Cerita Cinta Dari Kampung China, Ratusan Tahun Menyatu Dalam Urat Nadi Manado
Minggu, 23 Mei 2021 - 17:19 WIB
loading...
Kawasan pechinan atau kampung China menjadi destinasi wisata dalam kota di Manado. Foto/MPI/Subhan Sabu
A
A
A
MANADO - Sudut jalanan itu menghadirkan aroma khas hio yang wanginya bertebaran. Bangunan yang didominasi warna merah, menjadi penanda denyut nadi kehidupan Kota Manado , sejak ratusan tahun silam.
Baca juga: Lagi Hits di Manado, Ini Keindahan Taman Langit Picnik Cafe
Kawasan itu dikenal sebagai pechinan atau kampung China. Lokasinya ada di Jalan DI. Panjaitan, Calaca, Kecamatan Wenang, Kota Manado , Sulawesi Utara, masih saja riuh dengan hilir mudik manusia, khas pusat kota yang sibuk.
Bangunan berusia ratusan tahun berderet di tepi jalan itu, dan masih kokoh berdiri. Para penghuninya, kebanyakan adalah warga etnis Tionghoa . Di salah satu sudut jalan, berdiri tegak Klenteng Ban Hin Kiong, dan Klenteng Kwan Kong.
Bbaca juga: Viral Video Gadis Cantik Berhijab Kemudikan Truk Bergoyang Tabrak Gerbang Tol Madiun
Bangunannya yang unik dengan dominasi warna merah, menjadi tempat menarik untuk dikunjungi. Apalagi ketika memasuki hari-hari raya umat Konghucu , berbagai pernak-pernik di klenteng menjadi daya tarik bagi wisatawan. Terdapat banyak spot foto instagramable di klenteng ini. Tentu, wisatawan lebih banyak dari hari-hari biasanya.
Di kawasan ini juga berdiri Klenteng Ban Hin Kiong yang merupakan klenteng tertua di Kota Manado . Klenteng ini berdiri pada tahun 1819, dan hingga kini sudah menjadi ikon sejarah Kota Manado. Klenteng ini menjadi tempat ibadah umat Konghucu, Tao, dan Budha.
Baca juga: Tangis Kesakitan Pecah di Lampung Utara, Seorang Ibu Dibacok dan Disiram Air Panas Anaknya
Di seberang Klenteng Ban Hin Kiong, ada Klenteng Kwan Kong. Klenteng ini dibangun tahun 1967. Nama klenteng ini diambil dari sang pahlawan jujur dan setia bernama Kwan Kong. Sehingga pada hari ke-24 bulan keenam, klenteng ini merayakan hari khusus. Momen itu merupakan ulang tahun yang suci Kwan Kong.
Tak sulit menemukan lokasi pechinan ini, sebab berada di tengah-tengah kota . Ke sini bisa menggunakan angkot jurusan Pasar 45 atau taksi online. Dari bandara berjarak sekitar 20 km. Di sekitar kawasan, banyak terdapat rumah makan atau kedai kopi.
![Cerita Cinta Dari Kampung China, Ratusan Tahun Menyatu Dalam Urat Nadi Manado]()
Budayawan Tionghoa, Sofyan Jimmy Yosadi menggatakan, bahwa kawasan Kampung China ini sejak ratusan tahun silam sudah ada di daerah Kota Manado , yang dahulu kala disebut Wenang.
Awalnya kawasan ini masih berupa rawa-rawa, dibangun di belakang Benteng Fort Amsterdam , yang didirikan oleh bangsa Portugis, dan Spanyol, kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang namanya diubah menjadi benteng Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru).
Baca juga: Simalungun Gempar, Minggu Pagi Kobaran Api Melalap Pemukiman Penduduk Hutabayu Raja
"Kemudian di belakang benteng oleh pemerintah Hindia Belanda, dibangun pemukiman-pemukiman yang berdasarkan etnis. Ada China, Arab, termasuk Minahasa, gunanya untuk mudah mengontrolnya," ungkapnya.
