Cerita Pagi

Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran

loading...
Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran
Suasana Cagar Alam Pangandaran di Desa Pananjung, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran yang dulunya merupakan hutan buru pada 1930. Foto/SINDOnews/Syamsul Maarif
Punahnya banteng di lokasi hutan buru warisan penjajah Belanda yang kini jadi Cagar Alam Pangandaran terjadi usai letusan Gunung Galunggung, Tasikmalaya.

Baca juga: Kisah Karomah Syekh Hasanuddin Al-Palembani, Panglima Kawah Tekurep

Cagar alam yang berlokasi di Desa Pananjung, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat merupakan salah satu warisan Belanda yang dulunya merupakan hutan buru di tahun 1930.

Baca juga: Samudra Pasai, Kerajaan Islam Pertama yang Pernah Memukul Mundur Pasukan Majapahit

Warga Pangandaran, Usman mengatakan, satwa yang berada di Cagar Alam Pangandaran didatangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda yakni rusa dan banteng Jawa (bos javanicus) pada 1934.
Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran

Foto/SINDOnews/Syamsul Ma'arif



"Hingga kini koleksi rusa masih lestari sementara banteng menurut informasi sudah tidak ada lagi," kata Usman. Cerita orang tua dahulu, tambah Usman, pelepasan banteng dan rusa sebanyak 80 ekor. Populasinya bagus dan terjaga sampai 1982.

"Setelah Gunung Galunggung Tasikmalaya meletus pada tahun 1982, populasinya menurun karena pakan alami dan sumber air tertimbun abu vulkanik," ungkapnya.
Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran

Foto/disparbud.jabarprov.go.id

Upaya petugas membuat bak air minum dan memberikan rumput dari luar untuk pakan juga tidak membuahkan hasil lantaran banteng di Pangandaran tidak menyukai pakan pemberian manusia.



Kejadian abu vulkanik Gunung Galunggung yang menimbun pakan banteng di Cagar Alam Pangandaran terjadi hampir 8 bulan hingga akhirnya populasi satwa menurun drastis.
Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran

Foto/disparbud.jabarprov.go.id

Usman menuturkan, sekitar tahun 1997 banteng masih terpantau di lokasi Cagar Alam, tetapi sekarang sudah tidak ada sama sekali.

Luas keseluruhan area lahan Cagar Alam Pananjung mencapai 1.000 hektare yang terdiri dari 37,7 hektare sebagai Taman Wisata Alam (TWA) sisanya sebagai Cagar Alam Pananjung dibagi menjadi dua kawasan yaitu Cagar Alam seluas 419,3 hektare dan area Cagar Alam Laut seluas 470 hektare.
Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran

Foto/disparbud.jabarprov.go.id

"Kawasan TWA sendiri dikelola oleh Perum Perhutani dan kawasan Cagar Alam di bawah pengelolaan BKSDA," kata Usman (55) terang Usman.
Kisah Tragis Punahnya Banteng di Hutan Buru Belanda Cagar Alam Pangandaran

Foto/disparbud.jabarprov.go.id

Sebagai pengganti banteng yang punah, tahun 2003 dipopulasikan delapan ekor sapi Bali. Sapi Bali dipilih karena bentuknya mirip dengan banteng.

"Kini panorama banteng tinggal kenangan, harapan saya di Cagar Alam kembali ada banteng sebagai sarana edukasi untuk masyarakat," pungkasnya.
(shf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top