Sebelum Tewas, Praka Dirham Berencana Buat Syukuran Ketika Pulang dari Papua
Jum'at, 03 September 2021 - 23:10 WIB
loading...
Jenazah Praka M Dhirhamsyah tiba di rumah duka di Kabupaten Pangkep, Sulsel, Jumat (3/9). Foto: SINDOnews/Muhammad Subhan
A
A
A
PANGKEP - Praka M Dhirhamsyah sudah merencanakan beberapa kegiatan yang akan dia lakukan saat pulang dari tugasnya di Papua nanti. Seperti acara syukuran bersama keluarga dan jalan-jalan bersama anaknya, Muhammad Irsyad (2).
Rencana-rencana itu dia sampaikan kepada orang tuanya, yang memang kerap ia hubungi selama bertugas di Papua. Saat terakhir kali berbicara dengan orang tuanya 31 Agustus lalu, Praka Dirham menyampaikan bahwa masa tugasnya tak akan lama lagi.
Baca juga:Jadi Korban KKB, Jenazah TNI Asal Sulsel Dibawa ke Kampung Halamannya Hari Ini
"Dia ngomong, Desember nanti balik dia mau acara. Dia mau ajak anaknya jalan-jalan," kata Abdul Waqit, ayah Praka Dirham saat ditemui di kediamannya, Jumat (3/9/2021).
Sayang, rencana-rencana Praka Dirham itu tak pernah terwujud. Ia gugur dalam penyerangan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Maybrat, Papua Barat, Kamis 2 September malam.
Praka Dirham adalah satu dari empat prajurit TNI yang tewas dalam penyerangan tersebut. Tiga korban lainnya adalah Pratu Zul Anshari, Serda Amrosius, dan Lettu Dirman.
Baca juga:2 Jenazah TNI Korban KKB Tiba di Bandara Sultan Hasanuddin
Abdul Waqit bercerita, putra pertamanya itu adalah anak yang pandai bergaul. Saat sekolah, rumahnya kerap menjadi tempat berkumpul anaknya bersama teman-temannya. "Dulu rumah ini ramai sama temannya. Biasa teman-temannya itu nginap di sini," kenang Waqit.
Tamat SMA, Praka Dirham tak langsung mendaftar sebagai anggota TNI. Ia sempat bekerja sebagai karyawan outsourching di PT Semen Tonasa . Ia baru tertarik jadi anggota TNI saat seorang kerabatnya berkunjung ke rumahnya.
"Waktu ponakan saya yang anggota TNI datang. Dia bilang saya juga mau jadi tentara. Jadi dia daftar bintara tapi tidak lolos. Terus daftar tamtama dan lolos," kenangnya.
Baca juga:KNPI Kutuk Serangan KKB ke Pos Koramil Kisor Papua Barat
Waqit yang merupakan ASN UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Pangkep ini tak menyangka jika anaknya itu akan tewas mengenaskan saat menjaga posnya. Sebab, dalam beberapa kali pembicaraan telepon, almarhum mengatakan bahwa posnya berada di tempat yang relatif aman dan ramai penduduk sipil.
Meski pahit, Waqit beserta keluarganya berusaha menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Ia berdoa putranya yang gugur dalam tugas negara itu mati syahid. Ia juga berharap konflik di Papua dan Papua Barat segera berakhir.
"Saya ikhlas. Insyaallah anak saya mati syahid. Semoga tidak ada lagi konflik di negara ini karena kita semua satu sesama anak bangsa," ujarnya.
Baca juga:Satgas Nemangkawi Temukan Penyimpanan Senjata Api KKB Kelompok Gigen Telenggeng
Praka Dirham meninggalkan seorang istri, Feby Febrianty dan seorang putra bernama Muhammad Irsyad yang baru berusia 2 tahun.
Keluarga menyerahkan jenazah Praka Dirham kepada TNI dalam upacara militer. Alamrhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Mangilu Kecamatan Bungiro, Kabupaten Pangkep, Jumat (3/9).
Rencana-rencana itu dia sampaikan kepada orang tuanya, yang memang kerap ia hubungi selama bertugas di Papua. Saat terakhir kali berbicara dengan orang tuanya 31 Agustus lalu, Praka Dirham menyampaikan bahwa masa tugasnya tak akan lama lagi.
Baca juga:Jadi Korban KKB, Jenazah TNI Asal Sulsel Dibawa ke Kampung Halamannya Hari Ini
"Dia ngomong, Desember nanti balik dia mau acara. Dia mau ajak anaknya jalan-jalan," kata Abdul Waqit, ayah Praka Dirham saat ditemui di kediamannya, Jumat (3/9/2021).
Sayang, rencana-rencana Praka Dirham itu tak pernah terwujud. Ia gugur dalam penyerangan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Maybrat, Papua Barat, Kamis 2 September malam.
Praka Dirham adalah satu dari empat prajurit TNI yang tewas dalam penyerangan tersebut. Tiga korban lainnya adalah Pratu Zul Anshari, Serda Amrosius, dan Lettu Dirman.
Baca juga:2 Jenazah TNI Korban KKB Tiba di Bandara Sultan Hasanuddin
Abdul Waqit bercerita, putra pertamanya itu adalah anak yang pandai bergaul. Saat sekolah, rumahnya kerap menjadi tempat berkumpul anaknya bersama teman-temannya. "Dulu rumah ini ramai sama temannya. Biasa teman-temannya itu nginap di sini," kenang Waqit.
Tamat SMA, Praka Dirham tak langsung mendaftar sebagai anggota TNI. Ia sempat bekerja sebagai karyawan outsourching di PT Semen Tonasa . Ia baru tertarik jadi anggota TNI saat seorang kerabatnya berkunjung ke rumahnya.
"Waktu ponakan saya yang anggota TNI datang. Dia bilang saya juga mau jadi tentara. Jadi dia daftar bintara tapi tidak lolos. Terus daftar tamtama dan lolos," kenangnya.
Baca juga:KNPI Kutuk Serangan KKB ke Pos Koramil Kisor Papua Barat
Waqit yang merupakan ASN UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Pangkep ini tak menyangka jika anaknya itu akan tewas mengenaskan saat menjaga posnya. Sebab, dalam beberapa kali pembicaraan telepon, almarhum mengatakan bahwa posnya berada di tempat yang relatif aman dan ramai penduduk sipil.
Meski pahit, Waqit beserta keluarganya berusaha menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Ia berdoa putranya yang gugur dalam tugas negara itu mati syahid. Ia juga berharap konflik di Papua dan Papua Barat segera berakhir.
"Saya ikhlas. Insyaallah anak saya mati syahid. Semoga tidak ada lagi konflik di negara ini karena kita semua satu sesama anak bangsa," ujarnya.
Baca juga:Satgas Nemangkawi Temukan Penyimpanan Senjata Api KKB Kelompok Gigen Telenggeng
Praka Dirham meninggalkan seorang istri, Feby Febrianty dan seorang putra bernama Muhammad Irsyad yang baru berusia 2 tahun.
Keluarga menyerahkan jenazah Praka Dirham kepada TNI dalam upacara militer. Alamrhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Mangilu Kecamatan Bungiro, Kabupaten Pangkep, Jumat (3/9).
(luq)
Lihat Juga :