Intip Kiat 2 UMKM Manufaktur di Solo Raya yang Bisa Eksis di Tengah Pandemi
Jum'at, 19 Maret 2021 - 23:52 WIB
loading...
A
A
A
"Berbagai cara saya lakukan, seperti riset produk cetakan yang diminati pasar. Kemudian membuat cetakan tersebut dan memasarkannya," kata Yanuar saat kegiatan jelajah virtual UMKM yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan tema Industri Molding di Solo Tetap Eksis Sepanjang Pandemi, Kamis (18/3/2021).
Yanuar mengungkapkan, dirinya aktif berkomunitas. Baginya, berkomunitas bukan hanya berbagi pengetahuan ataupun tren terkini, tetapi juga membuka peluang dalam berbagi order sesama UMKM yang fokus pada pekerjaan molding. "Pada Agustus 2020, omzet mulai naik, dan hingga Desember 2020 omzetnya cukup baik," ujarnya.
Menurut Yanuar, adaptif terhadap keinginan customer dan selalu berusaha memberi pelayanan dengan produk yang berkualitas, harga kompetitif dan pengiriman tepat waktu, menjadi kunci bisnis yang dijalankannya tetap eksis.
Ia berharap, ke depan usahanya dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas, khususnya untuk wilayah Solo yang menjadi daerah tempat tinggalnya.
Sementara itu, Sutarmin, pemilik PT Sinergi Solo Sejahtera (PT SSS) mengawali usahanya sebagai pebisnis konveksi. Ia tak jarang melakukan perjalanan Solo–Jakarta untuk mendapatkan produk-produk yang dapat dijual langsung kepada customer.
"Saya lalu mendapatkan inspirasi dari saudara di Jakarta untuk menggeluti usaha manufaktur yang fokus pada pembuatan mold atau cetakan," kata Sutarmin.
Usahanya dimulai 20 Maret 2011, diakui banyak menemui tantangan. Terlebih Sutarmin merupakan pebisnis dengan ijazah lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Salah satu tantangannya adalah minimnya kompetensi Sutarmin dan karyawan dalam usaha molding.
Namun, tantangan bukan menjadi penghalang dirinya terus mengembangkan bisnis. Intens bekerja sama dengan berbagai SMK dan industri terkait, menjadi salah satu langkah Sutarmin dan tim untuk memperkaya kompetensi di bidang molding.
Yanuar mengungkapkan, dirinya aktif berkomunitas. Baginya, berkomunitas bukan hanya berbagi pengetahuan ataupun tren terkini, tetapi juga membuka peluang dalam berbagi order sesama UMKM yang fokus pada pekerjaan molding. "Pada Agustus 2020, omzet mulai naik, dan hingga Desember 2020 omzetnya cukup baik," ujarnya.
Menurut Yanuar, adaptif terhadap keinginan customer dan selalu berusaha memberi pelayanan dengan produk yang berkualitas, harga kompetitif dan pengiriman tepat waktu, menjadi kunci bisnis yang dijalankannya tetap eksis.
Ia berharap, ke depan usahanya dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas, khususnya untuk wilayah Solo yang menjadi daerah tempat tinggalnya.
Sementara itu, Sutarmin, pemilik PT Sinergi Solo Sejahtera (PT SSS) mengawali usahanya sebagai pebisnis konveksi. Ia tak jarang melakukan perjalanan Solo–Jakarta untuk mendapatkan produk-produk yang dapat dijual langsung kepada customer.
"Saya lalu mendapatkan inspirasi dari saudara di Jakarta untuk menggeluti usaha manufaktur yang fokus pada pembuatan mold atau cetakan," kata Sutarmin.
Usahanya dimulai 20 Maret 2011, diakui banyak menemui tantangan. Terlebih Sutarmin merupakan pebisnis dengan ijazah lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Salah satu tantangannya adalah minimnya kompetensi Sutarmin dan karyawan dalam usaha molding.
Namun, tantangan bukan menjadi penghalang dirinya terus mengembangkan bisnis. Intens bekerja sama dengan berbagai SMK dan industri terkait, menjadi salah satu langkah Sutarmin dan tim untuk memperkaya kompetensi di bidang molding.
Lihat Juga :