Kisah Romantis Bung Tomo, Macan Podium yang Jatuh Cinta pada Wanita Cantik Bernama Sulistina
Selasa, 19 Oktober 2021 - 06:10 WIB
loading...
Foto Bung Tomo karya Alex Mendoer. Foto/Wikipedia
A
A
A
Suaranya menggelegar, memecah langit. Nada-nadanya selalu membakar keberanian rakyat Indonesia, untuk turun langsung ke gelanggang perang melawan segala bentuk penjajahan. Keberaniannya, bak Harimau yang siap menerkam setiap lawannya.
Baca juga: Kisah Mistis Bung Tomo Hadapi Agresi Militer Belanda, Bertemu Wanita-wanita Cantik di Lereng Wilis
Itulah Sutomo, yang akrab disapa Bung Tomo. Orasi-orasinya dikenal menggelegar di sanubari setiap rakyat Indonesia. Membangkitkan keberanian untuk melawan penjajah lewat podium di tengah medan pertempuran, hingga selalu dijuluki macan podium.
Tak jarang pergerakannya melawan penjajah, harus mempertaruhkan nyawanya sendiri, demi kemerdekaan Indonesia. Tetapi siapa sangka, di balik suaranya yang lantang dan tatapan tajam matanya, Bung Tomo adalah sosok romantis.
Baca juga: Kisah Asmara Pangeran Diponegoro, Pria Romantis Dipaksa Menikah Kedua Kali untuk Kepentingan Politis
Dia jatuh cinta pada wanita cantik bernama Sulistina. Kisah-kisah romantisnya di tengah medan laga pertempuran, banyak dikisahkan pada buku " Bung Tomo Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" karya Abdul Waid.
Awal mula Bung Tomo mengenal perempuan cantik tersebut di masa-masa pergolakan revolusi Indonesia. Pertemuan keduanya terjadi di Kota Surabaya, kebetulan Bung Tomo dan Sulistina sama-sama aktivis yang bergerak untuk menegakkan kepentingan, dan kesejahteraan orang banyak.
Namun yang membedakan adalah pergerakannya, Bung Tomo lebih mengarah kepada perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan Sulistina lebih mengarah pada kepentingan sosial. Saat itu Sulistina memiliki kesibukan sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Malang.
Baca juga: Polisi Gerebek Karaoke dan Bar di Medan, Belasan Orang Positif Narkoba
Suatu hari Sulistina diberi tugas oleh kantornya ke Kota Surabaya. Di sanalah Sulistina pertama kali bertemu dengan Bung Tomo. Padahal sebelumnya Sulistina tidak banyak mendengar tentang sosok Bung Tomo.
Sejak mengenal Bung Tomo, Sulistina memanggilnya dengan sebutan Mas Tomo, Sulistina bisa membaca karakter Bung Tomo sebenarnya cukup keras, apalagi dalam menentang penjajah. Sikapnya tegas, lugas, keras, sangat tercermin dalam gaya kesehariannya.
Namun di balik sosok Bung Tomo yang keras, Sulistina justru menemukan sisi romantisme dalam diri Bung Tomo, yang barangkali tidak banyak dirasakan oleh orang lain. Sisi romantisme itu mulai dirasakan ketika Bung Tomo berani mengutarakan perasaan cintanya kepada Sulistina.
Keberanian Bung Tomo cukup bulat dan tanpa minder, Bung Tomo menyatakan bahwa dirinya sangat mencintai Sulistina. Bung Tomo menginginkan dirinya dengan Sulistina menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Dimana hubungan yang lebih mengarah pada masa depan jangka panjang sampai akhir hayat.
Baca juga: Menantu Bejat, Demi Pesugihan Tega Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Nenek 70 Tahun
Mendengar ucapannya, Sulistina menyadari bahwa di balik sosoknya yang heroik dan keras, Bung Tomo hanyalah manusia biasa yang bisa jatuh cinta dan punya romantisme cinta yang indah untuk dirasakan. Tak berselang lama Bung Tomo setelah mengungkapkan cintanya kepada Sulistina, terjadilah hubungan sebagai pasangan kekasih antara keduanya.
Mereka berdua menjalin hubungan itu dengan penuh romantisme, sejak Januari 1936. Keduanya saling mencintai dan mengasihi satu sama lain, saling berbagi, mengisi, menasehati, dan mendoakan. Sejak keduanya berpacaran, hari-hari Bung Tomo berbeda dengan hari sebelumnya.
