Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi
Sabtu, 12 Juni 2021 - 18:42 WIB
loading...
A
A
A
Pasalnya, banyak aktivitas ekonomi saat ini berdampak negatif terhadap lingkungan hidup seperti polusi udara, sampah plastik, dan lainnya. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemberdayaan pemuda dalam kerangka bonus demografi dengan cara membangun pendekatan budaya sadar dan peduli risiko dan menerapkan upaya pengurangan bahaya dapat menjadi salah satu strategi kunci dalam melestarikan lingkungan hidup.
Dedek menambahkan, “perlu kita tekankan pentingnya peran pemuda berdaya dalam melestarikan lingkungan hidup dan pentingnya pelestarian lingkungan dalam memberdayakan pemuda.” (Baca juga; Hadapi Bonus Demografi dengan Pelatihan Vokasi di BLK Komunitas )
“Indonesia belum mampu melindungi bio diversity. Dari keharusan 30% lautan dan lahan yang terlindungi, baru 17% saja yang mampu dilindungi oleh Indonesia,” ujar Prof. Emil Salim yang hadir sebagai pembicara kunci.
Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Andini Effendi, Kepala Lembaga Demografi UI Turro Wongkaren mengatakan bonus demografi jika tidak dimanfaatkan akan menjadi sebuah ‘bencana’ demografi’. Bagi Indonesia sendiri, masa bonus demografi tersebut terjadi pada rentang 2012-2036 dengan puncaknya di 2020-2024. Supaya dapat berperan dalam pembangunan, maka pemuda memastikan untuk bekerja dan tidak menjadi beban. Di sisi lain, meningkatkan sikap positif terhadap pembangunan berkelanjutan, salah satu contohnya dengan menjaga lingkungan hidup.
Perlu adanya perubahan perspektif pemuda dalam memandang lingkungan hidup. Pemuda sudah saatnya menjadi yang terdepan dalam kebijakan pembangunan berbasis lingkungan, mengingat pola pembangunan modern sudah mulai mengarusutamakan lingkungan dan konsepsi green living.
Dedek menambahkan, “perlu kita tekankan pentingnya peran pemuda berdaya dalam melestarikan lingkungan hidup dan pentingnya pelestarian lingkungan dalam memberdayakan pemuda.” (Baca juga; Hadapi Bonus Demografi dengan Pelatihan Vokasi di BLK Komunitas )
“Indonesia belum mampu melindungi bio diversity. Dari keharusan 30% lautan dan lahan yang terlindungi, baru 17% saja yang mampu dilindungi oleh Indonesia,” ujar Prof. Emil Salim yang hadir sebagai pembicara kunci.
Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Andini Effendi, Kepala Lembaga Demografi UI Turro Wongkaren mengatakan bonus demografi jika tidak dimanfaatkan akan menjadi sebuah ‘bencana’ demografi’. Bagi Indonesia sendiri, masa bonus demografi tersebut terjadi pada rentang 2012-2036 dengan puncaknya di 2020-2024. Supaya dapat berperan dalam pembangunan, maka pemuda memastikan untuk bekerja dan tidak menjadi beban. Di sisi lain, meningkatkan sikap positif terhadap pembangunan berkelanjutan, salah satu contohnya dengan menjaga lingkungan hidup.
Perlu adanya perubahan perspektif pemuda dalam memandang lingkungan hidup. Pemuda sudah saatnya menjadi yang terdepan dalam kebijakan pembangunan berbasis lingkungan, mengingat pola pembangunan modern sudah mulai mengarusutamakan lingkungan dan konsepsi green living.
Lihat Juga :