Kekerasan Seksual Anak di Tangsel Tinggi, Pelaku Umumnya Orang Terdekat
Kamis, 23 September 2021 - 10:10 WIB
loading...
Laporan kasus kekerasan anak dan perempuan selama PPKM di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) cukup tinggi. Foto: Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
TANGERANG SELATAN - Laporan kasus kekerasan anak dan perempuan selama PPKM di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) cukup tinggi, yakni mencapai 70 kasus. Mirisnya, dari jumlah itu kasus mendominasi adalah persetubuhan anak.
"Kasus kekerasan anak selama PPKM mulai dari Januari sampai sekarang ada 70 kasus. Itu kita bicara total kasus anak. Dari 70 itu, paling tinggi persetubuhan, kekerasan seksual dan fisik," ujar Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tangsel, Tri Purwanto, Kamis (23/9/2021).
Baca juga: Arief Minta Tangerang Bebas Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan
Ia menjelaskan, dari 70 kasus itu saat ini yang masih dalam penanganan di kepolisian berjumlah 14 kasus. Kasus-kasus tersebut kini dalam pengawalan P2TP2A. Sisanya sudah selesai dan berakhir damai dengan dilakukan mediasi antarkedua belah pihak.
"Rata-rata yang mediasi kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)," katanya.
Baca juga: Miris! Sejumlah Pelajar Jadi Begal Motor di Tangeran Selatan
Menurut dia, banyaknya laporan yang masuk menandakan kesadaran masyarakat dan keberanian korban untuk melapor di Tangsel sudah mulai terbangun.
"Banyaknya kasus bukan berarti kotanya tidak baik. Kasus meningkat, karena banyak masyarakat yang lapor. Pelakunya semua rata-rata orang terdekat, bisa tetangga, om, kakek, bahkan pelakunya ayah tiri," pungkasnya.
"Kasus kekerasan anak selama PPKM mulai dari Januari sampai sekarang ada 70 kasus. Itu kita bicara total kasus anak. Dari 70 itu, paling tinggi persetubuhan, kekerasan seksual dan fisik," ujar Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tangsel, Tri Purwanto, Kamis (23/9/2021).
Baca juga: Arief Minta Tangerang Bebas Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan
Ia menjelaskan, dari 70 kasus itu saat ini yang masih dalam penanganan di kepolisian berjumlah 14 kasus. Kasus-kasus tersebut kini dalam pengawalan P2TP2A. Sisanya sudah selesai dan berakhir damai dengan dilakukan mediasi antarkedua belah pihak.
"Rata-rata yang mediasi kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)," katanya.
Baca juga: Miris! Sejumlah Pelajar Jadi Begal Motor di Tangeran Selatan
Menurut dia, banyaknya laporan yang masuk menandakan kesadaran masyarakat dan keberanian korban untuk melapor di Tangsel sudah mulai terbangun.
"Banyaknya kasus bukan berarti kotanya tidak baik. Kasus meningkat, karena banyak masyarakat yang lapor. Pelakunya semua rata-rata orang terdekat, bisa tetangga, om, kakek, bahkan pelakunya ayah tiri," pungkasnya.
(thm)
Lihat Juga :