Waduh! Kasus Kematian COVID-19 di Blitar Lampaui Jawa Timur
Kamis, 08 April 2021 - 12:42 WIB
loading...
A
A
A
"Di Jatim tujuh koma. Kalau Kabupaten Blitar 9,6 persen sampai 9,7 persen. Termasuk memprihatinkan," kata Woro menjelaskan. Rapat koordinasi sekaligus evaluasi dengan seluruh rumah sakit, langsung dilakukan. Sedikitnya ada 10 rumah sakit. Hasilnya, keterlambatan merujuk pasien ke rumah sakit diketahui sebagai salah satu faktor penyebab.
Baca juga: Transaksi Layanan Keuangan Digital di Jawa Timur Meroket Selama Pandemi
Woro mengatakan, 80 % pasien positif COVID-19 yang dirujuk ke RS Ngudi Waluyo, kondisinya sudah parah. Rata rata paru paru pasien sudah dalam keadaan rusak dan sulit dipulihkan. Akibatnya, banyak pasien yang tidak tertolong. Sementara RSUD Ngudi Waluyo merupakan rumah sakit rujukan di Kabupaten Blitar yang merawat pasien COVID-19 terbanyak.
"80 % saat dirujuk kondisinya sudah berat. 20 % sedang. Kalaupun bisa sembuh (dari COVID-19) perawatannya lama dan paru paru rusak," terang Woro. Faktor penyebab lain adalah psikis masyarakat yang menganggap COVID-19 sebagai penyakit menakutkan sekaligus berdampak pengucilan.
Sehingga ketika terdiagnosa COVID-19, kata Woro masih banyak yang memilih pasif serta menutup diri karena khawatir dikucilkan. Yang bersangkutan juga memilih tidak memeriksakan diri. Akibatnya, penanganan medis baru diperoleh ketika kondisi pasien sudah parah. "Momok isolasi yang membuat mereka tidak memeriksakan diri," tambah Woro.
Baca juga: Transaksi Layanan Keuangan Digital di Jawa Timur Meroket Selama Pandemi
Woro mengatakan, 80 % pasien positif COVID-19 yang dirujuk ke RS Ngudi Waluyo, kondisinya sudah parah. Rata rata paru paru pasien sudah dalam keadaan rusak dan sulit dipulihkan. Akibatnya, banyak pasien yang tidak tertolong. Sementara RSUD Ngudi Waluyo merupakan rumah sakit rujukan di Kabupaten Blitar yang merawat pasien COVID-19 terbanyak.
"80 % saat dirujuk kondisinya sudah berat. 20 % sedang. Kalaupun bisa sembuh (dari COVID-19) perawatannya lama dan paru paru rusak," terang Woro. Faktor penyebab lain adalah psikis masyarakat yang menganggap COVID-19 sebagai penyakit menakutkan sekaligus berdampak pengucilan.
Sehingga ketika terdiagnosa COVID-19, kata Woro masih banyak yang memilih pasif serta menutup diri karena khawatir dikucilkan. Yang bersangkutan juga memilih tidak memeriksakan diri. Akibatnya, penanganan medis baru diperoleh ketika kondisi pasien sudah parah. "Momok isolasi yang membuat mereka tidak memeriksakan diri," tambah Woro.
Lihat Juga :