Menghormati Raja Kertanegara Membuat Gajah Mada Berambisi Menyatukan Nusantara
Sabtu, 23 Oktober 2021 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Namun Jayakatwang yang mengakhiri riwayat Kertanegara berhasil dihabisi oleh menantu Kertanegara, yaitu Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Dengan runtuhnya Singhasari, hubungan dengan berbagai wilayah luar Jawa tidak lagi berkembang. Kerajaan-kerajaan di luar Jawa kembali beridiri sendiri sebagai kerajaan yang merdeka, tak terikat dengan Singhasari.
Meskipun Kerajaan Singasari runtuh dengan raja terakhirnya Kertanegara tewas di tangan Jayakatwang, namun spirit glory yang telah menyatukan nusantara tidak mati. Baca juga: Siasat Gajah Mada Habisi Patih Kebo Wawira di Sumur dengan Ditimbun Batu Kapur
Gajah Mada menghidupkan kembali spirit itu ketika dia mengucapkan Sumpah Palapa. Tidak hanya mengucapkan sumpah Palapa, sebagai tanda hormat dan rasa kagum terhadap sosok Kertanegara itu, Gajah Mada mendirikan bangunan suci keagamaan (catya).
Prasasti Gajah Mada (1351) memberikan petunjuk bahwa Gajah Mada mendirikan catya bagi Kertanagara. Disebutkan bahwa sebagai Sang Mahamantrimukya atau Mahamantri yang terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri. Dia juga berhak memberi titah untuk membangun catya bagi tokoh yang telah meninggal.
Menurut para ahli, catya yang dibangun atas perintah Gajah Mada sangat mungkin adalah Candi Singasari. Alasannya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman candi itu. Menariknya, dalam Prasasti Gajah Mada itu terdapat julukan lain bagi Sang Mahapatih, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara.
Jirnnodhara artinya pembangun sesuatu yang baru atau memugar sesuatu yang telah runtuh atau rusak. Julukan ini tentu memiliki makna yang sangat mendalam, bahwa di atas reruntuhan kerjaan Singasari, Gajah Mada akan meneruskan spirit glory, ambisi kekuasaan mengusai kembali nusantara.
Di tangan Mahapatih Gajah Mada bersama Hayam Wuruk, spirit glory yang mendasari ambisi politik pengembangan mandala hingga seluruh dwipantara atau nusantara yang awalnya telah dirintis Kertanagara, kembali terwujud. Majapajit menjadi kerajaan besar, pusat yang menyatukan seluruh nusantara.
Sumber:
-Sindonews.com
-Wikipedia.org
-tps://nasional.okezone.com
-Historia.id
Meskipun Kerajaan Singasari runtuh dengan raja terakhirnya Kertanegara tewas di tangan Jayakatwang, namun spirit glory yang telah menyatukan nusantara tidak mati. Baca juga: Siasat Gajah Mada Habisi Patih Kebo Wawira di Sumur dengan Ditimbun Batu Kapur
Gajah Mada menghidupkan kembali spirit itu ketika dia mengucapkan Sumpah Palapa. Tidak hanya mengucapkan sumpah Palapa, sebagai tanda hormat dan rasa kagum terhadap sosok Kertanegara itu, Gajah Mada mendirikan bangunan suci keagamaan (catya).
Prasasti Gajah Mada (1351) memberikan petunjuk bahwa Gajah Mada mendirikan catya bagi Kertanagara. Disebutkan bahwa sebagai Sang Mahamantrimukya atau Mahamantri yang terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri. Dia juga berhak memberi titah untuk membangun catya bagi tokoh yang telah meninggal.
Menurut para ahli, catya yang dibangun atas perintah Gajah Mada sangat mungkin adalah Candi Singasari. Alasannya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman candi itu. Menariknya, dalam Prasasti Gajah Mada itu terdapat julukan lain bagi Sang Mahapatih, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara.
Jirnnodhara artinya pembangun sesuatu yang baru atau memugar sesuatu yang telah runtuh atau rusak. Julukan ini tentu memiliki makna yang sangat mendalam, bahwa di atas reruntuhan kerjaan Singasari, Gajah Mada akan meneruskan spirit glory, ambisi kekuasaan mengusai kembali nusantara.
Di tangan Mahapatih Gajah Mada bersama Hayam Wuruk, spirit glory yang mendasari ambisi politik pengembangan mandala hingga seluruh dwipantara atau nusantara yang awalnya telah dirintis Kertanagara, kembali terwujud. Majapajit menjadi kerajaan besar, pusat yang menyatukan seluruh nusantara.
Sumber:
-Sindonews.com
-Wikipedia.org
-tps://nasional.okezone.com
-Historia.id
(don)
Lihat Juga :