Hidup dari Menjual Tulisan, Fauzan Kini Jadi Ketua Fraksi dan Bendahara PKB Jatim
Kamis, 14 Januari 2021 - 18:08 WIB
loading...
A
A
A
“Dulu dapat honor Rp50 ribu sudah senang sekali. Bisa buat makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Fauzan, Kamis (14/1/2021).
Setiap malam ia selalu bergadang, menulis rangkaian opini yang disusunnya secara rapi. Pagi hari, ia bergegas mengirimnya ke kantor redaksi berbagai media. Ia belum bisa makan ketika belum ada kabar pengiriman honor. Perutnya seperti memahami betul bagaimana kondisinya waktu itu.
Sejak kecil, Fauzan sudah terdidik untuk menjalani kehidupan yang keras dan mandiri. Kedua orangtuanya waktu itu harus menghidupi tujuh anak dengan penghasilan sebagai tukang ojek. Sementara ibunya membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kopi.
Kampung halamannya berada di Desa Jatirenggo, Glagah, Lamongan, sebuah kawasan terpencil yang sebagian besar masyarakatnya menekuni profesi sebagai petani. Sisanya adalah para perantau yang mengadu nasib sebagai pedagang di luar kota.
Di jalanan itu pun ia terdidik dengan matang. Memahami kebutuhan utama masyarakat dan menyerap semua sisi kehidupan. Dengan menjual ide dan gagasan melalui tulisan, Fauzan sempat terpuruk ketika tak ada satu pun media yang memuat opininya. Kehidupan di perantauan membuatnya harus bisa bertahan hidup. “Pernah dua hari tidak makan, dan tidak tidur berhari-hari untuk terus menulis opini,” jelasnya.
Perkenalannya dengan politik dimulai ketika dirinya diserahi amanah sebagai Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Malang. Dinamika pergerakan membentuknya menjadi anak muda yang berpikir lebih kritis dan berani.
Dari ceruk pergerakan itu, ia menyerap begitu banyak keinginan masyarakat serta kesulitan yang mereka hadapi. Baik di sektor pertanian, perikanan, perburuhan sampai ekonomi kreatif yang bisa dibangun untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
“Rasanya tidak terbayang, dulu itu ketika masih jadi mahasiswa takut sekali kalau mau masuk ke kantor PKB Jatim, karena tidak ada yang kenal. Menoleh kanan dan kiri nggak tahu apa-apa. Lha, sekarang malah jadi Bendahara DPW PKB,” jelasnya.
Setiap malam ia selalu bergadang, menulis rangkaian opini yang disusunnya secara rapi. Pagi hari, ia bergegas mengirimnya ke kantor redaksi berbagai media. Ia belum bisa makan ketika belum ada kabar pengiriman honor. Perutnya seperti memahami betul bagaimana kondisinya waktu itu.
Sejak kecil, Fauzan sudah terdidik untuk menjalani kehidupan yang keras dan mandiri. Kedua orangtuanya waktu itu harus menghidupi tujuh anak dengan penghasilan sebagai tukang ojek. Sementara ibunya membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kopi.
Kampung halamannya berada di Desa Jatirenggo, Glagah, Lamongan, sebuah kawasan terpencil yang sebagian besar masyarakatnya menekuni profesi sebagai petani. Sisanya adalah para perantau yang mengadu nasib sebagai pedagang di luar kota.
Di jalanan itu pun ia terdidik dengan matang. Memahami kebutuhan utama masyarakat dan menyerap semua sisi kehidupan. Dengan menjual ide dan gagasan melalui tulisan, Fauzan sempat terpuruk ketika tak ada satu pun media yang memuat opininya. Kehidupan di perantauan membuatnya harus bisa bertahan hidup. “Pernah dua hari tidak makan, dan tidak tidur berhari-hari untuk terus menulis opini,” jelasnya.
Perkenalannya dengan politik dimulai ketika dirinya diserahi amanah sebagai Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Malang. Dinamika pergerakan membentuknya menjadi anak muda yang berpikir lebih kritis dan berani.
Dari ceruk pergerakan itu, ia menyerap begitu banyak keinginan masyarakat serta kesulitan yang mereka hadapi. Baik di sektor pertanian, perikanan, perburuhan sampai ekonomi kreatif yang bisa dibangun untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
“Rasanya tidak terbayang, dulu itu ketika masih jadi mahasiswa takut sekali kalau mau masuk ke kantor PKB Jatim, karena tidak ada yang kenal. Menoleh kanan dan kiri nggak tahu apa-apa. Lha, sekarang malah jadi Bendahara DPW PKB,” jelasnya.
Lihat Juga :