Pasien Positif COVID-19 Blitar Lebih Suka Isoman, Ini Akibatnya
Senin, 18 Januari 2021 - 20:43 WIB
loading...
ilustrasi
A
A
A
BLITAR - Sebagian besar pasien positif COVID-19 di Kabupaten Blitar lebih memilih menjalani isolasi mandiri (isoman) daripada berada di rumah karantina yang disediakan pemerintah. Sesuai data Tim Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Blitar, jumlah pasien positif yang menjalani isolasi mandiri hingga Senin (18/1), mencapai 211 pasien atau 46 %.
Menurut Juru Bicara Tim Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Blitar Krisna Yekti, pemantauan terhadap pasien isolasi mandiri lebih sulit dilakukan. "Karena banyak yang kurang mematuhi protokol, sehingga klaster keluarga tinggi," ujar Krisna Yekti kepada wartawan. Total jumlah pasien positif di Kabupaten Blitar pada 18 Januari sebanyak 461 pasien.
Baca juga: Ketua DPRD Madiun Sebut Sekwan Positif COVID-19, Semua Anggota Dewan Swab
Selain 211 pasien yang diantaranya memilih isolasi mandiri, dari jumlah 461 tersebut, yang menjalani isolasi di pesantren tangguh sebanyak 68 pasien. Kemudian isolasi di gedung isolasi LEC Garum 28 pasien, di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar 41 pasien, RSUD Ngudi Waluyo 39 pasien, RSI Aminah 14 pasien dan RSUD Srengat 8 pasien.
Krisna Yekti mengatakan, mereka yang selalu meminta isolasi mandiri rata rata pasien positif tanpa gejala atau OTG (Orang Tanpa Gejala). Mereka memilih isolasi mandiri karena merasa lebih nyaman. Mereka juga tidak bersedia menjalani isolasi di rumah sakit. Padahal, kata Krisna Yekti, kontrol dan penanganan di rumah karantina yang disediakan pemerintah, jelas lebih baik.
Menurut Juru Bicara Tim Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Blitar Krisna Yekti, pemantauan terhadap pasien isolasi mandiri lebih sulit dilakukan. "Karena banyak yang kurang mematuhi protokol, sehingga klaster keluarga tinggi," ujar Krisna Yekti kepada wartawan. Total jumlah pasien positif di Kabupaten Blitar pada 18 Januari sebanyak 461 pasien.
Baca juga: Ketua DPRD Madiun Sebut Sekwan Positif COVID-19, Semua Anggota Dewan Swab
Selain 211 pasien yang diantaranya memilih isolasi mandiri, dari jumlah 461 tersebut, yang menjalani isolasi di pesantren tangguh sebanyak 68 pasien. Kemudian isolasi di gedung isolasi LEC Garum 28 pasien, di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar 41 pasien, RSUD Ngudi Waluyo 39 pasien, RSI Aminah 14 pasien dan RSUD Srengat 8 pasien.
Krisna Yekti mengatakan, mereka yang selalu meminta isolasi mandiri rata rata pasien positif tanpa gejala atau OTG (Orang Tanpa Gejala). Mereka memilih isolasi mandiri karena merasa lebih nyaman. Mereka juga tidak bersedia menjalani isolasi di rumah sakit. Padahal, kata Krisna Yekti, kontrol dan penanganan di rumah karantina yang disediakan pemerintah, jelas lebih baik.
Lihat Juga :