Pengantin Itu Tergilas Mesin Penggilingan, dan Petani Tebu Mulai Berharap Manisnya Gula
Selasa, 15 Juni 2021 - 18:23 WIB
loading...
A
A
A
Para perempuan menghias diri dengan baju kebaya. Rambut mereka disanggul. Terlihat setandan pisang bercampur bunga setaman. Fungsinya sebagai sesaji . Di sebuah bokor, asap dupa tidak berhenti mengudara. Karena masih dalam situasi pandemi COVID-19, protokol kesehatan diperlakukan secara ketat.
"Ini pertama kalinya menggelar tradisi manten tebu ," tambah Heri. Bak sepasang mempelai manusia. Dua batang tebu dihias sedemikian rupa. Sebatang tebu yang dianggap sebagai tebu kakung (tebu pria) disemati nama Denmas Anggoro. Sedangkan tebu wanita bernama Nimas Jenat.
Baca juga: Ibu Guru Seksi Edarkan Sabu, Diringkus Polisi Saat Masih Kenakan Daster Hendak Pesta Terlarang
Kedua nama merujuk pada Selasa Pahing, hari Temanten Tebu selalu digelar. Dalam bahasa Jawa kuno Selasa disebut Anggoro. Sedangkan Pahing adalah Jenat. "Karenanya dinamakan pasangan Anggoro-Jenat," kata Heri mengutip keterangan pranatacara atau pembawa acara.
Sepasang laki-laki dan perempuan berjalan paling depan. Dua batang tebu yang sudah dipertemukan sekaligus dinikahkan tersebut, dibawa mereka. Di atas bentangan karpet bermotif batik, keduanya berjalan menuju mesin penggilingan tebu. Sejumlah laki-laki lain dan perempuan berjalan mengiringi.
Baca juga: Warga Desa di Jepara Ini Bertumbangan Akibat COVID-19, Pemicunya Banyak Perusahaan Langgar Prokes
"Ini pertama kalinya menggelar tradisi manten tebu ," tambah Heri. Bak sepasang mempelai manusia. Dua batang tebu dihias sedemikian rupa. Sebatang tebu yang dianggap sebagai tebu kakung (tebu pria) disemati nama Denmas Anggoro. Sedangkan tebu wanita bernama Nimas Jenat.
Baca juga: Ibu Guru Seksi Edarkan Sabu, Diringkus Polisi Saat Masih Kenakan Daster Hendak Pesta Terlarang
Kedua nama merujuk pada Selasa Pahing, hari Temanten Tebu selalu digelar. Dalam bahasa Jawa kuno Selasa disebut Anggoro. Sedangkan Pahing adalah Jenat. "Karenanya dinamakan pasangan Anggoro-Jenat," kata Heri mengutip keterangan pranatacara atau pembawa acara.
Sepasang laki-laki dan perempuan berjalan paling depan. Dua batang tebu yang sudah dipertemukan sekaligus dinikahkan tersebut, dibawa mereka. Di atas bentangan karpet bermotif batik, keduanya berjalan menuju mesin penggilingan tebu. Sejumlah laki-laki lain dan perempuan berjalan mengiringi.
Baca juga: Warga Desa di Jepara Ini Bertumbangan Akibat COVID-19, Pemicunya Banyak Perusahaan Langgar Prokes
Lihat Juga :