Hari Pertama Lebaran di Manado, Warga Gelar Tradisi Ziarah Kubur
Kamis, 13 Mei 2021 - 12:06 WIB
loading...
A
A
A
"Ziarah sudah menjadi kegiatan rutin yang selalu kami lakukan setiap tahun, biasanya sebelum lebaran kami datang membersihkan kuburan kemudian selesai sholat kami sekeluarga datang lagi untuk berdoa," tutur Nurlian, Kamis (13/5/2021).
Baca juga: Puluhan Pemuda Katolik Geruduk 3 Masjid di Kefamenanu, Jaga Keamanan Malam Takbiran
Senada dengan Nurlian, Muhajir warga Kelurahan Komo Luar juga mengungkapkan hal yang sama. Dia bersama keluarga tetap melakukan ziarah meskipun situasinya masih dalam situasi pandemi. Kebiasaan berziarah menurutnya sulit ditinggalkan karena sudah sering dilakukan. "Ziarah untuk mengirimkan doa kepada orang yang dicintai yang sudah meninggal sambil mengingat kematian dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta," kata Muhajir.
Di dalam kompleks pekuburan muslim ini terdapat juga makam dari istri dan anak Sri Sultan Hamengku Buwono V, yakni Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, dan Pangeran Arya Suryeng Ngalaga.
Kanjeng Ratu Sekar Kedaton bersama anaknya dituduh membangkang dan merencanakan perlawanan terhadap raja. Sri Sultan Hamengkubuwono VII menangkap Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya tersebut lalu dibuang ke Manado dengan tuduhan membangkang pada raja dan merencanakan melakukan perlawanan. Atas tuduhan tersebut, keduanya dibuang ke Manado dan wafat di daerah ini.
Baca juga: Puluhan Pemuda Katolik Geruduk 3 Masjid di Kefamenanu, Jaga Keamanan Malam Takbiran
Senada dengan Nurlian, Muhajir warga Kelurahan Komo Luar juga mengungkapkan hal yang sama. Dia bersama keluarga tetap melakukan ziarah meskipun situasinya masih dalam situasi pandemi. Kebiasaan berziarah menurutnya sulit ditinggalkan karena sudah sering dilakukan. "Ziarah untuk mengirimkan doa kepada orang yang dicintai yang sudah meninggal sambil mengingat kematian dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta," kata Muhajir.
Di dalam kompleks pekuburan muslim ini terdapat juga makam dari istri dan anak Sri Sultan Hamengku Buwono V, yakni Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, dan Pangeran Arya Suryeng Ngalaga.
Kanjeng Ratu Sekar Kedaton bersama anaknya dituduh membangkang dan merencanakan perlawanan terhadap raja. Sri Sultan Hamengkubuwono VII menangkap Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya tersebut lalu dibuang ke Manado dengan tuduhan membangkang pada raja dan merencanakan melakukan perlawanan. Atas tuduhan tersebut, keduanya dibuang ke Manado dan wafat di daerah ini.
Lihat Juga :