Benderang Pertahanan Terakhir Kota dari Sampah
Minggu, 28 Februari 2021 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Saat matahari masih sepenggalah, Kusniyati masih memasukan sampah plastik pada sebuah karung yang disiapkan di ujung pintu Bank Sampah Bintang Mangrove. Sebuah alat timbangan yang berwarna hijau terus bekerja untuk mengetahui berapa jumlah sampah yang hari ini dikumpulkan oleh warga.
"Kami juga buat produk daur ulang . Ada tas, sepatu, vas bunga, taplak meja, sampai pernak-pernik yang dipakai untuk souvenir," ucapnya. Baca juga: Bandar Lampung Gempar, Pria Bertato Ditembak Polisi Usai Setubuhi Anak Tirinya
Dari sampah itu, katanya, para warga seperti menemukan tambang emas. Pasalnya, mereka bisa berpenghasilan dari sampah yang selama ini dianggap tak memiliki nilai guna. Apalagi sampah-sampah itu bertahun-tahun lalu selalu membuat kotor dan merusak kawasan Pamurbaya.
"Ketika setor sampah para warga bisa dapat uang dan memakainya untuk keperluan hidup setiap hari. Sampah yang terkumpul diantaranya plastik, seng, kayu, kardus, serta jenis sampah lainnya dikelompokkan sesuai jenisnya," katanya.
![Benderang Pertahanan Terakhir Kota dari Sampah]()
Sampah yang bisa didaur ulang langsung digunakan, serta sebagian lagi disetor ke pengepul besar. Uang yang diperoleh dari sampah bisa menambah biaya kebutuhan rumah tanga. Sampah-sampah yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan untuk banyak keperluan. sampah yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk membayar biaya listrik PLN, untuk simpan pinjam, biaya anak sekolah, serta untuk berobat bagi yang sakit.
Selama ini mayoritas warga kampung Gunung Anyar Tambak berprofesi sebagai nelayan, mereka menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan di laut. Namun perubahan iklim maupun cuaca yang kurang bersahabat membuat nelayan beserta keluarganya tidak selalu mendapatkan hasil ekonomi dari kegiatan melaut.
Baca juga: Tidak Terima Ditegur Parkir Angkot Depan Apotik, Seorang Dokter Dianiaya dengan Sajam
Kesadaran masyarakat termasuk nelayan akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menjadikan nelayan juga ikut terlibat mengumpulkan sampah plastik yang juga terdapat di laut dan muara suangai. Gayung pun bersambut, keinginan kuat untuk menjaga lingkungan bisa menambah pundi rupiah para nelayan yang mengambil sampah di sekitaran Pamurbaya.
"Nelayan kan berangkat ke laut mencari ikan, kalau memang di sana itu ikannya sepi dan mereka pulang tidak mendapatkan ikan, maka mereka langsung mencari sampah di laut. Jadi pulang mereka bawa sampah, kemudian kita timbang di sini," kata Kusniyati sembari menunjukan sampah-sampah yang diperoleh dari sungai.
Para warga yang berada di kampung nelayan sebelumnya berada di garis kemiskinan . Mereka mengantungkan nasib dari tangkapan ikan sebagai penakluk samudra. Beberapa warga juga menjemur ikan asin yang digunakan untuk menyambung hidup. Lokasi kampung berdekatan dengan muara sungai yang membatasi wilayah Kota Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo.
Baca juga: Dramatis Penyelamatan Ibu dan Bayi yang Baru Dilahirkan dari Banjir di Lumajang
Dari muara sungai itu terbentang hutan mangrove yang terlihat hijau dan terjaga habitat di sekitarnya. Ketika ada bank sampah, para nelayan benar-benar bisa berfungsi ganda, mereka bisa mencari ikan sekaligus mencari sampah. Kini, terlihat di sepanjang muara yang ditumbuhi tanaman mangrove terlihat bersih dari sampah. Para nelayan juga sibuk menumpuk sampah plastik dan sampah jenis lainnya untuk dijual ke Bank Sampah Bintang Mangrove.
"Kalau dapat sampah bisa memperoleh uang tambahan, nggak terlalu sulit kok, dan senang juga bisa melihat muara di sekitar mangrove bersih . Ikan juga bisa terus bertambah kalau airnya terjaga," kata Qodari, salah satu nelayan. Baca juga: Kasus Penghinaan Pesantren Musthafawiyah Mandek, Kuasa Hukum Lapor Mabes Polri
Tercatat, para nelayan serta warga kampung Gunung Anyar Tambak dalam satu bulan mampu mengumpulkan sampah hingga dua ton yang kebanyakan merupakan sampah plastik yang diperoleh dari sungai dan laut.
Keberadaan sampah plastik yang banyak mencemari lingkungan, khususnya di sekitar hutan mangrove Gunung Anyar, merupakan ancaman terbesar kerusakan ekosistem mangrove maupun ekosistem lain yang lebih luas bila tidak segera ditangani. Sampah plastik yang ada di sungai atau laut banyak tertahan oleh akar Mangrove, yang itu menyebabkan banyak Mangrove yang masih muda tidak dapat berkembang dengan baik.
