Mengingat Kembali Nganteuran, Budaya Sarat Makna yang Tertelan Zaman
Selasa, 19 Mei 2020 - 18:50 WIB
loading...
A
A
A
Sejarahwan Purwakarta, Ahmad Said Widodo, menyebutkan budaya nganteuran sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bahkan jauh sebelum masuknya Islam ke Nusantara. Dia menyebut budaya ini telah menjadi kearifan lokal sejak zaman Hindu dan Budha.
Biasanya, anak-anak yang sudah menikah memasak beragam makanan yang lezat. Makanan yang dibuat biasanya juga jarang dikonsumsi. Sebab makanan itu khusus disantap menjelang hari-hari besar umat Hindu dan Budha, maupun hari suci umat Islam, terutama menjelang Ramadhan atau Idul Fitri .
“Awalnya hanya sebatas mengirimkan bahan nyeupah (pinang sirih) atau dalam Bahasa Jawa disebut nyuruh. Kemudian hantaran berkembang menjadi makanan khas sesuai adat istiadat dan budaya setempat,” ungkap Widodo kepada SINDOnews, Selasa (19/5/2020) sore.
(Baca: Laris Manis, Lapak Takjil Iron Man di Jalur Pantura Cirebon)
Biasanya hantaran makanan menggunakan pipiti atau besek dan rantang bersusun antara tiga sampai lima susun, tergantung jumlah menu olahan masakannya. Biasanya yang diutamakan adalah hantaran kepada orang-orang tua atau yang sangat dihargai, dihormati dan dicintai, semisal kepada kakek nenek, ayah ibu, ayah ibu mertua, paman bibi, kakak adik, guru-guru, ustaz atau ustazah, kepala kampung atau dusun, sanak saudara, para tetangga, para sahabat dan lain-lain.
Biasanya, anak-anak yang sudah menikah memasak beragam makanan yang lezat. Makanan yang dibuat biasanya juga jarang dikonsumsi. Sebab makanan itu khusus disantap menjelang hari-hari besar umat Hindu dan Budha, maupun hari suci umat Islam, terutama menjelang Ramadhan atau Idul Fitri .
“Awalnya hanya sebatas mengirimkan bahan nyeupah (pinang sirih) atau dalam Bahasa Jawa disebut nyuruh. Kemudian hantaran berkembang menjadi makanan khas sesuai adat istiadat dan budaya setempat,” ungkap Widodo kepada SINDOnews, Selasa (19/5/2020) sore.
(Baca: Laris Manis, Lapak Takjil Iron Man di Jalur Pantura Cirebon)
Biasanya hantaran makanan menggunakan pipiti atau besek dan rantang bersusun antara tiga sampai lima susun, tergantung jumlah menu olahan masakannya. Biasanya yang diutamakan adalah hantaran kepada orang-orang tua atau yang sangat dihargai, dihormati dan dicintai, semisal kepada kakek nenek, ayah ibu, ayah ibu mertua, paman bibi, kakak adik, guru-guru, ustaz atau ustazah, kepala kampung atau dusun, sanak saudara, para tetangga, para sahabat dan lain-lain.
Lihat Juga :