Dari Kabupaten Gowa, UMKM Bangkit Dukung Pembangunan Ekonomi Nasional
Minggu, 04 Juli 2021 - 23:35 WIB
loading...
A
A
A
“Trend pertumbuhan ekonomi daerah di masa pandemi masih positif yaitu sekitar 1,76%, sementara pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan berada pada angka minus 0,70%,”katanya saat dihubungi, baru-baru ini.
Dia menyebutkan, jika indikator keberhasilan diantaranya ditopang oleh pendapatan perkapita di Kabupaten Gowa mengalami peningkatan jika pada 2019 mencapai Rp 27,10 juta dan di 2020 naik sebesar 1,29% atau Rp 27,45 juta.
Kemudian, pertumbuhan ekonomi ini juga terlihat dari pemerintah daerah mampu menekan angka kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Berdasarkan data kemiskinan di Kabupaten Gowa tercatat angka kemiskinan turun dari 7,53% di 2019 menjadi 7,38 persen di 2020. Bahkan, Kabupaten Gowa berada di bawah angka kemiskinan Sulsel sebesar 8,99, sedangkana angka pengangguran kita di tahun ini sekitar 6,44%.
Ketiga, hal ini juga terlihat dari keberhasilan pemerintah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dimana, pada Maret 2020 lalu angka IPM di Kabupaten Gowa naik dari 69,6 pada 2019 menjadi 70,4 pada 2020. Hal ini pun menjadikan status IPM Kabupaten Gowa dari sedang menjadi tinggi.
“Dengan seluruh capaian perekonomian yang diraih tentunya berimplikasi terhadap meningkatnya kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Hal ini terbukti pada 2020 kepuas publik mencapai 90,7% dari tahun sebelumnya sekitarnya 83,3% persen,” ungkapnya.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Diminta Bantu Edukasi Masyarakat Gowa Disiplin Prokes
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) ini memaparkan, pada kondisi pandemi telah dilakukan beberapa upaya untuk bisa kembali menggerakkan akselerasi ekonomi.
Upaya tersebut diantaranya dengan menerapkan teori gas dan rem. Teori gas dan rem itu, kalau misalnya terjadi peningkatan covid disuatu daerah maka harus melakukan rem.
Dia mencontohkan, misalnya seperti sekarang ini kita memakai teori rem karena kasus covid-19 meningkat sehingga kita rem kembali. Dimana tempat-tempat ditutup kembali, jamnya diatur kembali, sekolah yang tadinya dibuka ditutup kembali dan segala macam. Tetapi, kalau dalam situasi melandai atau angka penularan covidnya rendah kita baru memakai gas.
“Teori Gas itu untuk meningkatkan ekonomi, karena ini merupakan pilihan yang sulit. Kita fokus pada kesehatan hancur ekonomi kita, ekonomi hancur masyarakat banyak yang kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan bahkan mungkin banyak masyarakat yang tidak bisa makan karena ekonomi tidak berjalan. Kekuatan pemerintah juga berkurang untuk bisa membantu masyarakatnnya karena ekonomi tidak berjalan,”terangnya.
Jadi, kalau misalnya dia lagi landai itu yang harus digas. Sekarang kita lagi pakai gas, karena kemarin sempat di rem-rem sekarang kita gas betul.
“Semua tempat kita buka tetapi dengan kita kontrol protokol kesehatannya. Kalau misalnya ada yang melanggar kita beri surat peringatan. Kemarin kita beri surat teguran pertama ke Wisata Kebun di Bontomarannu karena dia tidak membatasi pengunjungnya. Kita tetap awasi, jadi gas bukan berarti abai, tapi gas itu dengan protokol Kesehatan,”terangnya.
Adnan sapaan akrabnya mengungkapkan, saat ini pihaknya melihat dibeberapa daerah terjadi peningkatan, makanya dilakukan tracing oleh tim gugus yang disinkronkan dengan data yang ada di provinsi.
Baca Juga: Pemkab Gowa Siap Turunkan Prevalensi Stunting Sesuai Target Nasional
Dia menyebutkan, jika indikator keberhasilan diantaranya ditopang oleh pendapatan perkapita di Kabupaten Gowa mengalami peningkatan jika pada 2019 mencapai Rp 27,10 juta dan di 2020 naik sebesar 1,29% atau Rp 27,45 juta.
Kemudian, pertumbuhan ekonomi ini juga terlihat dari pemerintah daerah mampu menekan angka kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Berdasarkan data kemiskinan di Kabupaten Gowa tercatat angka kemiskinan turun dari 7,53% di 2019 menjadi 7,38 persen di 2020. Bahkan, Kabupaten Gowa berada di bawah angka kemiskinan Sulsel sebesar 8,99, sedangkana angka pengangguran kita di tahun ini sekitar 6,44%.
Ketiga, hal ini juga terlihat dari keberhasilan pemerintah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dimana, pada Maret 2020 lalu angka IPM di Kabupaten Gowa naik dari 69,6 pada 2019 menjadi 70,4 pada 2020. Hal ini pun menjadikan status IPM Kabupaten Gowa dari sedang menjadi tinggi.
“Dengan seluruh capaian perekonomian yang diraih tentunya berimplikasi terhadap meningkatnya kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Hal ini terbukti pada 2020 kepuas publik mencapai 90,7% dari tahun sebelumnya sekitarnya 83,3% persen,” ungkapnya.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Diminta Bantu Edukasi Masyarakat Gowa Disiplin Prokes
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) ini memaparkan, pada kondisi pandemi telah dilakukan beberapa upaya untuk bisa kembali menggerakkan akselerasi ekonomi.
Upaya tersebut diantaranya dengan menerapkan teori gas dan rem. Teori gas dan rem itu, kalau misalnya terjadi peningkatan covid disuatu daerah maka harus melakukan rem.
Dia mencontohkan, misalnya seperti sekarang ini kita memakai teori rem karena kasus covid-19 meningkat sehingga kita rem kembali. Dimana tempat-tempat ditutup kembali, jamnya diatur kembali, sekolah yang tadinya dibuka ditutup kembali dan segala macam. Tetapi, kalau dalam situasi melandai atau angka penularan covidnya rendah kita baru memakai gas.
“Teori Gas itu untuk meningkatkan ekonomi, karena ini merupakan pilihan yang sulit. Kita fokus pada kesehatan hancur ekonomi kita, ekonomi hancur masyarakat banyak yang kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan bahkan mungkin banyak masyarakat yang tidak bisa makan karena ekonomi tidak berjalan. Kekuatan pemerintah juga berkurang untuk bisa membantu masyarakatnnya karena ekonomi tidak berjalan,”terangnya.
Jadi, kalau misalnya dia lagi landai itu yang harus digas. Sekarang kita lagi pakai gas, karena kemarin sempat di rem-rem sekarang kita gas betul.
“Semua tempat kita buka tetapi dengan kita kontrol protokol kesehatannya. Kalau misalnya ada yang melanggar kita beri surat peringatan. Kemarin kita beri surat teguran pertama ke Wisata Kebun di Bontomarannu karena dia tidak membatasi pengunjungnya. Kita tetap awasi, jadi gas bukan berarti abai, tapi gas itu dengan protokol Kesehatan,”terangnya.
Adnan sapaan akrabnya mengungkapkan, saat ini pihaknya melihat dibeberapa daerah terjadi peningkatan, makanya dilakukan tracing oleh tim gugus yang disinkronkan dengan data yang ada di provinsi.
Baca Juga: Pemkab Gowa Siap Turunkan Prevalensi Stunting Sesuai Target Nasional
Lihat Juga :