Baca juga: Pergerakan Tanah Meluas di Purwakarta, Jumlah Rumah Rusak Terus Bertambah
"Kami juga buat produk daur ulang . Ada tas, sepatu, vas bunga, taplak meja, sampai pernak-pernik yang dipakai untuk souvenir," ucapnya. Baca juga: Bandar Lampung Gempar, Pria Bertato Ditembak Polisi Usai Setubuhi Anak Tirinya
Dari sampah itu, katanya, para warga seperti menemukan tambang emas. Pasalnya, mereka bisa berpenghasilan dari sampah yang selama ini dianggap tak memiliki nilai guna. Apalagi sampah-sampah itu bertahun-tahun lalu selalu membuat kotor dan merusak kawasan Pamurbaya.
"Ketika setor sampah para warga bisa dapat uang dan memakainya untuk keperluan hidup setiap hari. Sampah yang terkumpul diantaranya plastik, seng, kayu, kardus, serta jenis sampah lainnya dikelompokkan sesuai jenisnya," katanya.

Sampah yang bisa didaur ulang langsung digunakan, serta sebagian lagi disetor ke pengepul besar. Uang yang diperoleh dari sampah bisa menambah biaya kebutuhan rumah tanga. Sampah-sampah yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan untuk banyak keperluan. sampah yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk membayar biaya listrik PLN, untuk simpan pinjam, biaya anak sekolah, serta untuk berobat bagi yang sakit.
Selama ini mayoritas warga kampung Gunung Anyar Tambak berprofesi sebagai nelayan, mereka menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan di laut. Namun perubahan iklim maupun cuaca yang kurang bersahabat membuat nelayan beserta keluarganya tidak selalu mendapatkan hasil ekonomi dari kegiatan melaut.
Baca juga: Tidak Terima Ditegur Parkir Angkot Depan Apotik, Seorang Dokter Dianiaya dengan Sajam
Kesadaran masyarakat termasuk nelayan akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menjadikan nelayan juga ikut terlibat mengumpulkan sampah plastik yang juga terdapat di laut dan muara suangai. Gayung pun bersambut, keinginan kuat untuk menjaga lingkungan bisa menambah pundi rupiah para nelayan yang mengambil sampah di sekitaran Pamurbaya.
"Nelayan kan berangkat ke laut mencari ikan, kalau memang di sana itu ikannya sepi dan mereka pulang tidak mendapatkan ikan, maka mereka langsung mencari sampah di laut. Jadi pulang mereka bawa sampah, kemudian kita timbang di sini," kata Kusniyati sembari menunjukan sampah-sampah yang diperoleh dari sungai.
Para warga yang berada di kampung nelayan sebelumnya berada di garis kemiskinan . Mereka mengantungkan nasib dari tangkapan ikan sebagai penakluk samudra. Beberapa warga juga menjemur ikan asin yang digunakan untuk menyambung hidup. Lokasi kampung berdekatan dengan muara sungai yang membatasi wilayah Kota Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo.
Baca juga: Dramatis Penyelamatan Ibu dan Bayi yang Baru Dilahirkan dari Banjir di Lumajang
Dari muara sungai itu terbentang hutan mangrove yang terlihat hijau dan terjaga habitat di sekitarnya. Ketika ada bank sampah, para nelayan benar-benar bisa berfungsi ganda, mereka bisa mencari ikan sekaligus mencari sampah. Kini, terlihat di sepanjang muara yang ditumbuhi tanaman mangrove terlihat bersih dari sampah. Para nelayan juga sibuk menumpuk sampah plastik dan sampah jenis lainnya untuk dijual ke Bank Sampah Bintang Mangrove.
"Kalau dapat sampah bisa memperoleh uang tambahan, nggak terlalu sulit kok, dan senang juga bisa melihat muara di sekitar mangrove bersih . Ikan juga bisa terus bertambah kalau airnya terjaga," kata Qodari, salah satu nelayan. Baca juga: Kasus Penghinaan Pesantren Musthafawiyah Mandek, Kuasa Hukum Lapor Mabes Polri
Tercatat, para nelayan serta warga kampung Gunung Anyar Tambak dalam satu bulan mampu mengumpulkan sampah hingga dua ton yang kebanyakan merupakan sampah plastik yang diperoleh dari sungai dan laut.
Keberadaan sampah plastik yang banyak mencemari lingkungan, khususnya di sekitar hutan mangrove Gunung Anyar, merupakan ancaman terbesar kerusakan ekosistem mangrove maupun ekosistem lain yang lebih luas bila tidak segera ditangani. Sampah plastik yang ada di sungai atau laut banyak tertahan oleh akar Mangrove, yang itu menyebabkan banyak Mangrove yang masih muda tidak dapat berkembang dengan baik.
Baca juga: Pergerakan Tanah Meluas di Purwakarta, Jumlah Rumah Rusak Terus Bertambah
Lihat Juga :