"Di belakang benteng ini lahir apa yang disebut dengan pemukiman khusus warga Tionghoa, namanya Kampung China, di sebelahnya ada kampung Arab, ada juga Kampung Tomohon , dan ada bantik," tutur Sofyan.
![Cerita Cinta Dari Kampung China, Ratusan Tahun Menyatu Dalam Urat Nadi Manado]()
Sejak ratusan tahun itu kemudian ada kawasan yang merupakan kumpulan orang-orang Tionghoa , dan dari sinilah kemudian dibangun Klenteng pertama di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, yang namanya adalah Klenteng Ban Hin Kiong.
Berdasarkan catatan sejarahnya, klenteng dibangun sekitar tahun 1700-an, dan kemudian dilakukan beberapa kali renovasi, yang paling besar-besaran renovasinya dilakukan pada tahun 1918.
Baca juga: Dalam 2 Menit, 2 Gempa Bumi Bermagnitudo 5,0 dan 5,4 Guncang Barat Laut Banten
"Di sini ada pemimpin-pemimpin bangsa Tionghoa, yang namanya Kapiten Cina, atau Leutenant Cina. Mereka pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh Belanda, untuk mengontrol orang-orang, termasuk pajak-pajak dan akhirnya dibuatkan juga satu dewan yang namanya Konghuan untuk mengelola Klenteng Ban Hin Kiong, dalam tata cara upacara," kata Sofyan Jimmy Yosadi
Dari sinilah kemudian mulai bermukim banyak pendatang-pendatang dari Tiongkok. Mereka datang berbondong-bondong menetap di sini, kemudian mulai menyebar berkembang menjadi Kampung China .
Baca juga: Kecelakaan Maut di Jalur Madiun-Surabaya, Pemotor Tewas Hantam Truk Boks
Di Kampung China kurang lebih ada lima klenteng. Kemudian berkembang pada tahun 1955, dan dibangun lagi beberapa klenteng yang lain, termasuk Klenteng Kong Zi Miao yang sudah ditempati sejak tahun 1984, kemudian direnovasi pada tahun 2018.
"Kawasan Kampung China sendiri, sudah boleh dikata tidak lagi dihuni hanya orang Tionghoa saja, karena sudah akulturasi. Di sini ada orang Arab, dan juga Minahasa yang hidup membaur, bahkan sudah terjadi asimilasi kawin-mawin antar sesama etnis," terangnya.
Baca juga: Lagi Hits di Manado, Ini Keindahan Taman Langit Picnik Cafe
Kawasan itu dikenal sebagai pechinan atau kampung China. Lokasinya ada di Jalan DI. Panjaitan, Calaca, Kecamatan Wenang, Kota Manado , Sulawesi Utara, masih saja riuh dengan hilir mudik manusia, khas pusat kota yang sibuk.
Bangunan berusia ratusan tahun berderet di tepi jalan itu, dan masih kokoh berdiri. Para penghuninya, kebanyakan adalah warga etnis Tionghoa . Di salah satu sudut jalan, berdiri tegak Klenteng Ban Hin Kiong, dan Klenteng Kwan Kong.
Bbaca juga: Viral Video Gadis Cantik Berhijab Kemudikan Truk Bergoyang Tabrak Gerbang Tol Madiun
Bangunannya yang unik dengan dominasi warna merah, menjadi tempat menarik untuk dikunjungi. Apalagi ketika memasuki hari-hari raya umat Konghucu , berbagai pernak-pernik di klenteng menjadi daya tarik bagi wisatawan. Terdapat banyak spot foto instagramable di klenteng ini. Tentu, wisatawan lebih banyak dari hari-hari biasanya.
Di kawasan ini juga berdiri Klenteng Ban Hin Kiong yang merupakan klenteng tertua di Kota Manado . Klenteng ini berdiri pada tahun 1819, dan hingga kini sudah menjadi ikon sejarah Kota Manado. Klenteng ini menjadi tempat ibadah umat Konghucu, Tao, dan Budha.
