Hadiri Pesta Tapai di Pesisir Batubara, Kapolres Salurkan Bantuan Kapolda
Kamis, 25 Maret 2021 - 11:09 WIB
loading...
A
A
A
Pesta tapai, katanya adalah salah satu tradisi warga Melayu , dalam menyambut bulan puasa Ramadhan, dan ini selalu diselenggarakan setiap tahun. Pesta yang dimaksud bukan seperti pesta hajatan, karena tidak terlihat kerumunan masa di lokasi. Warga berjualan tapai dan lemang di sepanjang jalan Desa Dahari Selebar, bukan di satu titik saja.
Salah seorang pedagang tapai, Maimunah (54) merasa bersyukur atas bantuan Kapolda Sumatera Utara , dan kunjungan Kapolres Batubara. "Semoga Kapolda Sumatera Utara, dan Kapolres Batubara diberikan kesehatan, dan apa yang diinginkannya tercapai," ucapnya dengan spontan.
Baca juga: Kupang Gempar, Seorang Ayah Bejat Tega Jadikan Anak Kandung Budak Seks Sejak Usia 5 Tahun
Pesta tapai ini adalah tradisi Wangsa Melayu khusus di Desa Dahari Selebar. "Sejak tahun 1945 nenek kami sudah melakukan ini, selama 21 hari dibulan Syakban, sampai magang (potong lembu) tiga hari jelang Ramadhan," jelasnya.
"Pada jaman itu, nenek moyang kami berjualan menggunakan lampu panjut (obor), karena pada masa itu belum ada listrik, dan sekarang kamilah sebagai penerusnya akan terus menjaga tradisi ini," ulas Maimunah.
"Ketika masuk Ramadhan kami sudah punya bekal untuk beli buka'an puasa, dari hasil jualan tapai dan lemang, berharap di bulan Ramadhan bisa khusuk menjalankan Ibadah Puasa," terang Maimunah.
Salah seorang pedagang tapai, Maimunah (54) merasa bersyukur atas bantuan Kapolda Sumatera Utara , dan kunjungan Kapolres Batubara. "Semoga Kapolda Sumatera Utara, dan Kapolres Batubara diberikan kesehatan, dan apa yang diinginkannya tercapai," ucapnya dengan spontan.
Baca juga: Kupang Gempar, Seorang Ayah Bejat Tega Jadikan Anak Kandung Budak Seks Sejak Usia 5 Tahun
Pesta tapai ini adalah tradisi Wangsa Melayu khusus di Desa Dahari Selebar. "Sejak tahun 1945 nenek kami sudah melakukan ini, selama 21 hari dibulan Syakban, sampai magang (potong lembu) tiga hari jelang Ramadhan," jelasnya.
"Pada jaman itu, nenek moyang kami berjualan menggunakan lampu panjut (obor), karena pada masa itu belum ada listrik, dan sekarang kamilah sebagai penerusnya akan terus menjaga tradisi ini," ulas Maimunah.
"Ketika masuk Ramadhan kami sudah punya bekal untuk beli buka'an puasa, dari hasil jualan tapai dan lemang, berharap di bulan Ramadhan bisa khusuk menjalankan Ibadah Puasa," terang Maimunah.
Lihat Juga :