Produksi Garam Sulsel Terus Turun Dalam 2 Tahun Terakhir
Senin, 13 Desember 2021 - 22:09 WIB
loading...
Petani garam di Kabupaten Jeneponto, beberapa waktu lalu. Saat ini, produksi garam di Sulsel terus menurun. Foto: SINDOnews/Maman Sukirman
A
A
A
MAKASSAR - Produksi garam di Sulawesi Selatan (Sulsel) sempat berjaya pada 2019 lalu. Tetapi kini produksinya makin anjlok, khususnya selama dua tahun terakhir.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel mencatat, pada 2018 lalu produksi garam Sulsel mencoba merangkak menjadi 86.712,7 ton dari sebelumnya hanya 39.259,9 ton pada 2017. Kemudian pada 2018 naik lagi menjadi 140.388,87 ton.
Baca juga:Ini Laut dengan Kadar Garam Tertinggi
Sayangnya, produksi yang mulai naik itu seketika anjlok pada 2020. Selama setahun produksinya hanya 45.310,5 ton. Lebih parah pada 2021 ini, yang hingga triwulan ketiga produksinya terjun bebas di 466,05 ton.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S Latief menyampaikan, produksi garam saat ini memang sedang pada masa krisis. Salah satu yang paling mempengaruhi hal tersebut adalah cuaca yang tidak menentu.
Dia menjelaskan, garam yang diproduksi di Indonesia, termasuk di Sulsel adalah garam rakyat yang mengandalkan cahaya matahari. Bila musim tak menentu, maka sangat berdampak pada produksi garam tersebut.
Baca juga:Strategi Pengurangan Garam pada Makanan untuk Tekan Risiko Hipertensi
“Kita ketahui sendiri selama beberapa tahun terakhir musim di Sulsel berubah-berubah. Kadang tiba-tiba hujan. Padahal biasa ada yang sudah mau panen, tapi hujan, yah mau tidak mau terganggulah itu,” jelasnya, pada Coffee Morning di Hotel Harper Makassar , Senin (13/12).
Kondisi ini diakuinya, membuat produksi garam sulit berkembang jika masih menggunakan metode yang sama. Pasalnya, di beberapa negara produksi garam sudah menggunakan tambang yang bisa dipanen kapan saja. Biaya produksinya juga lebih murah.
“Jadi bagaimana kita mau bersaing. Itu di Australia memang ada tempat yang cekungan kemudian di situ ditambang. Di sana cuma diekskapatorji, kemudian ditinggalkan, karena banyak tempatnya untuk mengambil tambang garam,” paparnya.
Baca juga:5 Idol K-Pop Punya Alergi Aneh, dari Bawang Putih hingga Garam
Secara keseluruhan, Indonesia membutuhkan garam sebanyak 4,6 juta ton untuk tahun ini. Sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton. Sehingga mau tidak mau Indonesia mesti mengimpor garam sebesar 3,07 juta ton.
“Kita sama dengan kopi. Karena kita adalah produksi garam rakyat yang tergantung kepada matahari. Kalau cuacanya kayak begini, tidak jelas musim hujan dan keringnya, sudah,” pungkasnya.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel mencatat, pada 2018 lalu produksi garam Sulsel mencoba merangkak menjadi 86.712,7 ton dari sebelumnya hanya 39.259,9 ton pada 2017. Kemudian pada 2018 naik lagi menjadi 140.388,87 ton.
Baca juga:Ini Laut dengan Kadar Garam Tertinggi
Sayangnya, produksi yang mulai naik itu seketika anjlok pada 2020. Selama setahun produksinya hanya 45.310,5 ton. Lebih parah pada 2021 ini, yang hingga triwulan ketiga produksinya terjun bebas di 466,05 ton.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S Latief menyampaikan, produksi garam saat ini memang sedang pada masa krisis. Salah satu yang paling mempengaruhi hal tersebut adalah cuaca yang tidak menentu.
Dia menjelaskan, garam yang diproduksi di Indonesia, termasuk di Sulsel adalah garam rakyat yang mengandalkan cahaya matahari. Bila musim tak menentu, maka sangat berdampak pada produksi garam tersebut.
Baca juga:Strategi Pengurangan Garam pada Makanan untuk Tekan Risiko Hipertensi
“Kita ketahui sendiri selama beberapa tahun terakhir musim di Sulsel berubah-berubah. Kadang tiba-tiba hujan. Padahal biasa ada yang sudah mau panen, tapi hujan, yah mau tidak mau terganggulah itu,” jelasnya, pada Coffee Morning di Hotel Harper Makassar , Senin (13/12).
Kondisi ini diakuinya, membuat produksi garam sulit berkembang jika masih menggunakan metode yang sama. Pasalnya, di beberapa negara produksi garam sudah menggunakan tambang yang bisa dipanen kapan saja. Biaya produksinya juga lebih murah.
“Jadi bagaimana kita mau bersaing. Itu di Australia memang ada tempat yang cekungan kemudian di situ ditambang. Di sana cuma diekskapatorji, kemudian ditinggalkan, karena banyak tempatnya untuk mengambil tambang garam,” paparnya.
Baca juga:5 Idol K-Pop Punya Alergi Aneh, dari Bawang Putih hingga Garam
Secara keseluruhan, Indonesia membutuhkan garam sebanyak 4,6 juta ton untuk tahun ini. Sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton. Sehingga mau tidak mau Indonesia mesti mengimpor garam sebesar 3,07 juta ton.
“Kita sama dengan kopi. Karena kita adalah produksi garam rakyat yang tergantung kepada matahari. Kalau cuacanya kayak begini, tidak jelas musim hujan dan keringnya, sudah,” pungkasnya.
(luq)
Lihat Juga :