Ibukota Israel Dinobatkan Sebagai Kota Paling Ramah Gay
Senin, 08 Juni 2020 - 10:43 WIB
loading...
A
A
A
Menurut indeks, Rishon LeZion yang hanya berjarak beberapa mil dari Tel Aviv, mendapat peringkat kedua terbaik. Ini peringkat tinggi dalam acara budaya, setelah memprakarsai puluhan kegiatan dan program pendidikan untuk staf kota.
Givatayim, yang bersebelahan dengan Tel Aviv, berada di urutan ketiga dalam daftar setelah mengeluarkan manifestasi kesetaraan dan toleransi untuk memastikan keselamatan dan keamanan komunitas LGBTQ-nya. Kota ini juga menjalankan pusat khusus untuk mendukung keluarga masyarakat.
Yerusalem, yang merupakan kota suci tiga agama samawi—Yahudi, Kristen dan Islam—masuk dalam dalam daftar indeks kota ramah gay meski berada di urutan ke-22. Kota ini tidak memiliki kegiatan budaya atau kegiatan lain untuk penghuninya yang LGBTQ yang didukung oleh pemerintah kota.
Yerusalem tidak memiliki komunikasi langsung dengan atau menyediakan layanan khusus untuk melayani masyarakat LGBTQ. Tidak ada dana kota untuk parade Kebanggaan Gay dan acara toleransi, meskipun pernah terjadi pembunuhan tahun 2015 yang dialami Shira Banki, 16, oleh seorang ekstrimis Yahudi selama parade Kebanggaan Gay Pride.
Selain itu, dalam pelanggaran terhadap keputusan Mahkamah Agung, balai kota Yerusalem menolak untuk mendanai rumah bagi pemuda LGBTQ.
Setelah menerima indeks, Presiden Rivlin memuji dewan lokal sebagai sumber inspirasi untuk beroperasi dalam koalisi yang mencakup berbagai bagian masyarakat Israel. Koalisi ini, kata presiden, menunjukkan kerja sama antara komunitas agama dan sekuler serta Yahudi dan Arab, dan juga dapat bekerja bersama untuk kepentingan komunitas LGBTQ.
Givatayim, yang bersebelahan dengan Tel Aviv, berada di urutan ketiga dalam daftar setelah mengeluarkan manifestasi kesetaraan dan toleransi untuk memastikan keselamatan dan keamanan komunitas LGBTQ-nya. Kota ini juga menjalankan pusat khusus untuk mendukung keluarga masyarakat.
Yerusalem, yang merupakan kota suci tiga agama samawi—Yahudi, Kristen dan Islam—masuk dalam dalam daftar indeks kota ramah gay meski berada di urutan ke-22. Kota ini tidak memiliki kegiatan budaya atau kegiatan lain untuk penghuninya yang LGBTQ yang didukung oleh pemerintah kota.
Yerusalem tidak memiliki komunikasi langsung dengan atau menyediakan layanan khusus untuk melayani masyarakat LGBTQ. Tidak ada dana kota untuk parade Kebanggaan Gay dan acara toleransi, meskipun pernah terjadi pembunuhan tahun 2015 yang dialami Shira Banki, 16, oleh seorang ekstrimis Yahudi selama parade Kebanggaan Gay Pride.
Selain itu, dalam pelanggaran terhadap keputusan Mahkamah Agung, balai kota Yerusalem menolak untuk mendanai rumah bagi pemuda LGBTQ.
Setelah menerima indeks, Presiden Rivlin memuji dewan lokal sebagai sumber inspirasi untuk beroperasi dalam koalisi yang mencakup berbagai bagian masyarakat Israel. Koalisi ini, kata presiden, menunjukkan kerja sama antara komunitas agama dan sekuler serta Yahudi dan Arab, dan juga dapat bekerja bersama untuk kepentingan komunitas LGBTQ.
Lihat Juga :