Pertamina Dorong Pengembangan Hasil Alam Lokal Lewat Cindakko Menyala
Kamis, 10 Juni 2021 - 18:27 WIB
loading...
A
A
A
Panen lestari digunakan khusus untuk memanen lebah apis dorsata. Karena lebah jenis ini tidak bisa dibudi daya, sehingga warga biasanya kesulitan dalam mencari sarang lebah baru untuk diambil madunya. Tak hanya itu, metode panen yang digunakan warga pun tidak berkelanjutan, karena membabat habis sarang lebah.
Dengan metoda panen lestari, warga diedukasi melakukan panen yang lebih aman dan berkelanjutan. Di mana, panen dilakukan hanya dengan mengambil 3/4 kantong madu sehingga lebah masih bisa kembali dan menghasilkan kantong madu baru. Metode ini lebih mudah karena warga tidak perlu mencari sarang lebah baru, sehingga lebih berkelanjutan. Metode ini pun baru kali pertama berhasil di Sulsel.
Metode lainnya adalah budi daya lebah apis cerana dan budi daya lebah trigona biroi. Kedua metode ini tidak jauh berbeda, di mana warga diberikan pelatihan untuk membudidayakan lebah di sebuah kotak budi daya atau wadah kayu. Diharapkan, dengan metode ini, warga lebih mudah dalam mendapatkan hasil madu. Mereka juga diberikan bantuan berupa kotak budi daya.
Baca juga:Pertamina Siap Sambut Pekerja Chevron Pacific Indonesia
Tak hanya memberikan edukasi terkait metode panen yang aman dan berkelanjutan, PT Pertamina juga melakukan penanaman sebanyak 2.000 bibit pohon di Dusun Cindakko yang terdiri atas pohon durian, rambutan, mahoni, dan cemara.
Diharapkan, pohon tersebut nantinya juga berkontribusi dalam proses peyerbukan lebah, sehingga bisa lebih produktif. Untuk memastikan pohon tersebut tumbuh, warga juga diberikan pelatihan pembuatan kompos.
Bantu Kemas Gula Aren dan Buka Akses Pasar
Tak hanya madu, potensi hasil alam Dusun Cindakko yang juga didorong pengembangannya oleh PT Pertamina adalah gula aren. Sebanyak 10 warga yang aktif menghasilakn gula aren akan dibina agar bisa melakukan pengemasan yang berkualitas untuk hasil gula aren mereka.
Dg Lemang, seorang warga penghasil gula aren, mengaku mampu memproduksi 20 kilogram (kg) gula aren setiap pekan pada periode April hingga September. Satu-satunya akses pasar untuk hasil gula aren yang dia buat adalah Pasar Bonto Parang. Harga jualnya sekitar Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kg.
Baca juga:Pertamina Kerja Sama dengan MES dan BSI Percepat Pembangunan Pertashop untuk Kemandirian Pesantren
"Pembuatan gula aren tergantung cuaca, jadi aktif membuat bulan April sampai September. Biasa buat 20 kg per minggu. Dikumpul dulu sampai banyak, baru dijual ke Pasar Bonto Parang. Karena lokasi pasar jauh, jadi harus banyak dulu baru dibawa," ujarnya.
Dengan metoda panen lestari, warga diedukasi melakukan panen yang lebih aman dan berkelanjutan. Di mana, panen dilakukan hanya dengan mengambil 3/4 kantong madu sehingga lebah masih bisa kembali dan menghasilkan kantong madu baru. Metode ini lebih mudah karena warga tidak perlu mencari sarang lebah baru, sehingga lebih berkelanjutan. Metode ini pun baru kali pertama berhasil di Sulsel.
Metode lainnya adalah budi daya lebah apis cerana dan budi daya lebah trigona biroi. Kedua metode ini tidak jauh berbeda, di mana warga diberikan pelatihan untuk membudidayakan lebah di sebuah kotak budi daya atau wadah kayu. Diharapkan, dengan metode ini, warga lebih mudah dalam mendapatkan hasil madu. Mereka juga diberikan bantuan berupa kotak budi daya.
Baca juga:Pertamina Siap Sambut Pekerja Chevron Pacific Indonesia
Tak hanya memberikan edukasi terkait metode panen yang aman dan berkelanjutan, PT Pertamina juga melakukan penanaman sebanyak 2.000 bibit pohon di Dusun Cindakko yang terdiri atas pohon durian, rambutan, mahoni, dan cemara.
Diharapkan, pohon tersebut nantinya juga berkontribusi dalam proses peyerbukan lebah, sehingga bisa lebih produktif. Untuk memastikan pohon tersebut tumbuh, warga juga diberikan pelatihan pembuatan kompos.
Bantu Kemas Gula Aren dan Buka Akses Pasar
Tak hanya madu, potensi hasil alam Dusun Cindakko yang juga didorong pengembangannya oleh PT Pertamina adalah gula aren. Sebanyak 10 warga yang aktif menghasilakn gula aren akan dibina agar bisa melakukan pengemasan yang berkualitas untuk hasil gula aren mereka.
Dg Lemang, seorang warga penghasil gula aren, mengaku mampu memproduksi 20 kilogram (kg) gula aren setiap pekan pada periode April hingga September. Satu-satunya akses pasar untuk hasil gula aren yang dia buat adalah Pasar Bonto Parang. Harga jualnya sekitar Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kg.
Baca juga:Pertamina Kerja Sama dengan MES dan BSI Percepat Pembangunan Pertashop untuk Kemandirian Pesantren
"Pembuatan gula aren tergantung cuaca, jadi aktif membuat bulan April sampai September. Biasa buat 20 kg per minggu. Dikumpul dulu sampai banyak, baru dijual ke Pasar Bonto Parang. Karena lokasi pasar jauh, jadi harus banyak dulu baru dibawa," ujarnya.
Lihat Juga :