Ridwan Kamil Soal Vaksinasi: No One Safe Until Everyone Is Safe
Kamis, 02 September 2021 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
"Teritorial di Jabar itu beragam. Jadi tak bisa dibandingkan dengan yang homogen. Jabar itu ada kota dan kabupaten pedalaman, pelosok yang jangkauannya susah secara mobilitas. Infrastruktur juga terbatas dan tidak merata. Jumlah puskesmas kita hanya 1000-an, padahal standar WHO 5.000-an," paparnya.
Kang Emil juga menempatkan persoalan Jabar sebagai daerah otonom dimana pihaknya tidak memiliki kuasa besar dalam menentukan kuota vaksin per daerah. Hal itu menciptakan kendala dalam penyerapan vaksin di daerah.
"Pada saat suplai vaksin tak menentu, urutannya itu pemerintah pusat memberikan kuota kepada kota kabupaten angkanya sudah dikunci. Kemudian, provinsi ditugaskan mengirimkan. Jadi, tugas provinsi ini dalam pandangan saya memang kurang maksimal karena yang ngatur kuota kabupaten/kota itu dari pusat," terangnya.
Kesimpulannya, proses vaksinasi di Jabar tidak akan selesai akhir tahun ini jika suplai vaksin yang diterima tidak proporsional dengan jumlah penduduk.
"Kalau kata Presiden, Jabar harus beres Desember itu membutuhkan kurang lebih 15 juta dosis per bulan. Jadi jangan bicara kurang atau apa kalau suplainya saja tak sebanyak ini. Jadi problemnya itu bukan di daerah, tapi suplainya belum masuk. Kalau berhasil menjamin 15 juta dosis per bulan untuk Jabar, maka targetnya 500.000 orang disuntik per hari," jelasnya lagi.
Dalam urusan kecepatan vaksin, tambah Kang Emil, dua bulan lalu Jabar hanya mampu menyuntikan 50.000 dosis vaksin per hari. Angka ini meningkat menjadi 235.000 dosis per hari pada akhir Agustus 2021. Bahkan, dalam acara Gebyar Vaksin 28 Agustus lalu, Jabar bisa menyerap 420.000 dosis vaksin per hari.
"Alhamdulillah dua bulan lalu kita masih 50.000 dosis per hari. Akhir Agustus kemarin rata-rata 235.000 per hari. Dan kita testing tanggal 28 Agustus kita bisa 420.000," ujarnya.
Kang Emil juga menempatkan persoalan Jabar sebagai daerah otonom dimana pihaknya tidak memiliki kuasa besar dalam menentukan kuota vaksin per daerah. Hal itu menciptakan kendala dalam penyerapan vaksin di daerah.
"Pada saat suplai vaksin tak menentu, urutannya itu pemerintah pusat memberikan kuota kepada kota kabupaten angkanya sudah dikunci. Kemudian, provinsi ditugaskan mengirimkan. Jadi, tugas provinsi ini dalam pandangan saya memang kurang maksimal karena yang ngatur kuota kabupaten/kota itu dari pusat," terangnya.
Kesimpulannya, proses vaksinasi di Jabar tidak akan selesai akhir tahun ini jika suplai vaksin yang diterima tidak proporsional dengan jumlah penduduk.
"Kalau kata Presiden, Jabar harus beres Desember itu membutuhkan kurang lebih 15 juta dosis per bulan. Jadi jangan bicara kurang atau apa kalau suplainya saja tak sebanyak ini. Jadi problemnya itu bukan di daerah, tapi suplainya belum masuk. Kalau berhasil menjamin 15 juta dosis per bulan untuk Jabar, maka targetnya 500.000 orang disuntik per hari," jelasnya lagi.
Dalam urusan kecepatan vaksin, tambah Kang Emil, dua bulan lalu Jabar hanya mampu menyuntikan 50.000 dosis vaksin per hari. Angka ini meningkat menjadi 235.000 dosis per hari pada akhir Agustus 2021. Bahkan, dalam acara Gebyar Vaksin 28 Agustus lalu, Jabar bisa menyerap 420.000 dosis vaksin per hari.
"Alhamdulillah dua bulan lalu kita masih 50.000 dosis per hari. Akhir Agustus kemarin rata-rata 235.000 per hari. Dan kita testing tanggal 28 Agustus kita bisa 420.000," ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :