Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi
Sabtu, 12 Juni 2021 - 18:42 WIB
loading...
Peluncuran Centre for Youth and Population Research (CYPR), sebuah lembaga riset yang berfokus pada kepemudaan dan kependudukan. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kebijakan mengenai kependudukan , pemuda, dan lingkungan hidup saling terkait satu sama lain. Pentingnya integrasi antar ketiganya dipaparkan dalam acara peluncuran Centre for Youth and Population Research (CYPR), sebuah lembaga riset yang berfokus pada kepemudaan dan kependudukan.
Seminar yang digelar secara daring dan luring pada Jumat (11/6/2021) ini mengusung tema “Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi” dan dihadiri para pembicara dari kalangan ahli, praktisi dan tokoh nasional, seperti mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Prof Emil Salim, Kepala Lembaga Demografi UI Turro Wongkaren, serta mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Andrinof Chaniago.
Saat ini, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang, dengan proporsi 70% berada di usia produktif (15-60 tahun) yang sebagian besar di antaranya ialah kelompok pemuda (16-30 tahun). Jika pemuda tidak diberdayakan, maka bukan tidak mungkin Indonesia justru membuang peluang bonus demografi dan para pemuda menjadi beban yang sangat berat. Dan bukan tidak mungkin, dampak lebih buruk lagi, Indonesia mengalami kemunduran.
Direktur Eksekutif CYPR, Dedek Prayudi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa CYPR memegang peran untuk mendorong sinergi antar pemberdayaan pemuda dengan perubahan pemahaman dan perilaku terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu, Dedek menekankan pada perlunya mengedepankan budaya sadar dan peduli risiko (risk culture & awareness), utamanya terhadap lingkungan. (Baca juga; Haris Pertama: Pemuda Harus Terdepan Ingatkan Memori Sejarah )
“Kini, pengelolaan lingkungan hidup berada di tangan generasi muda. Bonus demografi adalah peluang mendorong produktivitas, namun hal ini akan mendorong distribusi dan konsumsi yang memiliki risiko adanya eksternalitas negatif yang dihasilkan. Proses produksi, distribusi dan konsumsi memiliki dampak besar terhadap lingkungan hidup,” kata Dedek Prayudi.
Seminar yang digelar secara daring dan luring pada Jumat (11/6/2021) ini mengusung tema “Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Pemuda Berkelanjutan dalam Konteks Bonus Demografi” dan dihadiri para pembicara dari kalangan ahli, praktisi dan tokoh nasional, seperti mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Prof Emil Salim, Kepala Lembaga Demografi UI Turro Wongkaren, serta mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Andrinof Chaniago.
Saat ini, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang, dengan proporsi 70% berada di usia produktif (15-60 tahun) yang sebagian besar di antaranya ialah kelompok pemuda (16-30 tahun). Jika pemuda tidak diberdayakan, maka bukan tidak mungkin Indonesia justru membuang peluang bonus demografi dan para pemuda menjadi beban yang sangat berat. Dan bukan tidak mungkin, dampak lebih buruk lagi, Indonesia mengalami kemunduran.
Direktur Eksekutif CYPR, Dedek Prayudi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa CYPR memegang peran untuk mendorong sinergi antar pemberdayaan pemuda dengan perubahan pemahaman dan perilaku terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu, Dedek menekankan pada perlunya mengedepankan budaya sadar dan peduli risiko (risk culture & awareness), utamanya terhadap lingkungan. (Baca juga; Haris Pertama: Pemuda Harus Terdepan Ingatkan Memori Sejarah )
“Kini, pengelolaan lingkungan hidup berada di tangan generasi muda. Bonus demografi adalah peluang mendorong produktivitas, namun hal ini akan mendorong distribusi dan konsumsi yang memiliki risiko adanya eksternalitas negatif yang dihasilkan. Proses produksi, distribusi dan konsumsi memiliki dampak besar terhadap lingkungan hidup,” kata Dedek Prayudi.
Lihat Juga :