Tangis Syukur Raudah, Mimpi 30 Tahun Punya Rumah Genteng Akhirnya Terwujud
Selasa, 19 Mei 2026 - 07:06 WIB
loading...
Raudah di depan rumahnya yang telah direnovasi melalui Program TMMD ke-128 Kodim 0420/Sarko. FOTO/IST
A
A
A
SOROLANGUN - Tangis itu pecah di sudut rumah baru bercat sederhana di Desa Seko Besar, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Di hadapan dinding kokoh dan atap genteng yang baru terpasang, tangan renta Ibu Raudah (58) berkali-kali terangkat ke langit. Bibirnya tak henti mengucap syukur.
"Terima kasih Pak Presiden… akhirnya mimpi saya punya rumah genteng terkabul," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Bagi banyak orang, rumah mungkin hanya bangunan tempat berteduh. Namun bagi Raudah dan suaminya, Lukman (60), rumah layak adalah mimpi panjang yang nyaris tak pernah berani mereka bayangkan.
Hampir tiga dekade lalu, tepatnya tahun 1997, pasangan ini datang ke Desa Seko Besar sebagai peserta transmigrasi dari Kabupaten Kerinci. Mereka datang membawa harapan: tanah baru, kehidupan baru, dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Tetapi hidup ternyata tak semudah janji masa depan. Di desa yang kala itu masih terisolasi, Lukman membangun rumah sederhana berdinding papan dengan atap seng tua yang bocor di sana-sini. Ketika hujan turun deras, air menetes ke dalam rumah. Saat matahari menyengat, seng memantulkan panas seperti bara.
Di rumah itulah mereka membesarkan empat anak. Untuk bertahan hidup, Pak Lukman mengandalkan kebun karet. Malam hari, ia mengajar mengaji anak-anak kampung. Penghasilannya tak seberapa. Akses jalan yang buruk membuat hasil kebun sering sulit dijual.
"Kadang hasil karet tidak laku karena jalan susah dilewati," kenang Raudah.
"Terima kasih Pak Presiden… akhirnya mimpi saya punya rumah genteng terkabul," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Bagi banyak orang, rumah mungkin hanya bangunan tempat berteduh. Namun bagi Raudah dan suaminya, Lukman (60), rumah layak adalah mimpi panjang yang nyaris tak pernah berani mereka bayangkan.
Hampir tiga dekade lalu, tepatnya tahun 1997, pasangan ini datang ke Desa Seko Besar sebagai peserta transmigrasi dari Kabupaten Kerinci. Mereka datang membawa harapan: tanah baru, kehidupan baru, dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Tetapi hidup ternyata tak semudah janji masa depan. Di desa yang kala itu masih terisolasi, Lukman membangun rumah sederhana berdinding papan dengan atap seng tua yang bocor di sana-sini. Ketika hujan turun deras, air menetes ke dalam rumah. Saat matahari menyengat, seng memantulkan panas seperti bara.
Di rumah itulah mereka membesarkan empat anak. Untuk bertahan hidup, Pak Lukman mengandalkan kebun karet. Malam hari, ia mengajar mengaji anak-anak kampung. Penghasilannya tak seberapa. Akses jalan yang buruk membuat hasil kebun sering sulit dijual.
"Kadang hasil karet tidak laku karena jalan susah dilewati," kenang Raudah.
Lihat Juga :