AMPI Jawa Timur Sosialisasikan Crowdfunding Jadi Alternatif Permodalan UMKM
Minggu, 04 Juli 2021 - 13:56 WIB
loading...
Ketua Dewan Pembina DPD AMPI Jatim H.M Sarmuji (kanan) usai acara di Studio Golkar TV, Surabaya
A
A
A
SURABAYA - DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Jawa Timur (Jatim) menggelar webinar Crowdfunding dan Fundraising atau program urun dana bersama Kanwil Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jatim dan sederet pakar ekonomi.
Ketua Dewan Pembina DPD AMPI Jatim, H.M Sarmuji mengatakan, crowdfunding sendiri tengah berkembang meskipun belum massif. Namun untuk jangka panjang, crowdfunding akan menjadi model bagi proses penghimpunan dana. "Terutama untuk UMKM," kata Sarmuji, Minggu (4/7/2021).
Anggota Komisi XI DPR RI ini menjelaskan, UMKM yang berhutang di bank bisa memanfaatkan model crowdfunding terutama Equity Crowdfunding (ECF) atau fintech urun dana. Ada pula crowdfunding tipe sukuk bunga dan obligasi yang disebut sebagai Security Crowdfunding (SCF).
Baca juga: Rumah Sakit di Surabaya Tak Kuat Lagi Tampung Pasien, Lapangan Tembak pun Disulap Jadi RS Lapangan
Sarmuji menambahkan, saat era pandemi ini, dana pihak ketiga di perbankan menumpuk. Padahal imbal hasil di perbankan sangat rendah. "Kalau deposito paling sekarang 2,5% sampai 3% per tahun. Jika dibandingkan dengan inflasinya saja, itu sudah mirip-mirip sekali, artinya uang itu nganggur dan mandeg (berhenti)," tambah Ketua Golkar Jatim tersebut.
Sedangkan peluang crowdfunding memberi langkah alternatif bagi masyarakat untuk menaruh uangnya sebagai investasi. Tentu dengan imbal hasil terukur dan menarik. Dia menilai, banyak UMKM Indonesia memiliki produk berkualitas tapi terhambat permodalan. "Misal UMKM yang bisa ekspor, itu sebenarnya produknya banyak yang berkualitas," ujar Sarmuji.
Pihaknya mengakui, memang pengguna crowdfunding belum banyak. Karena OJK baru mulai membuka izin bagi lembaga penyedia crowdfunding sekitar satu tahun terakhir.
Ketua Dewan Pembina DPD AMPI Jatim, H.M Sarmuji mengatakan, crowdfunding sendiri tengah berkembang meskipun belum massif. Namun untuk jangka panjang, crowdfunding akan menjadi model bagi proses penghimpunan dana. "Terutama untuk UMKM," kata Sarmuji, Minggu (4/7/2021).
Anggota Komisi XI DPR RI ini menjelaskan, UMKM yang berhutang di bank bisa memanfaatkan model crowdfunding terutama Equity Crowdfunding (ECF) atau fintech urun dana. Ada pula crowdfunding tipe sukuk bunga dan obligasi yang disebut sebagai Security Crowdfunding (SCF).
Baca juga: Rumah Sakit di Surabaya Tak Kuat Lagi Tampung Pasien, Lapangan Tembak pun Disulap Jadi RS Lapangan
Sarmuji menambahkan, saat era pandemi ini, dana pihak ketiga di perbankan menumpuk. Padahal imbal hasil di perbankan sangat rendah. "Kalau deposito paling sekarang 2,5% sampai 3% per tahun. Jika dibandingkan dengan inflasinya saja, itu sudah mirip-mirip sekali, artinya uang itu nganggur dan mandeg (berhenti)," tambah Ketua Golkar Jatim tersebut.
Sedangkan peluang crowdfunding memberi langkah alternatif bagi masyarakat untuk menaruh uangnya sebagai investasi. Tentu dengan imbal hasil terukur dan menarik. Dia menilai, banyak UMKM Indonesia memiliki produk berkualitas tapi terhambat permodalan. "Misal UMKM yang bisa ekspor, itu sebenarnya produknya banyak yang berkualitas," ujar Sarmuji.
Pihaknya mengakui, memang pengguna crowdfunding belum banyak. Karena OJK baru mulai membuka izin bagi lembaga penyedia crowdfunding sekitar satu tahun terakhir.
Lihat Juga :