BMKG: Jatim Terancam Mega Tsunami, Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS
Kamis, 03 Juni 2021 - 19:04 WIB
loading...
A
A
A
Dosen Departemen Teknik Geofisika itu menambahkan, tingginya intensitas terjadinya gempa ini patut dicurigai, belajar dari gempa besar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 27 Mei 2005 silam. Salah satu yang menjadi pertanda sebelum gempa Yogyakarta itu terjadi adalah terekam aktivitas kegempaan yang semakin sering.
Saat itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya. “Sementara itu, di lima bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan,” ucapnya.
Melihat kondisi yang ada, katanya, memang sangat jauh perbedaan frekuensi tahun 2005 lalu dengan tahun sekarang ini. Makanya, sudah sepantasnya kita jauh lebih waspada. Terlebih lagi, tumbukan lempeng yang menyusun Jawa Timur ini panjangnya sekitar 250 sampai 300 kilometer.
Hal itu menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan itu.
Pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur, selain mengacu pada sejarah kegempaan. Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian.
“Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismic, artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu,” jelasnya.
Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya ada di Jawa Timur dekat dengan pulau Bali. Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antarlempengnya, maka pada akhirnya lepas dan menyebabkan gempa yang besar, dihitung akan ada waktu 20 sampai 25 menit untuk air mencapai daratan.
Saat itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya. “Sementara itu, di lima bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan,” ucapnya.
Melihat kondisi yang ada, katanya, memang sangat jauh perbedaan frekuensi tahun 2005 lalu dengan tahun sekarang ini. Makanya, sudah sepantasnya kita jauh lebih waspada. Terlebih lagi, tumbukan lempeng yang menyusun Jawa Timur ini panjangnya sekitar 250 sampai 300 kilometer.
Hal itu menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan itu.
Pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur, selain mengacu pada sejarah kegempaan. Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian.
“Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismic, artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu,” jelasnya.
Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya ada di Jawa Timur dekat dengan pulau Bali. Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antarlempengnya, maka pada akhirnya lepas dan menyebabkan gempa yang besar, dihitung akan ada waktu 20 sampai 25 menit untuk air mencapai daratan.
Lihat Juga :