Hatinya tidak diisi dengan semangat heroisme perjuangan membela bangsa dan negaranya dari cengkeraman penjajah. Tetapi juga diisi oleh kasih sayang dari seorang perempuan. Bahkan Bung Tomo menyebut hidupnya sejak perkenalan dengan Sulistina sebagai roman perjuangan.
Baca juga: Kisah Mistis Bung Tomo Hadapi Agresi Militer Belanda, Bertemu Wanita-wanita Cantik di Lereng Wilis
Itulah Sutomo, yang akrab disapa Bung Tomo. Orasi-orasinya dikenal menggelegar di sanubari setiap rakyat Indonesia. Membangkitkan keberanian untuk melawan penjajah lewat podium di tengah medan pertempuran, hingga selalu dijuluki macan podium.
Tak jarang pergerakannya melawan penjajah, harus mempertaruhkan nyawanya sendiri, demi kemerdekaan Indonesia. Tetapi siapa sangka, di balik suaranya yang lantang dan tatapan tajam matanya, Bung Tomo adalah sosok romantis.
Baca juga: Kisah Asmara Pangeran Diponegoro, Pria Romantis Dipaksa Menikah Kedua Kali untuk Kepentingan Politis
Dia jatuh cinta pada wanita cantik bernama Sulistina. Kisah-kisah romantisnya di tengah medan laga pertempuran, banyak dikisahkan pada buku " Bung Tomo Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" karya Abdul Waid.
Awal mula Bung Tomo mengenal perempuan cantik tersebut di masa-masa pergolakan revolusi Indonesia. Pertemuan keduanya terjadi di Kota Surabaya, kebetulan Bung Tomo dan Sulistina sama-sama aktivis yang bergerak untuk menegakkan kepentingan, dan kesejahteraan orang banyak.
Namun yang membedakan adalah pergerakannya, Bung Tomo lebih mengarah kepada perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan Sulistina lebih mengarah pada kepentingan sosial. Saat itu Sulistina memiliki kesibukan sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Malang.
Baca juga: Polisi Gerebek Karaoke dan Bar di Medan, Belasan Orang Positif Narkoba
Suatu hari Sulistina diberi tugas oleh kantornya ke Kota Surabaya. Di sanalah Sulistina pertama kali bertemu dengan Bung Tomo. Padahal sebelumnya Sulistina tidak banyak mendengar tentang sosok Bung Tomo.
Sejak mengenal Bung Tomo, Sulistina memanggilnya dengan sebutan Mas Tomo, Sulistina bisa membaca karakter Bung Tomo sebenarnya cukup keras, apalagi dalam menentang penjajah. Sikapnya tegas, lugas, keras, sangat tercermin dalam gaya kesehariannya.
Namun di balik sosok Bung Tomo yang keras, Sulistina justru menemukan sisi romantisme dalam diri Bung Tomo, yang barangkali tidak banyak dirasakan oleh orang lain. Sisi romantisme itu mulai dirasakan ketika Bung Tomo berani mengutarakan perasaan cintanya kepada Sulistina.
Keberanian Bung Tomo cukup bulat dan tanpa minder, Bung Tomo menyatakan bahwa dirinya sangat mencintai Sulistina. Bung Tomo menginginkan dirinya dengan Sulistina menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Dimana hubungan yang lebih mengarah pada masa depan jangka panjang sampai akhir hayat.
Baca juga: Menantu Bejat, Demi Pesugihan Tega Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Nenek 70 Tahun
Mendengar ucapannya, Sulistina menyadari bahwa di balik sosoknya yang heroik dan keras, Bung Tomo hanyalah manusia biasa yang bisa jatuh cinta dan punya romantisme cinta yang indah untuk dirasakan. Tak berselang lama Bung Tomo setelah mengungkapkan cintanya kepada Sulistina, terjadilah hubungan sebagai pasangan kekasih antara keduanya.
Mereka berdua menjalin hubungan itu dengan penuh romantisme, sejak Januari 1936. Keduanya saling mencintai dan mengasihi satu sama lain, saling berbagi, mengisi, menasehati, dan mendoakan. Sejak keduanya berpacaran, hari-hari Bung Tomo berbeda dengan hari sebelumnya.
Hatinya tidak diisi dengan semangat heroisme perjuangan membela bangsa dan negaranya dari cengkeraman penjajah. Tetapi juga diisi oleh kasih sayang dari seorang perempuan. Bahkan Bung Tomo menyebut hidupnya sejak perkenalan dengan Sulistina sebagai roman perjuangan.
(eyt)
Lihat Juga :