20 Ribu Peserta Himpun 122.554 Pantun, Jambi Ukir Rekor Baru
Kamis, 08 Januari 2026 - 07:37 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Gerakan Jambi Berpantun resmi mencatatkan namanya dalam sejarah nasional setelah berhasil meraih Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kumpulan pantun terbanyak.
Sebanyak 122.554 pantun dihimpun dari 20.375 peserta yang turut berpartisipasi dalam gerakan pelestarian budaya Melayu tersebut. Gerakan Jambi Berpantun merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga pantun sebagai warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra lisan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter, perekat sosial, serta cerminan nilai-nilai budaya Melayu Jambi.
Ketua Tim Pengerak PKK Provinsi Jambi Hesti Haris menerima secara langsung piagam Rekor MURI sekaligus menyerahkan draf buku kumpulan 122.554 pantun hasil Gerakan Jambi Berpantun kepada Gubernur Jambi, Al Haris, sebagai simbol warisan budaya yang lahir dari partisipasi masyarakat Jambi.
Hesnidar Haris menyatakan bahwa Gerakan Jambi Berpantun merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga pantun sebagai warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa pantun tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra lisan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter, perekat sosial, serta cerminan nilai-nilai budaya Melayu Jambi.
"Pantun Melayu Jambi sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2015, dan pada tahun 2020 menjadi bagian dari kumpulan pantun se- Indonesia yang memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Takbenda Dunia). Pengakuan tersebut semakin memperkuat posisi pantun sebagai identitas budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan," ujarnya.
Gubernur Jambi Al Haris menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa pantun memiliki nilai filosofis yang sangat dalam dan menjadi identitas penting bagi masyarakat Melayu.
“Pantun ini tercatat dalam Rekor MURI, dan insya Allah menjadi semangat bagi kita semua. Pantun adalah kiasan dalam bertutur kata sejak dahulu, penuh makna dan nilai. Ini penting bagi negeri Melayu kita dan harus terus kita budayakan,” ujar Al Haris.
Sebanyak 122.554 pantun dihimpun dari 20.375 peserta yang turut berpartisipasi dalam gerakan pelestarian budaya Melayu tersebut. Gerakan Jambi Berpantun merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga pantun sebagai warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra lisan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter, perekat sosial, serta cerminan nilai-nilai budaya Melayu Jambi.
Ketua Tim Pengerak PKK Provinsi Jambi Hesti Haris menerima secara langsung piagam Rekor MURI sekaligus menyerahkan draf buku kumpulan 122.554 pantun hasil Gerakan Jambi Berpantun kepada Gubernur Jambi, Al Haris, sebagai simbol warisan budaya yang lahir dari partisipasi masyarakat Jambi.
Hesnidar Haris menyatakan bahwa Gerakan Jambi Berpantun merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga pantun sebagai warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa pantun tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra lisan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter, perekat sosial, serta cerminan nilai-nilai budaya Melayu Jambi.
"Pantun Melayu Jambi sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2015, dan pada tahun 2020 menjadi bagian dari kumpulan pantun se- Indonesia yang memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Takbenda Dunia). Pengakuan tersebut semakin memperkuat posisi pantun sebagai identitas budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan," ujarnya.
Gubernur Jambi Al Haris menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa pantun memiliki nilai filosofis yang sangat dalam dan menjadi identitas penting bagi masyarakat Melayu.
“Pantun ini tercatat dalam Rekor MURI, dan insya Allah menjadi semangat bagi kita semua. Pantun adalah kiasan dalam bertutur kata sejak dahulu, penuh makna dan nilai. Ini penting bagi negeri Melayu kita dan harus terus kita budayakan,” ujar Al Haris.
Lihat Juga :