Syahwat Terlarang La Pateddungi, Raja Wajo yang Gemar Gauli Istri dan Anak Gadis Rakyatnya
Rabu, 10 November 2021 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
Mendengar keluhan warga, paman sang raja, Arung Saotanre maka ia dinasehati oleh pamannya, Arung Saotanre, didengarnya jua nasehat sanaknya, namun tidak diubahnya juga perbuatannya.
Baca juga: Siasat Jayakatwang Hancurkan Singasari Lewat Serangan 2 Arah, dan Bunuh Kertanagara saat Pesta Terlarang
Akhirnya Batara Wajo La Pateddungi To Samallangi menyuruh gantung kelambu pada hari pasar dan menyuruh untuk mencari perempuan orang-orang Wajo yang disukainya lalu diperkosa.
“Jangan engkau lakukan perbuatan yang demikian yang tidak disukai oleh orang-orang Wajo dan dibenci oleh Dewata Yang Esa, bila engkau hendak mengambil perempuan, yang gadis saja engkau ambil untuk diperistrikan,.
Mendengar nasehat sang paman, awalnya Batara Wajo III akan menurutinya, namun ternyata itu cuma akal bulus agar sang paman tidak lagi menasehatinya. Dia bahkan akan memberi tanda kepada para wanita baik yang bersuami maupun tidak.
"Baiklah disuruh tandai diri orang-orang yang bersuami supaya bertapong dan bertopi. Maka memakai Tapong dan bertopilah wanita-wanita yang bersuami, namun tidak diubahnya juga perbuatan Batara Wajo, baik yang bertapong maupun yang bertopi diambilnya juga. Berganti-gantilah para arung di Wajo menasehatinya dan datang pula Arung Penrang di Wajo menasehati cucunya tetapi tidak diubahnya, sebab takdir Dewata yang Esa.
Saat itu, wanita-wanita tinggal di rumah dan suami mereka yang pergi ke pasar. Yang diperbuat lagi Batara Wajo, ialah menyuruh untuk mengambil secara diam-diam perempuan di rumahnya.
Jikalau ada orang yang menyembunyikan perempuannya, maka sang raja sendiri pergi mengambilnya. Maka banyaklah orang yang pindah dan pergi ke Penrang, ada pula yang menyeberang ke Pammana.
Baca juga: Siasat Jayakatwang Hancurkan Singasari Lewat Serangan 2 Arah, dan Bunuh Kertanagara saat Pesta Terlarang
Akhirnya Batara Wajo La Pateddungi To Samallangi menyuruh gantung kelambu pada hari pasar dan menyuruh untuk mencari perempuan orang-orang Wajo yang disukainya lalu diperkosa.
“Jangan engkau lakukan perbuatan yang demikian yang tidak disukai oleh orang-orang Wajo dan dibenci oleh Dewata Yang Esa, bila engkau hendak mengambil perempuan, yang gadis saja engkau ambil untuk diperistrikan,.
Mendengar nasehat sang paman, awalnya Batara Wajo III akan menurutinya, namun ternyata itu cuma akal bulus agar sang paman tidak lagi menasehatinya. Dia bahkan akan memberi tanda kepada para wanita baik yang bersuami maupun tidak.
"Baiklah disuruh tandai diri orang-orang yang bersuami supaya bertapong dan bertopi. Maka memakai Tapong dan bertopilah wanita-wanita yang bersuami, namun tidak diubahnya juga perbuatan Batara Wajo, baik yang bertapong maupun yang bertopi diambilnya juga. Berganti-gantilah para arung di Wajo menasehatinya dan datang pula Arung Penrang di Wajo menasehati cucunya tetapi tidak diubahnya, sebab takdir Dewata yang Esa.
Saat itu, wanita-wanita tinggal di rumah dan suami mereka yang pergi ke pasar. Yang diperbuat lagi Batara Wajo, ialah menyuruh untuk mengambil secara diam-diam perempuan di rumahnya.
Jikalau ada orang yang menyembunyikan perempuannya, maka sang raja sendiri pergi mengambilnya. Maka banyaklah orang yang pindah dan pergi ke Penrang, ada pula yang menyeberang ke Pammana.
Lihat Juga :