Waspada, Cedera Kepala Dominan Menyerang Usia Produktif
Kamis, 18 Februari 2021 - 09:19 WIB
loading...
Dokter spesialis bedah saraf Siloam Hospitals Jambi, dr Ronny Setiawan SpBS (kanan). Foto/Ist
A
A
A
JAMBI - Cedera kepala (trauma kepala) merupakan kondisi struktur kepala mengalami benturan dan berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi otak . Beberapa kondisi pada cedera kepala meliputi luka ringan, memar di kulit kepala, bengkak, perdarahan, dislokasi, patah tulang tengkorak dan gegar otak.
Selain itu, cedera kepala juga dapat dibedakan menjadi cedera kepala terbuka dan tertutup. Cedera kepala terbuka adalah apabila cedera menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak sehingga mengenai jaringan otak. Sedangkan cedera kepala tertutup adalah bila cedera yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak, dan tidak mengenai otak secara langsung. (Baca juga: Pentingnya Stimulasi Dini pada Anak agar Tak Alami Fase Penghapusan Sel Otak )
Dokter spesialis bedah saraf Siloam Hospitals Jambi, dr Ronny Setiawan SpBS, mengatakan, meskipun cedera kepala dapat terjadi pada semua orang, risiko cedera kepala dapat meningkat saat seseorang sedang dalam usia produktif dan aktif seperti 15-24 tahun, atau lanjut usia (lansia) berusia 75 tahun ke atas. (Baca juga: Saat Olahraga, Pemanasan Penting Dilakukan agar Tak Cedera )
"Bayi yang baru lahir juga rentan mengalami kondisi ini hingga berusia 5 tahun," kata Ronny Setiawan, Rabu (17/2/2021) melalui live Instagram program edukasi kesehatan yang diadakan manajemen Siloam Hospitals Jambi.
Secara umum kasus cedera kepala yang menyebabkan kematian akibat kecelakaan lalulintas masih sangat tinggi, khususnya di Jambi setiap hari ditemukan satu kejadian meninggal dan di Indonesia angka kematian akibat kecelakaan lalulintas per hari mencapai sekitar 70 korban jiwa.
Melalui penjelasannya, dokter Ronny Setiawan menjelaskan tiga kategori, cedera kepala. Yaitu, cedera kepala ringan (geger otak) dengan gejalanya berupa pusing mual dan lupa saat kejadian. Kemudian cedera kepala sedang dengan gejalanya berupa gelisah, pusing hebat, muntah, dan bicara tidak jelas. Lalu cedera kepala berat dengan gejalanya berupa tidak sadar (pingsan), nadi lemah, napas pendek, tangan dan kaki dingin.
"Tidak semua cedera kepala harus dilakukan operasi atau tindakan pembedahan. Bisa dilakukan observasi terlebih dahulu setelah diketahui hasilnya baru bisa dilakukan tindakan pembedahan atau hanya diberikan obat-obatan,"
kata Ronny.
Selain itu, cedera kepala juga dapat dibedakan menjadi cedera kepala terbuka dan tertutup. Cedera kepala terbuka adalah apabila cedera menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak sehingga mengenai jaringan otak. Sedangkan cedera kepala tertutup adalah bila cedera yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak, dan tidak mengenai otak secara langsung. (Baca juga: Pentingnya Stimulasi Dini pada Anak agar Tak Alami Fase Penghapusan Sel Otak )
Dokter spesialis bedah saraf Siloam Hospitals Jambi, dr Ronny Setiawan SpBS, mengatakan, meskipun cedera kepala dapat terjadi pada semua orang, risiko cedera kepala dapat meningkat saat seseorang sedang dalam usia produktif dan aktif seperti 15-24 tahun, atau lanjut usia (lansia) berusia 75 tahun ke atas. (Baca juga: Saat Olahraga, Pemanasan Penting Dilakukan agar Tak Cedera )
"Bayi yang baru lahir juga rentan mengalami kondisi ini hingga berusia 5 tahun," kata Ronny Setiawan, Rabu (17/2/2021) melalui live Instagram program edukasi kesehatan yang diadakan manajemen Siloam Hospitals Jambi.
Secara umum kasus cedera kepala yang menyebabkan kematian akibat kecelakaan lalulintas masih sangat tinggi, khususnya di Jambi setiap hari ditemukan satu kejadian meninggal dan di Indonesia angka kematian akibat kecelakaan lalulintas per hari mencapai sekitar 70 korban jiwa.
Melalui penjelasannya, dokter Ronny Setiawan menjelaskan tiga kategori, cedera kepala. Yaitu, cedera kepala ringan (geger otak) dengan gejalanya berupa pusing mual dan lupa saat kejadian. Kemudian cedera kepala sedang dengan gejalanya berupa gelisah, pusing hebat, muntah, dan bicara tidak jelas. Lalu cedera kepala berat dengan gejalanya berupa tidak sadar (pingsan), nadi lemah, napas pendek, tangan dan kaki dingin.
"Tidak semua cedera kepala harus dilakukan operasi atau tindakan pembedahan. Bisa dilakukan observasi terlebih dahulu setelah diketahui hasilnya baru bisa dilakukan tindakan pembedahan atau hanya diberikan obat-obatan,"
kata Ronny.
Lihat Juga :