Baca juga: Tangis Kesakitan Pecah di Lampung Utara, Seorang Ibu Dibacok dan Disiram Air Panas Anaknya
Di seberang Klenteng Ban Hin Kiong, ada Klenteng Kwan Kong. Klenteng ini dibangun tahun 1967. Nama klenteng ini diambil dari sang pahlawan jujur dan setia bernama Kwan Kong. Sehingga pada hari ke-24 bulan keenam, klenteng ini merayakan hari khusus. Momen itu merupakan ulang tahun yang suci Kwan Kong.
Tak sulit menemukan lokasi pechinan ini, sebab berada di tengah-tengah kota . Ke sini bisa menggunakan angkot jurusan Pasar 45 atau taksi online. Dari bandara berjarak sekitar 20 km. Di sekitar kawasan, banyak terdapat rumah makan atau kedai kopi.

Budayawan Tionghoa, Sofyan Jimmy Yosadi menggatakan, bahwa kawasan Kampung China ini sejak ratusan tahun silam sudah ada di daerah Kota Manado , yang dahulu kala disebut Wenang.
Awalnya kawasan ini masih berupa rawa-rawa, dibangun di belakang Benteng Fort Amsterdam , yang didirikan oleh bangsa Portugis, dan Spanyol, kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang namanya diubah menjadi benteng Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru).
Baca juga: Simalungun Gempar, Minggu Pagi Kobaran Api Melalap Pemukiman Penduduk Hutabayu Raja
"Kemudian di belakang benteng oleh pemerintah Hindia Belanda, dibangun pemukiman-pemukiman yang berdasarkan etnis. Ada China, Arab, termasuk Minahasa, gunanya untuk mudah mengontrolnya," ungkapnya.
"Di belakang benteng ini lahir apa yang disebut dengan pemukiman khusus warga Tionghoa, namanya Kampung China, di sebelahnya ada kampung Arab, ada juga Kampung Tomohon , dan ada bantik," tutur Sofyan.

Sejak ratusan tahun itu kemudian ada kawasan yang merupakan kumpulan orang-orang Tionghoa , dan dari sinilah kemudian dibangun Klenteng pertama di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, yang namanya adalah Klenteng Ban Hin Kiong.
Berdasarkan catatan sejarahnya, klenteng dibangun sekitar tahun 1700-an, dan kemudian dilakukan beberapa kali renovasi, yang paling besar-besaran renovasinya dilakukan pada tahun 1918.
Baca juga: Dalam 2 Menit, 2 Gempa Bumi Bermagnitudo 5,0 dan 5,4 Guncang Barat Laut Banten
"Di sini ada pemimpin-pemimpin bangsa Tionghoa, yang namanya Kapiten Cina, atau Leutenant Cina. Mereka pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh Belanda, untuk mengontrol orang-orang, termasuk pajak-pajak dan akhirnya dibuatkan juga satu dewan yang namanya Konghuan untuk mengelola Klenteng Ban Hin Kiong, dalam tata cara upacara," kata Sofyan Jimmy Yosadi
Dari sinilah kemudian mulai bermukim banyak pendatang-pendatang dari Tiongkok. Mereka datang berbondong-bondong menetap di sini, kemudian mulai menyebar berkembang menjadi Kampung China .
Baca juga: Kecelakaan Maut di Jalur Madiun-Surabaya, Pemotor Tewas Hantam Truk Boks
Di Kampung China kurang lebih ada lima klenteng. Kemudian berkembang pada tahun 1955, dan dibangun lagi beberapa klenteng yang lain, termasuk Klenteng Kong Zi Miao yang sudah ditempati sejak tahun 1984, kemudian direnovasi pada tahun 2018.
"Kawasan Kampung China sendiri, sudah boleh dikata tidak lagi dihuni hanya orang Tionghoa saja, karena sudah akulturasi. Di sini ada orang Arab, dan juga Minahasa yang hidup membaur, bahkan sudah terjadi asimilasi kawin-mawin antar sesama etnis," terangnya.
(eyt)
Lihat Juga :