Kebengisan Amangkurat II Eksekusi Mati Trunojoyo: Kepala Dipenggal, Diinjak, Ditumbuk
Kamis, 09 Desember 2021 - 05:32 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, Trunojoyo diserahkan kepada Amangkurat II yang berada di Payak, Bantul. Pada 2 Januari 1680, Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo. Eksekusi hukuman mati yang diterapkan kepada Trunojoyo sangat mengerikan.
Baca Juga: Cerita Mistis Gunung Semeru dan Awal mula Ranu Kumbolo hingga Dewi Cantik Berkebaya Kuning
Trunojoyo ditusuk oleh Amangkurat II dengan keris Kyai Balabar di jantung hingga menembus punggungnya. Tak puas dengan menusuk jantung, Amangkurat II mencabik-cabik tubuh Trunojoyo. Kebengisan Amangkurat II yang dibakar api dendam menjadi-jadi dengan memenggal kepala Trunojoyo.
Selanjutnya, kepala Trunojoyo diletakkan di depan bilik peraduan. Semua orang yang keluar masuk bilik peraduan harus menginjak kepala Trunojoyo. Kepala Trunojoyo kemudian dihancurkan dengan menggunakan lesung dan lumpang batu. Eksekusi hukuman mati terhadap Trunojoyo itu tercatat oleh Raffles dalam buku The Story of Java.
Sumber: Wikipedia
Hoëvell, W. R. V. (1849).Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie͏̈(dalam bahasa Belanda). Becht
Sartono Kartodirjo, Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme, 1973)
Banyumas, Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak karya Budino Herusatoto, 2008).
Baca Juga: Cerita Mistis Gunung Semeru dan Awal mula Ranu Kumbolo hingga Dewi Cantik Berkebaya Kuning
Trunojoyo ditusuk oleh Amangkurat II dengan keris Kyai Balabar di jantung hingga menembus punggungnya. Tak puas dengan menusuk jantung, Amangkurat II mencabik-cabik tubuh Trunojoyo. Kebengisan Amangkurat II yang dibakar api dendam menjadi-jadi dengan memenggal kepala Trunojoyo.
Selanjutnya, kepala Trunojoyo diletakkan di depan bilik peraduan. Semua orang yang keluar masuk bilik peraduan harus menginjak kepala Trunojoyo. Kepala Trunojoyo kemudian dihancurkan dengan menggunakan lesung dan lumpang batu. Eksekusi hukuman mati terhadap Trunojoyo itu tercatat oleh Raffles dalam buku The Story of Java.
Sumber: Wikipedia
Hoëvell, W. R. V. (1849).Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie͏̈(dalam bahasa Belanda). Becht
Sartono Kartodirjo, Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme, 1973)
Banyumas, Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak karya Budino Herusatoto, 2008).
(aww)
Lihat Juga :