Menyedihkan, Pasutri Aktivis Kemanusiaan Meninggal Dunia Terpapar COVID-19
Minggu, 01 Agustus 2021 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Tak hanya itu, Gus Amir juga selalu konsen untuk ikut menyelesaikan konflik-konflik sosial. Diantaranya kejadian konflik suku Dayak dan Madura di Sambas, Kalimantan Barat. ”Gus Amir ikut melakukan pemulangan suku Madura dan penyelamatan korban konflik ini,” terang Muhammad Mukhiddin, pengasuh pondok yatim Vila Durian Yartim Sejahtera, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Dikatakan, sebagai salah satu putra kiai ternama di Kabupaten Lamongan, Gus Amir selalu menampakkan sikap kesederhanaan. Bahkan, ia selalu berupa mendekatkan diri dengan kelompok masyarakat dengan masalah sosial. ”Tak jarang beliau mbecak (mengayuh becak) untuk lebih dekat dengan tukang becak. Dari sana, beliau bisa membaca masalah sosialnya dan bergerak untuk menangani,” kenang Gus Mukhiddin, sapaan akrab Muhammad Mukhiddin.
Selama hidup, lanjut Mukhiddin, Gus Amir selalu berpikir kemanusiaan. Lantaran itu, ia tak pernah Lelah mendirikan rumah tampung bagi masyarakat yang berada dalam masalah sosial, seperti anak yatim dan lansia yang tak memiliki keluarga. ”Anak bermasalah dengan hukum juga menjadi konsen penanganan. Atas itulah kami juga kerap menerima anak-anak yang berhadapan dengan hukum,” tandasnya.
Pasangan Amirul Mu’minin - Indah Soraya memang dikenal sebagai putra-putri kiai di kalangan pesantren yang aktif dalam misi kemanusiaan. Pasangan ini meninggalkan tiga putra yang salah satunya mengelola lembaga pendidikan Bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur.
Mukhiddin menyebut, pasangan ini kerap bersinergi untuk melakukan aksi-aksi sosial dan kemanusiaan dengan mengabaikan kepentingan keluarganya sendiri. ”Hidupnya sederhana, tapi selalu memikirkan orang lain. Bahkan Gus Amir dan istrinya tidak pernah berpikir kemewahan untuk keluarganya. Persis seperti yang dilakukan ayahnya, KH Abdullah Muchtar,” pungkasnya
Dikatakan, sebagai salah satu putra kiai ternama di Kabupaten Lamongan, Gus Amir selalu menampakkan sikap kesederhanaan. Bahkan, ia selalu berupa mendekatkan diri dengan kelompok masyarakat dengan masalah sosial. ”Tak jarang beliau mbecak (mengayuh becak) untuk lebih dekat dengan tukang becak. Dari sana, beliau bisa membaca masalah sosialnya dan bergerak untuk menangani,” kenang Gus Mukhiddin, sapaan akrab Muhammad Mukhiddin.
Selama hidup, lanjut Mukhiddin, Gus Amir selalu berpikir kemanusiaan. Lantaran itu, ia tak pernah Lelah mendirikan rumah tampung bagi masyarakat yang berada dalam masalah sosial, seperti anak yatim dan lansia yang tak memiliki keluarga. ”Anak bermasalah dengan hukum juga menjadi konsen penanganan. Atas itulah kami juga kerap menerima anak-anak yang berhadapan dengan hukum,” tandasnya.
Pasangan Amirul Mu’minin - Indah Soraya memang dikenal sebagai putra-putri kiai di kalangan pesantren yang aktif dalam misi kemanusiaan. Pasangan ini meninggalkan tiga putra yang salah satunya mengelola lembaga pendidikan Bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur.
Mukhiddin menyebut, pasangan ini kerap bersinergi untuk melakukan aksi-aksi sosial dan kemanusiaan dengan mengabaikan kepentingan keluarganya sendiri. ”Hidupnya sederhana, tapi selalu memikirkan orang lain. Bahkan Gus Amir dan istrinya tidak pernah berpikir kemewahan untuk keluarganya. Persis seperti yang dilakukan ayahnya, KH Abdullah Muchtar,” pungkasnya
(msd)
Lihat Juga :