kikin digadang-gadang akan menggantikan Pati Unus yang telah wafat, sebab ia merupakan anak yang lebih tua dari Trenggono.
Persaingan antar keluarga sama-sama anak Raden Patah itu kemudian memuncak setelah Raden Trenggono menolak Raden Kikin sebagai Sultan Demak selanjutnya, sebab menurutnya dialah yang pantas menggantikan kakaknya menjadi Sultan karena ia terlahir dari permaisuri utama.
Ketegangan antara sesama anak-anak Raden Patah itu kemudian menemui puncaknya, Raden Kikin dibunuh oleh anak Raden Trenggono yaitu Raden Mukmin (Sunan Perwata). Pembunuhan itu dilakukan di tepi sungai, sehingga selepas peristiwa itu Raden Kikin kemudian disebut sebagai Pangeran Sekar Seda Ing Lapen maksudnya Pangeran yang gugur sebagai Bunga di Sungai.
Baca juga: Rara Tepasan, Istri Sunan Gunung Jati yang Menghilangkan Budaya Sunda di Keraton Cirebon
Pada zaman Sultan Trenggono, Demak mencapai puncak kejayaannya. Hampir seluruh Pulau Jawa menjadi wilayah kekuasannya. Belum lagi kerajaan-kerajaan di luar Jawa seperti Madura, Sumatera dan Kalimantan.
Pencapaian Demak pada masa pemerintahan Sultan Trenggono pun sangat banyak, termasuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 1527.
Sebelum Sultan Trenggono naik tahta, sebenarnya terjadi persaingan ketat antara dirinya dan kakak tirinya Raden Kikin. Waktu itu Raden Kikin digadang-gadang akan menggantikan Pati Unus yang telah wafat, sebab ia merupakan anak yang lebih tua dari Trenggono.
Persaingan antar keluarga sama-sama anak Raden Patah itu kemudian memuncak setelah Raden Trenggono menolak Raden Kikin sebagai Sultan Demak selanjutnya, sebab menurutnya dialah yang pantas menggantikan kakaknya menjadi Sultan karena ia terlahir dari permaisuri utama.
Ketegangan antara sesama anak-anak Raden Patah itu kemudian menemui puncaknya, Raden Kikin dibunuh oleh anak Raden Trenggono yaitu Raden Mukmin (Sunan Perwata). Pembunuhan itu dilakukan di tepi sungai, sehingga selepas peristiwa itu Raden Kikin kemudian disebut sebagai Pangeran Sekar Seda Ing Lapen maksudnya Pangeran yang gugur sebagai Bunga di Sungai.
Baca juga: Rara Tepasan, Istri Sunan Gunung Jati yang Menghilangkan Budaya Sunda di Keraton Cirebon
Lihat Juga :